Pengurus FORKOM NARWASTU Siaran di “Radio RPK 96.30 FM”

1049 dibaca
Tim FORKOM NARWASTU, dari kiri ke kanan: Jonro I. Munthe S.Sos, Dr. Tema Adiputra, Ir. Albert Siagian dan Prof. Marten Napang.

Beritanarwastu.com. Pada Kamis, 16 Juni 2016 lalu, mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB pengurus Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU mendapat kesempatan untuk siaran di Radio Pelita Kasih (RPK) 96.30 FM Jakarta atas undangan Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit. Soalnya, Pdt. Ruyandi Hutasoit yang juga dikenal pendiri Gereja Kristen Bersinar dan Ketua Dewan Pembina PDS punya program acara di RPK bernama “School of Life/Sekolah Kehidupan.” Pdt. Ruyandi sendiri adalah figur yang termasuk anggota FORKOM NARWASTU.

Acara yang dimoderatori Pdt. Dr. Marten Neolaka dan Dr. Tema Adiputra ini diawali dengan renungan yang berkisah tentang karakter dan integritas Musa dan Daniel sebagai Hamba Tuhan. Menurut Pdt. Marten Neolaka, Musa dan Daniel adalah orang yang punya karakter dan integritas dan tekun berdoa. Mereka tidak kenal kompromi dengan hal-hal negatif. “Musa dan Daniel selalu bersandar kepada Tuhan, sehingga dia yakin dengan penyertaan Tuhan. Mereka orang yang takut akan Tuhan. Demikian juga tokoh-tokoh pilihan NARWASTU yang hadir dalam siaran kali ini, adalah figur-figur Hamba Tuhan yang berkarakter,” ujarnya.

Dalam siaran ini, hadir pengurus FORKOM NARWASTU, yakni Prof. Marten Napang, S.H., M.H., M.Si (Ketua), Ir. Albert Siagian, M.M. (Ketua Panitia Diskusi FORKOM NARWASTU seputar bahaya narkoba) dan Tema Adiputra (anggota pengurus) serta Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos. Lebih dulu Jonro Munthe ditanyakan moderator soal latar belakang pemilihan tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU, yang kemudian terbentuk sebuah forum untuk mempersatukan para tokoh tersebut.

Jonro Munthe menerangkan, pemilihan tokoh-tokoh Kristiani oleh NARWASTU sebenarnya sudah dilakukan sejak 1999 lalu pasca reformasi. Menurutnya, hal itu dilakukan karena banyak pejuang Kristiani dari berbagai bidang yang sebetulnya berjuang untuk kebaikan gereja, masyarakat dan bangsa, namun kurang mendapat perhatian dari media mainstream (arus utama). Sehingga NARWASTU terpanggil untuk memberi penghargaan untuk tokoh-tokoh ini dengan mengangkat profilnya.

“Ada tokoh-tokoh pilihan NARWASTU berlatar belakang pengusaha, jenderal purnawirawan, jenderal aktif, pemimpin gereja, profesional, pengacara, akademisi, politisi senior, pimpinan parpol, anggota dewan dan pimpinan ormas Kristen. Kita mengangkat figur-figur yang pernah dipublikasikan NARWASTU yang berjiwa Pancasilais atau nasionalis, mampu memberi inspirasi, nasionalis dan peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Tokoh-tokoh itu sudah ada 12 angkatan, dan kalau ditotal jumlahnya bisa 200-an orang. Dan yang baru bisa berkumpul sudah ada 60-an orang,” ujar Jonro Munthe.

Kalau tokoh-tokoh pilihan NARWASTU bisa terhimpun dalam wadah FORKOM NARWASTU, kata Jonro, itu awalnya ide Pembina/Penasihat NARWASTU, Pdt. DR. Nus Reimas, lalu direspons oleh tokoh-tokoh, seperti Prof. Marten Napang, Sterra Pietersz, S.H., M.H., DR. Tilly Kasenda dan Pdt. DR. Japarlin Marbun. “Setelah beberapa kali pertemuan, lalu atas kerja keras Pak Marten Napang, Ibu Sterra Pitersz dan Jhon Panggabean, S.H., M.H. kemudian kita undang tokoh-tokoh pilihan itu agar hadir untuk berbuat sesuatu bagi gereja dan masyarakat, dan mereka merespons dengan cukup baik. Termasuk Pak Ruyandi Hutasoit mendukung FORKOM NARWASTU ini,” ujarnya.

