St. Marsiaman Saragih, S.H.
Penatua Gereja dan Anggota Komisi III DPR-RI dari PDI Perjuangan

1201 dibaca
St. Marsiaman Saragih, S.H. Pejuang dan nasionalis.

Beritanarwastu.com. Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara (Sumut), 15 Maret 1952 ini adalah figur petarung. Dia tak kenal menyerah di panggung politik. Dia pernah jadi Calon Wali Kota Pematang Siantar pada tahun 2000 yang didukung PDI Perjuangan, Caleg DPR-RI PDI Perjuangan dari Dapil Sumut III (2004), Caleg DPR-RI dari Dapil Riau II (2009), dan baru di Pemilu 2014 ia berhasil menjadi anggota DPR-RI dari Dapil Riau 2. Meskipun menghadapi banyak tantangan dan rintangan di dunia politik, namun St. Marsiaman Saragih, S.H. sudah membuktikan dia seorang kader PDI Perjuangan yang tangguh, pejuang, nasionalis dan peduli rakyat.

Selain seorang kader partai dan anggota DPR-RI di Komisi III, siapa sangka ternyata Marsiaman, yang akrab disapa Bang Marsiaman, adalah seorang sintua (penatua) di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Salemba, Jakarta Pusat. Sejak kecil Marsiaman memang sudah dididik orangtuanya dalam kehidupan Kristen yang taat. Tak heran, ia sejak kecil rajin bersekolah minggu atau beribadah di gereja. Bahkan, pada 1969-1972 ia dipercaya sebagai Ketua Pemuda HKBP di Banda Aceh. Dan sebelumnya saat SMP di Pematang Siantar ia aktif di Gereja Pentakosta.

“Saya tidak jauh-jauh dari aktivitas gereja, karena sejak kecil saya sudah aktif di gereja,” ujar Marsiaman yang sejak muda sudah hobi berorganisasi. Hingga dia berkeluarga aktivitas gereja menjadi bagian dari kehidupannya. “Kalau kita aktif di gereja, di situ ada keseimbangan hidup. Kalau Senin sampai Sabtu kita berjuang untuk pekerjaan, maka pada hari Minggu kita bisa menetralisir segala apa yang kita lalui, apakah suka cita maupun dukacita dengan aktivitas ibadah. Saya juga ikut koor di gereja,” ujar ayah tiga anak dan suami tercinta Korlina Purba, SKM yang sudah punya cucu ini.

Selama ini, selain aktif di partai politik (parpol), Marsiaman dikenal konsultan hukum dan dosen Politehnik Astra, Jakarta. Semasa muda ia pernah dipercaya sebagai Ketua Rayon KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) di Pematang Siantar (1966), anggota penegak Pramuka di Banda Aceh (1969-1972), anggota Persatuan Alumni GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) di Fakultas Hukum UI, Jakarta (1983), Ketua Organ Litsus Honda Group Jakarta (1991-2004), Ketua Bidang Tenaga Kerja Persatuan Assembling Sepeda Motor Indonesia (1995-2000), dan Wakil Sekretaris Badan Pembina SMU Plus Sondi Raya Simalungun (1996-2001).

Sejak 1999 hingga sekarang ia dipercaya sebagai Sekretaris Badan Kesehatan GKPS, anggota PDI Perjuangan sejak 1999 hingga sekarang, anggota Bidang Dana Komisi Tinju Indonesia (KTI) pada 2000-2005, Sekjen DPP FPBTNI (Front Perjuangan Buruh, Tani dan Nelayan Indonesia) 2003-sekarang, dan pada 2005-2010 dipercaya sebagai Ketua Bidang Politik dan Otda Presidium Partuha Maujana Simalungun (Jakarta). Dan sekarang ia tergabung dalam Kantor Hukum Saragih & Saragih.

