Pengusaha yang Bergerak dengan Filosofi Bisnis

555 dibaca


Beritanarwastu.com. Buku bersampul merah berjudul Filosofi Bisnis Matahari, yang ditulis Kristin Samah dan Sigit Triyono ini adalah sebuah buku menarik yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Buku ini diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, dengan tebal 213 halaman. Dan buku ini penting dan menarik dibaca kaum awam. Ditulis di dalam buku ini,  Hari Darmawan tergolong dalam sedikit pengusaha yang mendasarkan usahanya pada filosofi.

Berawal dari pertanyaan "untuk apa berbisnis?', sederhana filosofi dapat diartikan sebagai kebijakan dan dasar-dasar pengetahuan untuk mengembangkan kehidupan. Dalam hal bisnis, kebijaksanaan dan dasar-dasar pengetahuan itu ditujukan untuk mengembangkan bisnis itu sendiri. Filosofi sebagai dasar kebijaksanaan inilah yang mempengaruhi perilaku, sikap, dan langkah korporasi yang akan dilakukan pebisnis dalam mengembangkan usahanya. Dari filosofi itu pula akan diimplementasikan berbagai nilai yang mendasari bisnis seperti tujuan, etika dan budaya organisasi.

 "Saya telah mengenal Pak Hari Darmawan sejak, sekitar 25 tahun lalu kami bertemu untuk mendiskusikan penyewaan Matahari Departemen Store di Mall Ciputra, Grogol. Saya bersyukur memiliki teman seperti Pak Hari. Ia adalah rekan bisnis yang visioner, entrepreneurial, dan sangat menjaga integritas. Kisah kehidupan Pak Hari Dharmawan memang inspiratif dan layak dibaca," kata Dr. (H.C.) Ir. Ciputra, pendiri dan Chairman Ciputra Group di buku ini.
 
         "Saya sangat bersukacita dengan terbitnya buku Filosofi Bisnis Matahari. Ada banyak hal yang sudah Pak Hari lakukan dan alami sepanjang hidupnya, Akhirnya dapat diwariskan kepada publik, terutama kepada generasi muda. Melalui buku ini. Kita dapat belajar pentingnya filosofi bisnis dan membangun budaya kerja untuk kinerja organisasi bisnis yang andal," tulis Toyohiko Senda, Konsultan Bisnis Ritel Jepang.

 Hari Darmawan sendiri dalam tulisannya di pengantar buku ini menulis, “Pada mulanya timbul di hati saya untuk merintis bisnis ritel di usia yang sangat muda, sekitar 20 tahun. Saya pergi dari Makassar ke Jakarta tahun 1957 dengan jiwa wiraswasta, karena Papa saya saudagar besar di bidang perberasan. Meskipun masih muda sekali, saya melihat bisnis ritel di Pasar Baru, Jatinegara, Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, Pasar Pagi, Blok M, Blok A Kebayoran, semua sangat tertinggal jauh dibandingkan dengan bisnis ritel di Jepang. Bagaikan langit dan bumi perbedaannya. Saya merasa sedih, prihatin, dan dalam hati kecil merasa terhina karena ritel saja kita begitu ketinggalan.”

   Ditulis lagi, “Saya selalu mendengarkan pidato-pidato Bung Karno yang berapi-api: ‘Kita semua anak Bangsa, setiap orang harus berjuang dengan melakukan kegiatan untuk membangkitkan ekonomi yang pada akhirnya dapat membangkitkan kehidupan yang baik, tidak miskin dan melarat.’ Jiwa saya benar-benar terinspirasi. Dari waktu ke waktu, secara bertahap saya semakin memahami betapa kondisi negara kita dengan politik yang penuh pertikaian, membuat situasi menjadi kacau balau dan menghancurkan segala aspek kehidupan ekonomi dan kemanusiaan.”

   “Saya memiliki ‘jiwa Bugis’ karena lahir dan besar di Makassar, saya belajar berani pasang badan (kalau saat ini mungkin mirip-mirip Ahok-lah), saya bertekad untuk memajukan ekonomi perdagangan dan menciptakan lapangan pekerjaan. Saya ingin melahirkan pekerja-pekerja yang andal sanggup memajukan bahkan memutarbalikkan kondisi bisnis ritel yang terpuruk menjadi tumpuan untuk memajukan ekonomi negara. Saya yakin benar bila bisnis ritel bertumbuh dan berkembang, maka bisa menolong dan menghidupi banyak orang, juga akan menyumbang pemerintahan melalui pembayaran pajak.”

   “Saya paham betul bahwa bisnis ritel adalah suatu bisnis penting yang pada awal tahun 60-an mati suri karena Indonesia sedang kacau dan melarat. Tidak ada seorang pun yang mempedulikan bisnis ritel pada waktu itu. Padahal sudah ada contoh hebat dari Jepang maupun Amerika. Dalam perjalanan, setelah puluhan bertekun belajar bisnis ritel dengan secara rutin berkunjung ke Jepang dan Amerika, segala jerih payah saya mulai memperlihatkan hasil ketika pada tahun 1992, Matahari go public. Toko Matahari sudah menyebar ke kota-kota besar dan kecil di seluruh pelosok Indonesia dengan mempekerjakan hampir 50 ribu orang.”

   “Bagi saya, filosofi bisnis sangat penting dan sangat bermakna bagi kelangsungan bisnis yang saya bangun. Bukan saja demi semangat dan keharmonisan kerja, efisiensi dan efektivitas organisasi, tetapi juga demi membangun makna yang lebih besar bagi kesejahteraan bersama bangsa Indonesia. Saya lahir dan besar di Indonesia. Perjalanan hidup, jatuh bangun, dan susah senang, semuanya saya lakoni bersama keluarga serta banyak sekali sahabat dari berbagai latar belakang di Indonesia.” Buku ini, sekali lagi, menarik disimak, dan menginspirasi dan memotivasi. LK 

Berita Terkait