Sementara Prof. Marten Napang menerangkan, tokoh-tokoh pilihan NARWASTU adalah figur-figur berkarakter dan berintegritas. “Mereka mirip dengan tokoh-tokoh beriman, seperti Musa dan Daniel yang mau memberikan hati untuk ikut melayani untuk kepentingan orang banyak. Dan saya lihat tokoh-tokoh yang dipilih NARWASTU adalah figur-figur yang luar biasa, kemudian mereka diangkat. Dan peran NARWASTU luar biasa, sehingga kita mendukung upaya ini. Dan sesuai dengan latar belakangnya, lewat FORKOM NARWASTU kita ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat, misalnya membuat pokok-pokok pikiran dari diskusi atau hasil kajian, dan ini untuk memberikan solusi atas persoalan bangsa,” terangnya.

Orang-orang beriman, kata Guru Besar dari Universitas Hasanuddin, Makassar, ini harus berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara ini. “Kita mengenal hukum kasih. Kasih adalah berbuat bagi sesama, dan melayani sesama,” ujar advokat senior ini. Diskusi seputar bahaya narkoba yang sudah diadakan FORKOM NARWASTU pada 20 Juni 2016 lalu (Baca: NARWASTU Edisi Juli 2016) merupakan sebuah diskusi yang luar biasa, karena berbicara tentang darurat narkoba, yang kini menjadi persoalan bangsa kita.

“Dalam rangka menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba, kita bersama FORKOM NARWASTU ada semangat bersama untuk memberantas narkoba. Kita ikut mendukung BNN (Badan Narkotika Nasional) dalam tugasnya memberantas bahaya narkoba. Kita perlu mendukung BNN agar bisa juga dibuat setara dengan jabatan menteri. Dan perlu perhatian dari tokoh-tokoh Kristiani untuk mendukung BNN. Ketika Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei diadakan diskusi itu, kita ingin bangun tekad bersama untuk melawan bahaya narkoba. Narkoba tak pandang bulu, yang kaya, miskin, berpangkat dan hebat pun bisa menjadi korbannya,” pungkasnya.

Albert Siagian menambahkan, diskusi seputar bahaya narkoba itu diadakan, salah satunya sebagai wujud kepedulian mereka terhadap persoalan di tengah masyarakat, salah satunya soal bahaya narkoba. “Diskusi ini ternyata mendapat respons yang sangat positif,” paparnya. Di Indonesia ternyata ada 6 jutaan pemakai narkoba, dan ini keadaannya sudah darurat. Sehingga perlu partisipasi masyarakat dan keluarga untuk ikut mengatasi keadaan ini. “Keluarga-keluarga perlu membangun kehidupan beriman yang makin kokoh agar terhindar dari bahaya narkoba,” tukasnya.

Dalam kesempatan itu, Haris Situmorang yang mengurus korban-korban narkoba di Yayasan Doulos, Jakarta (yang dipimpin Pdt. Ruyandi Hutasoit), menuturkan, kalau kita lihat keadaan bangsa ini sudah darurat narkoba, lalu apa yang akan kita lakukan. “Kami di Yayasan Doulos hadir untuk menangani korban-korban narkoba, baik secara rohani, medis maupun sosial. Kami hadir untuk ikut menyelamatkan generasi muda bangsa dari bahaya narkoba,” paparnya.

Pdt. Marten Neolaka juga menambahkan, karena Indonesia sudah mengalami darurat narkoba, apalagi ada tokoh-tokoh panutan dan terkenal yang menjadi pemakai dan pengedar narkoba, maka harus ada ketegasan untuk memberantas narkoba. “Orang-orang beriman harus ikut menghadapi masalah bahaya narkoba. Orang-orang beriman harus melawan bahaya narkoba dengan doa dan kekuatan Firman Tuhan yang dahsyat,” paparnya.

Prof. Marten Napang menambahkan, dari berbagai diskusi yang ia ikuti soal undang-undang bahaya narkoba, sesungguhnya undang-undang yang ada sudah cukup memadai. “Namun sesempurna apapun undang-undang itu, bisa saja dimanfaatkan oleh orang yang berkepentingan. Sehingga perlu penegakan hukum yang tegas dan baik meskipun undang-undangnya belum memadai. Celah-celah hukum seperti pengedar dan pemakai, apakah pengedar ditahan atau direhabilitasi, itu masih perdebatan. Lalu bagaimana dengan pengedar dan pemakai, ini makin diperdebatkan. Namun hukum harus ditegakkan,” paparnya.

Tema Adiputra juga menuturkan, FORKOM NARWASTU adalah kumpulan para tokoh pilihan NARWASTU yang punya kepedulian untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa ini. Melalui siaran radio di RPK 96,30 FM ini, katanya, tokoh-tokoh itu diharapkan bisa memberikan pemikiran yang bermanfaat bagi masyarakat. Tokoh-tokoh pilihan NARWASTU yang berasal dari berbagai latar belakang, dengan talenta masing-masing sudah berbuat sesuatu yang berguna bagi banyak orang, sehingga figur mereka mendapat penghargaan dari NARWASTU. KT

Berita Terkait