Perang Sengit Antar-Bos Media Massa

693 dibaca
Oleh: Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU).

BERITANARWASTU.COM. Pada awal 2013 lalu, Menkopolhukam RI Joko Soeyanto saat hadir di acara yang diadakan sebuah media terkemuka di Jakarta, mengatakan, pers atau media massa itu tak hanya kekuatan keempat setelah eksekutif, yudikatif dan legislatif di sebuah negara demokrasi. Namun, katanya, pers merupakan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Pers, katanya, bisa “menyulap” orang baik menjadi seperti penjahat. Sebaliknya, pers bisa membuat seorang penjahat seperti malaikat. Pendapat Joko Soeyanto tentu benar, karena jenderal purnawirawan bintang empat dari angkatan udara ini sudah merasakan betapa dahsyatnya peran pers.

Itu sebabnya, kalau kita perhatikan, para petinggi negeri ini, terutama para elite politik selalu berusaha bersahabat dengan pers, agar jangan menjadi “korban” pers. Sekaitan dengan itu, di Pilpres 2014 lalu kita sudah saksikan betapa tim sukses pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla sangat terusik dengan terbitnya tabloid Obor Rakyat, yang memang tendensius menyerang pribadi Jokowi. Alhasil, tim hukum Jokowi melaporkan Pemred Obor Rakyat, Setiyardi ke Mabes Polri dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Tim sukses Jokowi pun membuat tabloid Pelayan Rakyat dan tabloid Jokowi-JK adalah Kita guna menangkal serangan-serangan dari Obor Rakyat. Anggota Dewan Pers Stanley Adi Prasetyo berpendapat, “Obor Rakyat sama sekali tidak menggunakan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Melihat isi, cara melakukan framing terhadap berita (seolah-olah berita), pencantuman nama samaran dan alamat palsu, juga model pengiriman, Obor Rakyat adalah sebuah kampanye hitam” (Tempo, 29 Juni 2014). 

Tak hanya tim sukses Jokowi yang mengeluh atas pemberitaan media. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo baru-baru ini pun mengeluhkan berita sebuah media Kristen dan koran terkemuka di Indonesia atas pemberitaannya terhadap kakaknya Letjen TNI (Purn.) H. Prabowo Soebianto yang maju sebagai Capres RI. Menurut Hashim, akhir-akhir ini keluarganya cukup resah dengan isu yang banyak beredar dan menuding mereka tak Pancasilais.

“Padahal di dalam keluarga kami, ada Islam, Kristen dan Katolik, bahkan Yahudi. Ada juga Jawa, Batak dan Manado. Tapi ada media, termasuk media Kristen yang memfitnah, dan dianggap kami tak Pancasilais. Padahal dalam keluarga kami itu sangat menghargai Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya. Hashim menambahkan, ia kecewa pula dengan pemberitaan sebuah media berpengaruh yang dianggapnya tak adil dan tak berimbang di dalam memberitakan Prabowo. Katanya, di koran itu pernah dimuat foto Prabowo naik helikopter, lalu foto Jokowi berada di sawah, seolah-olah hanya Jokowi yang merakyat. “Padahal mereka juga kaya raya dan sering naik jet pribadi, tapi itu tak diberitakan media. Ini tak fair,” sesalnya.

Meskipun merasa difitnah sejumlah media, ujar Hashim, ia tetap mengampuni kelompok yang menyebut keluarganya tak Pancasilais. Katanya lagi, ada pula yang tak suka Prabowo karena ia naik kuda, tak punya istri dan diisukan pelanggar HAM. “Lima tahun lalu apa kita sudah lupa Prabowo jadi cawapresnya Ibu Megawati. Selama ini banyak orang lupa, dan kenapa saat itu tak dipersoalkan soal Prabowo,” ujarnya. Lalu Hashim meminta agar wartawan, termasuk wartawan Kristen di dalam memberitakan  harus memberi pencerahan kepada masyarakat. Wartawan yang punya wawasan dan nalar yang tinggi, imbuhnya, harus lebih cerdas dalam membuat berita.

Di Pilpres 2014 lalu, media-media besar di negeri ini, baik televisi maupun media cetak tak bisa dipungkiri telah terbelah. Ada yang mendukung Jokowi-JK seperti Metro TV dan Media Indonesia, juga TV One, Anteve, RCTI, MNC, Global TV dan Sindo mendukung Prabowo-Hatta. Prof. Dr. Tjipta Lesmana, pakar komunikasi politik berpendapat, “Saya nilai inilah pilpres paling menyedihkan dari sisi jurnalistik. Lebih parah dibandingkan kondisi pada masa Orde Baru. Mereka yang menyebut dirinya sebagai praktisi hebat di bidang jurnalistik, yang sudah bekerja puluhan tahun, sebagian ada yang luntur, rapuh, koyak, akibat perbedaan dukungan capres dari para pemilik medianya” (Rakyat Merdeka, 25 Juni 2014).

Menurut Tjipta Lesmana, segenap jajaran redaksi, termasuk pemimpin redaksi tunduk pada kemauan dan kepentingan pemilik. “Bukankah kini ada peperangan sengit antara bos-bos media sehubungan dengan pemilihan presiden?” tulis Tjipta. Curahan hati dari Hashim Djojohadikusumo tadi ada benarnya, bahwa media memang harus berimbang dan fair di dalam memberitakan sesuatu. Pendapat Tjipta Lesmana pun benar, selama Pilpres 2014 terjadi peperangan sengit antara bos-bos media.

Karenanya, majalah ini mengimbau agar media massa Kristen pun jangan terjebak pada upaya mendiskreditkan seseorang tokoh atau pemimpin. Kabar baik memang harus terus diberitakan, tentu dengan menaati etika pemberitaan atau undang-undang pers. Mendiskreditkan seseorang, apalagi sampai membunuh karakternya tentu bukan sikap Kristiani. Harus disadari bahwa media ibarat pedang bermata dua, yang bisa menghancurkan dan bisa menghidupkan. Dan kita berharap agar media atau pers sungguh-sungguh mampu terus membangun kehidupan sosial, menciptakan kerukunan, mencerdaskan masyarakat dan mengupayakan cinta kasih di dalam pemberitaannya. Semoga. 

Berita Terkait