Menurut Marsiaman, kalau saat ini ia ditahbiskan menjadi sintua di GKPS Salemba, karena memang sudah sejak lama ia bergaul di tengah jemaat gereja tersebut. “Karena saya bukan anggota ‘Gereja Keliling Jakarta’,” ujarnya tertawa. Menurutnya, ia datang ke gereja bukan hanya untuk beribadah atau dengar khotbah pendeta, namun di gereja ia bisa melihat suka duka jemaat, dan ikut sermon di gereja. “Di sana ada jadwal pelayanan dan ada pembagian tugas formal yang saya ikuti,” ujar pria yang ikut dalam tim penyusun buku “Jejak Langkah 27 Tahun PDI ke PDI Perjuangan” pada tahun 2000.

Marsiaman yang pernah dipercaya pada 2003 sebagai Kepala Biro Kampanye PAPPUSAT PDI Perjuangan-Pemilu 2004, panitia Kongres II PDI Perjuangan di Bali (2005), Tim Finalisasi Hasil Kongres II Bali di Yogyakarta (2005), panitia Rakernas II dan Rakornas PDI Perjuangan di Jakarta (2007), Desk Pilkada DPP PDI Perjuangan (2011) dan panitia HUT ke-40 PDI Perjuangan (2013) menuturkan, PDI Perjuangan adalah partai nasionalis, sehingga ia tertarik bergabung di situ. “PDI Perjuangan itu nasionalis, sehingga tidak ada pembeda-bedaan suku, agama dan ras,” tukasnya.

“Sepanjang itu rakyat Indonesia, maka kita sebagai kader PDI Perjuangan akan memperjuangkannya,” ujar Marsiaman yang dulu di GMNI seangkatan dengan mantan aktivis PDI Perjuangan Roy B.B. Janis. Menurutnya, ia aktif berorganisasi, karena ia tidak mau menyendiri. “Saya orangnya suka bergaul dan ingin bekerja secara tim. Di organisasi kita dibina agar bisa bekerja secara tim, bukan egois. Juga di organisasi kita dilatih agar bisa memimpin kelompok, serta dibina agar bisa memimpin dan dipimpin,” ujar Ketua Panitia Jubileum 100 Tahun GKPS di Jakarta (2003) ini.

Terkait dengan aktivitasnya sekarang sebagai wakil rakyat, Marsiaman menerangkan, ia kini bersama para wakil rakyat terus berjuang untuk mensosialisasikan empat pilar persatuan bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum Indonesia. Azas dan pondasi dari bangsa ini adalah Pancasila. Empat pilar itu adalah penopang bangsa kita. Kalau itu goyang di tengah bangsa ini, maka yang lain akan ikut goyang,” papar Koordinator Relawan Jokowi-JK di Provinsi Riau (2014) dan aktif di tim Mega-Prabowo di Sumut (2009) dan tim Mega-Hashim di Sumut (2004) itu.

Dalam pandangan Marsiaman, bentuk negara Indonesia adalah kesatuan, konstitusi yang digunakan adalah UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. “Jadi kalau kita gabung empat pilar itu, bangsa ini sangat kuat. Biarpun bangsa kita berbeda secara suku dan agama tetap satu. Jadi ini perlu ditanamkan kepada masyarakat berulang-ulang, dan bangsa yang luas ini dari Sabang sampai Merauke harus bisa dipersatukan. Empat pilar ini adalah perekat bangsa kita. Kita patut bersyukur, karena dalam proses pembentukan bangsa ini Tuhan campur tangan, Dia begitu baik bagi Indonesia,” ujarnya.

Pendiri bangsa ini, ujarnya, sudah memahami, merenungkan dan menghayati kalau negara ini berdiri, maka harus hidup toleran. “Makanya empat pilar itu terus disosialisasikan, jangan sampai ditonjolkan perbedaan. Namun di sisi lain, kita mesti hargai kearifan lokal di negeri ini. Jangan mentang-mentang kita mayoritas di sebuah wilayah, lalu kita bersikap sewenang-wenang. Itu tidak bijaksana. Kita harus redam radikalisme di tengah bangsa ini, sehingga empat pilar itu harus berulang-ulang disosialisasikan di Indonesia,” ujar Sekretaris Panitia Jubileum 95 Tahun GKPS (1998) di Jakarta itu.

