PenyertaanNya Sempurna

• Oleh: Rio Ririhena, S.Sos. 612 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Setelah lulus S1, seorang anak muda terus berdoa meminta pekerjaan dari Tuhan. Tak lama kemudian datang surat panggilan interview dari salah satu perusahaan ternama. Anak muda ini sungguh bersukacita dan terus mengatakan, Tuhan itu baik. Di pagi hari saat waktu interview tiba, sebelum keluar dari rumah, sang anak muda berdoa minta pernyertaan Tuhan bagi perjalanannya menuju kantor perusahaan tersebut yang terbilang cukup jauh dari tempat tinggalnya dan harus ditempuh menggunakan kereta listrik (KRL).

Pagi itu jalanan menuju stasiun yang ditempuhnya mengggunakan angkot cukup macet, sehingga sang anak muda terlambat sampai di stasiun untuk menumpang kereta yang berangkat pada jam yang telah diperhitungkan olehnya. Ia harus menunggu 15 menit lagi untuk kereta berikutnya. Telepon kantor tempat ia akan di-interview sudah coba dihubungi oleh anak muda ini untuk memberitahukan kondisinya pagi itu, juga tidak dijawab. Saat itulah anak muda ini mulai gelisah. Takut terlambat sampai di kantor yang dituju, dan akan mengurangi konditenya di awal interview.

Perasaan galau itu membuat dia mulai menyalahkan Tuhan. Dia merasa sudah berdoa sungguh-sungguh sebelum keluar dari rumah tadi. Tapi kenapa tadi harus macet? Kenapa harus ketinggalan kereta? Kenapa harus terlambat? Kita mungkin saja pernah berada di posisi anak muda ini. Saat doa-doa kita dijawab Tuhan, mulut ini dengan mudah menyebut: Tuhan itu baik! Tapi kemudian sedikit saja keadaan berubah menjadi tidak sesuai dengan harapan kita, mulailah kita menggerutu dan mempersalahkan Tuhan.

Tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara stasiun, memberitahukan bahwa semua kedatangan kereta akan tertunda karena baru saja terjadi kecelakaan kereta. Suasana stasiun sontak bertambah ramai. Terlihat para calon penumpang mulai bergegas meninggalkan stasiun untuk mencari alternatif kendaraan umum lain. Bagaimana dengan anak muda tadi? Setelah menghitung waktu yang tidak mungkin ditempuh menuju kantor perusahaan tempat dia harus melakukan interview jika menggunakan taksi atau bis umum, dia memutuskan untuk kembali ke rumah.

Tetap dalam suasana hati yang kecewa dan menyalahkan Tuhan. Di pintu keluar stasiun ia berjumpa seorang petugas stasiun yang sedang melayani pertanyaan-pertanyaan dari beberapa calon penumpang. Sambil lewat terdengar olehnya bahwa ternyata kereta yang baru saja mengalami kecelakaan itu adalah kereta yang harusnya ia tumpangi jika tidak terlambat sampai di stasiun tadi. Cukup banyak korban karena kereta keluar dari rel. Sang anak muda kaget luar biasa dan tanpa terasa ia meneteskan air mata. Ia malu kepada Tuhan.

Ia menyesal telah menyalahkan Tuhan atas kejadian pagi itu. Dia sekarang justru melihat bagaimana Tuhan mendengar doanya sebelum keluar dari rumah tadi. Jika saja jalan yang ia lewati dari rumah tadi tidak macet, maka ia akan menjadi salah satu korban dari kecelakaan itu. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus belajar berserah penuh kepadaNya. Belajar mengimani penyertaan Tuhan yang sempurna atas hidup kita.

Doa kita harusnya diikuti dengan langkah iman bahwa Tuhan mendengar doa, dan bahkan sudah melakukannya untuk kita. Saat kita sungguh mengasihi Tuhan dan mengandalkan kuasaNya, Dia bekerja untuk kita secara menyeluruh. Dalam setiap hal dan pada semua situasi. Dan penyertaan Tuhan hanya punya satu tujuan, mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Dua bulan setelah peristiwa kecelakaan kereta itu, sang anak muda diterima bekerja di satu perusahaan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Ia menikmati pekerjaannya dan melayani Tuhan menjadi guru Sekolah Minggu dan pemusik di gerejanya.

Tidak ada yang salah dengan rancangan Tuhan. Kitalah yang sering membuat rancangan itu menjadi salah bagi hidup kita, karena ketidaksabaran dan kebodohan kita sendiri. Ketika kita mau, tanpa sadar kita paksakan Tuhan untuk segera mewujudkannya bagi kita. Padahal belum saatnya, menurut Tuhan. Kita lupa bahwa Tuhan tidak hanya melihat saat ini, tapi jauh ke depan, ke waktu yang kita belum dan tidak dapat menjangkaunya saat ini. Tuhan tahu persis bagaimana melindungi dan meluputkan kita dari mara bahaya. Dia mengerti apa yang menjadi kebutuhan kita.

Tuhan merasakan apa yang menjadi persoalan kita, dan tahu bagaimana menyelesaikannya. Belajar dari pengalaman anak muda di atas, saat kita sudah berdoa dan menyerahkan semua kepada Tuhan, biarlah Tuhan bekerja seutuhnya bagi kita. Jangan persalahkan Tuhan untuk apapun kondisi kita. Menghadapi kesulitan hidup, kita mungkin merasa iri dengan orang lain yang mungkin lebih sehat, kaya dan sukses. Marilah kita menjadikan kebenaran yang bersumber dari janji dan penyataan firman Allah sebagai sumber sukacita dan pemberi makna bagi hidup kita. Dengan demikian, niscaya kondisi buruk kita menjadi masa subur pertumbuhan rohani yang membuat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

·                     Penulis adalah Ketua Komisi Dewasa GKI (Gereja Kristen Indonesia) Pamulang, Tangerang Selatan, dan alumni Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta.

 

Berita Terkait