Rektor STT SETIA, Pdt. Dr. Matheus Mangentang
Percaya akan Dapat Pertolongan Tuhan

664 dibaca
Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Mengandalkan Tuhan.

Pdt. Dr. Matheus Mangentang bersaksi, bahwa Tuhan Yesus itu sangat baik di dalam hidup dan pelayanannya. Tuhan tak pernah meninggalkan kita, meskipun kita di tengah penderitaan. Sekalipun kita berada di lembah kekelaman atau kesulitan, Dia setia menyertai kita. Walaupun kita berada di tengah bayang-bayang kegelapan dan tantangan berat, Dia melimpahkan berkat kepada kita. “Itu renungan saya di dalam hidup ini. Tuhan tak berubah sejak dulu sekarang dan di masa yang akan datang. Dalam masalah yang pernah dihadapi STT SETIA pun Tuhan terus menyertai kami,” paparnya kepada NARWASTU.

                Menurut Rektor STT SETIA (Sekolah Tinggi Injili Arastamar) jakarta ini, seperti ditulis di Roma 8:28, Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatu bagi setiap orang yang mengasihiNya. Pdt. Mangentang menegaskan, ia  sangat mengimani Firman Tuhan itu. Lantas, bagaimana ia bisa tegar menghadapi masalah STT SETIA yang dulu sering menjadi perbincangan publik dan kerap diberitakan media massa? Pdt. Mangentang yang berdarah Toraja ini menerangkan, dulu ia sempat hanya bisa tidur antara tiga sampai empat jam sehari.

                Ketika mahasiswa STT SETIA terusir dari kampus lama di kawasan Jakarta Timur pada 2008 lalu, ia sempat stres memikirkan mahasiswanya yang kala itu sudah mencapai 1.560 orang. “Selalu muncul pertanyaan dalam hati saya waktu itu, kok, Kampus STT SETIA bisa menghadapi masalah, lalu anak-anak saya itu tercerai berai. Tuhan, tolong jaga mereka,” ujar ayah dua anak yang beristri Ester Kristanto ini.

                Menyikapi keadaan itu, Pdt. Mangentang yang dulunya biasa beribadah pribadi sekitar sejam, tapi setelah muncul kasus STT SETIA ia beribadah dua sampai tiga jam. “Saya sangat percaya akan pertolongan Tuhan. Dalam setiap doa saya secara pribadi kepada Tuhan, saya selalu memohon pertolonganNya agar anak-anak di STT SETIA dijaga Tuhan. Saya sempat merenung dan introspeksi, kenapa begini jadinya, Tuhan. Banyak juga tudingan negatif yang dilontarkan kepada kami kala itu. Saya merasa terintimidasi dan diteror, tapi Tuhan selalu menguatkan saya,” tukas lulusan doktor teologia dari STT Baptis, Semarang, itu.

                Menurutnya, dengan bersikap tenang dan diam saat ia stres, ia lalu khusuk berdoa. “Saya mampu memimpin STT SETIA hingga sekarang, karena Tuhan yang menolong. Saya yakin dengan ketulusan dan kemurnian kita melayani, Tuhan akan menjawab setiap doa-doa kita. Ini juga ujian bagi kemurnian iman kita, jadi saya tetap syukuri segala pergumulan yang kami alami. Seperti tertulis di Matius 7:21-23, bahwa tidak semua orang yang berseru-seru kepada Tuhan, termasuk mereka yang mengusir setan dan menyembuhkan penyakit akan masuk surga dan selamat. Hanya orang yang melakukan kehendakNya yang masuk surga,” tegasnya.

                Dengan melewati masalah-masalah berat yang kita hadapi di dalam kehidupan ini, termasuk saat melayani di ladang Tuhan, imbuhnya, sebenarnya kesetiaan dan ketulusan kita sedang diuji. Waktulah yang akan menguji kesetiaan dan kemurnian iman kita. “Visi dan misi kami di STT SETIA, kita harus melakukan kehendak Tuhan. STT SETIA punya keunikan untuk mengangkat yang belum terangkat, mencari yang belum dicari dan menjangkau yang belum terjangkau. Seperti Yesus saat tiga setengah tahun melayani di dunia, Dia sangat peduli kepada orang-orang sakit, orang miskin dan orang yang tertindas. Kepedulian Yesus sangat tegas terhadap orang-orang kecil,” pungkasnya.

            Sementara di STT SETIA, imbuhnya, para mahasiswa adalah orang-orang desa yang miskin, dan selama ini tidak diperhatikan. “Mereka orang-orang kecil yang dititipkan Tuhan agar kami didik menjadi pelayan-pelayanNya. Kami ingin mendidik mahasiswa STT SETIA agar mata, hati, telinga dan tangannya hanya dipakai untuk memuliakan nama Tuhan dan melakukan kehendak Tuhan. Dulu Yesus sangat menentang ahli-ahli taurat, karena Yesus lebih peduli kepada orang-orang yang terbuang,” terangnya.

                Sekarang, kata Pdt. Mangentang, mahasiswa STT SETIA yang sudah lulus diterjunkan ke daerah-daerah untuk melayani atau menyampaikan kabar baik. Tak ayal, Pdt. Mangentang harus sering terjun ke berbagai daerah untuk membimbing atau mendampingi anak-anak didiknya.

             Pdt. Mangentang menambahkan, ia dan timnya di STT SETIA terus berdoa bagi orang-orang yang selama ini peduli terhadap sekolah tinggi teologi ini. “Kami berdoa kiranya bapak dan ibu yang selama ini peduli terhadap lembaga ini selalu disertai dan diberkati Tuhan,” ujarnya. Sebagai hamba Tuhan, kata Pdt. Mangentang, ia tidak  mencari uang, popularitas dan kehormatan melalui STT SETIA yang dipimpinnya. “Saya hanya ingin melayani Tuhan dengan setia, dan biarlah namaNya dimuliakan,” tegasnya. BS

 

Berita Terkait