Berbicara tentang perjuangannya di panggung politik, sehingga ia mesti sering meninggalkan keluarga di Jakarta, karena turun ke daerah pemilihan (dapil)-nya, Marsiaman dengan bijaksana menerangkan, ia sangat bersyukur kepada Tuhan, karena diberi seorang istri yang tangguh untuk mendukung dan mendoakannya. “Kalau tak ada seorang istri atau peran ibu di dalam keluarga, kan, semua berantakan. Saya setuju dengan ungkapan bahwa: Sukses seorang pria pasti di belakangnya ada seorang perempuan hebat. Bagi saya, istri saya itu tangguh. Kesuksesan yang kita raih, sekecil apapun itu, ada peran istri di sana,” terangnya.

Berbicara tentang pengalamannya sebagai Caleg DPR-RI di Dapil Riau, di Pemilu 2009 lalu, katanya, sebetulnya ia sudah dinyatakan KPU dapat kursi di DPR-RI dan saat itu ia nomor urut 1. “Namun kemudian itu digugat oleh PAN di Mahkamah Konstitusi (MK), dan uniknya kursi itu kemudian jatuh ke Golkar. Iya, itulah dinamika di politik. Saya terima dengan legowo. Saya tak perlu marah atau kecewa bahkan dendam karena itu. Semua pengalaman tersebut saya jadikan menjadi pelajaran untuk membuat yang terbaik di masa depan. Saya tidak mau menyimpan kekecewaan, meskipun saya tahu di dalam politik pertarungan sering kejam dan sering kita dikecewakan. Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kehendakNya yang jadi, bukan kehendak saya,” tegasnya.

Di Pemilu 2014 lalu, dengan perjuangan yang keras serta dukungan dari pengurus ranting-ranting PDI Perjuangan di desa-desa serta dukungan warga gereja dan orang-orang Sumut yang ada di Riau, ia kemudian berhasil meraih kursi. “Itu bukan karena kekuatan saya, namun itu semua karena campur tangan Tuhan. Kalau ada yang menyatakan mukjizat, karena saya dapat kursi di daerah yang bukan kampung halaman saya, sah-sah saja. Yang pasti, kalau saya berjuang, saya selalu pasrahkan kepada Tuhan agar kehendakNya saja yang jadi. Karena kehendak Tuhan pasti yang terbaik. Kehendak kita belum tentu yang terbaik,” paparnya.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sebagai seorang Kristen, Marsiaman mengatakan, ia selalu menyempatkan diri menyerahkan hidupnya lewat doa kepada Tuhan. “Kalau saya bangun pagi, saya bersyukur kepada Tuhan, karena saya masih diberi nafas hidup dan kesehatan. Kemudian saya doakan agar semua rencana, pekerjaan saya dan perjalanan hidup saya dibimbing dan diberkati Tuhan. Demikian juga kalau saya mau tidur, saya bersyukur karena selalu disertaiNya sepanjang hari, dan agar saya tidur bisa nyenyak dan bangun lagi dengan segar. Jadi sederhana sekali,” cetusnya.

Bagi orang Kristen, katanya, berdoa itu sangat penting. “Karena dengan berdoa kita berterima kasih kepada Tuhan. Dengan berdoa pula kita menyerahkan diri kepadaNya agar segala perjalanan hidup kita berjalan sesuai dengan kehendakNya, bukan kehendak kita. Tuhan yang lebih tahu apa yang terbaik di dalam hidup kita. Bisa saja kita gagal di dalam hidup ini, tapi ketika kita berdoa maka kita diberiNya kekuatan. Sehingga kita harus menyerahkan segala rencana kita agar Tuhan yang mengatur. Karena tak mungkin semua keinginan kita yang dipanjatkan lewat doa akan dikabulkan Tuhan, karena nanti bisa kacau hidup ini kalau semua dikabulkan,” tegasnya.

Meskipun Marsiaman kini sudah menjadi anggota DPR-RI, uniknya Marsiaman masih tetap merakyat, tidak seperti kebanyakan anggota dewan yang menjaga jarak terhadap rakyat. “Meskipun saya sekarang sudah menjadi anggota dewan, saya merasa masih seperti yang dulu. Saya tentu sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena sekarang saya diberikan kesempatan menjadi wakil rakyat. Semua itu bisa terjadi karena pertolongan Tuhan. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di dalam hidup kita ke depan, sehingga syukuri saja yang ada, dan jangan stres,” kata Marsiaman yang sudah pernah membuat tiga album pop Simalungun. Dan ia ingin mendokumentasikan lagu-lagu Simalungun dengan rekaman lagu itu. 

 

Harapkan Masyarakat Simalungun Cerdas Memilih di Pilkada

Ketika ditanya pendapatnya tentang Pilkada di Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun, Sumut, pada 9 Desember 2015 mendatang, dengan tegas Marsiaman Saragih mengatakan, calon-calon sudah ditetapkan KPU untuk Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar. Ada empat calon di Kabupaten Simalungun dan empat calon di Kota Siantar. Itu artinya banyak peminatnya. “Kalau mundur dari pencalonan, seperti aturan undang-undang, maka calon itu bisa didenda. Nah, kita lihat bangsa Indonesia ini sudah 70 tahun merdeka, dan mari kita lihat pembangunan di berbagai daerah, termasuk Simalungun dan Pematang Siantar, pembangunan begitu lambat,” paparnya.

“Pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan rakyat belum dirasakan rakyat, dan masih jauh dari harapan. Karenanya di daerah yang kita cintai ini, kita minta masyarakat agar cerdas di dalam memilih pemimpinnya agar jangan jauh tertinggal dari daerah-daerah lain. Yang harus dipilih adalah figur yang punya hati untuk membangun daerahnya, bukan yang mau membangun kekayaannya sendiri. Khusus di Simalungun jangan lagi dipilih pemimpin yang sudah pernah berkuasa, karena terbukti tidak bisa berbuat apa-apa bagi masyarakat. Itu bukti konkret, bukan tuduhan yang tak punya alasan. Apa yang sudah dilakukan selama lima tahun ini jangan diulangi pemimpin mendatang,” terangnya.

Marsiaman juga meminta rakyat agar jeli di dalam memperhatikan figur-figur yang tampil. Figur yang layak dipercaya harus menghargai proses belajar, bukan yang dapat ijazah instant. “Apa yang mau diharapkan kalau ada pemimpin yang tidak mau menghargai proses belajar mengajar. Sedangkan untuk Kota Siantar, pilihlah pemimpin yang punya kemampuan manajemen, bisa menata perkotaan yang masyarakatnya heterogen dan punya pergaulan luas. Sehingga masyarakat harus mengenal para calon pemimpinnya,” terangnya.

Selain itu, Marsiaman meminta agar gereja jangan terlibat politik praktis, namun harus tahu situasi dan kondisi politik. “Tak perlu gereja ikut kampanye, namun harus tahu situasi politik, sehingga berikanlah pencerahan kepada warga jemaat dan berdoalah bagi calon pemimpin itu,” katanya. Menurutnya, masyarakat di Sumut itu bisa sangat sadis kalau untuk urusan politik. Kalau ada calon yang kalah masih sering diledek atau disindir-sindir, sedangkan yang menang pun kalau tak bisa didekati digunjingkan juga,” tukasnya.

“Calon yang kalah di pilkada Simalungun atau Kota Siantar tak perlu stres jika usai pilkada, namun yang menang bekerjalah untuk rakyat, dan jagalah nama baik. Karena nama baik itu penting. Ada pepatah mengatakan: Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama. Jadi pemimpin di Simalungun dan Kota Siantar jagalah nama baik kalau beruntung menang,” terangnya bijaksana. KKH

 

Berita Terkait