Percaya Diri dan Iman

* Oleh: Drs. Sigit Triyono, M.M. 406 dibaca


Beritanarwastu.com. Percaya diri adalah salah satu syarat mutlak bagi siapapun yang akan menjalankan kehidupannya dengan sukses. Mulai dari berfikir, berkata-kata, berperilaku dan bersosial harus memiliki cukup percaya diri agar mampu menghasilkan hal-hal positif. Sudah banyak bukti bahwa orang yang kurang percaya diri, akan cenderung tidak ke mana-mana alias mengalami kemandekan.
Ada banyak penyebab tidak percaya diri seseorang. Setidaknya dapat dikelompokkan menjadi tiga penyebab: (1) diri sendiri, (2) orang lain, dan (3) situasi. Dalam realitasnya penyebab “diri sendiri” yang seringkali mendominasi. Contohnya tidak mensyukuri positif diri, selalu melihat kekurangan diri sendiri, selalu membandingkan dengan orang yang lebih hebat¸ belum menemukan apa yang dia mau dalam hidup, dan lain-lain. Penyebab “orang lain”, bila untuk orang yang sudah dewasa sebenarnya perlakuan apapun dari orang lain tidak akan banyak mempengaruhi percaya dirinya. Begitu juga dengan “situasi” di mana banyak hal di luar kendali kita, maka tidak relevan bila menyalahkannya.
Untuk membangun percaya diri yang cukup, maka bagi orang dewasa pertama-tama harus bersedia introspeksi diri untuk menemukan secara jujur apa penyebab kurang percaya dirinya. Dari situ lalu berjuang menyelesaikan semua penyebab kekurang-percayaan dirinya. Kadang kala pola mentoring  (mencari pembimbing yang kompeten) dapat membantu mempercepat meningkatkan percaya diri.
Percaya diri sehebat apapun akan berhenti pada realitas. Artinya rasa percaya diri ada batasnya. Kita membutuhkan hal lain di luar percaya diri, yaitu Iman. Seperti tampak pada gambar berikut.
Dalam kehidupan ini banyak aspek yang terlihat namun lebih banyak lagi yang tidak tampak. Hal yang tidak tampak seringkali sangat menentukan dalam meraih cita-cita, harapan dan visi masa depan. Misalnya bagaimana kita yakin bahwa kita bisa meraih apa yang kita harapkan pada masa lima tahun mendatang? Bukankah kita belum tahu persis apa yang akan terjadi setahun, dua tahun, tiga tahun sampai lima tahun mendatang? Kalaupun kita memiliki bekal, itu semua berbasis pada data-data historis masa lalu bukan realitas masa depan.
Di sinilah peran iman itu. Iman adalah percaya kepada yang tidak terlihat. Ada unsure something beyond yang menguatkan kita sekaligus membuat kita percaya kepada yang tidak terlihat. Ada banyak bukti bahwa percaya kepada yang tidak terlihat memberikan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan rasa percaya diri. Hal yang tidak terlihat ini adalah menyangkut Sang Pencipta dengan segala kuasa, kebaikan, kemurahan dan kasih sayangnya.
Dengan iman kita meyakini bahwa Sang Pencipta ada di depan langkah kita. Dengan iman jugalah kita yakin bahwa Dia tidak pernah mengecewakan. Dalam keterpurukan kita masih memiliki pengharapan, itu juga karena iman. Dalam kesuksesan kita mengingat sesama yang tidak senasib, tentu juga iman yang menjadi pendorongnya. Iman lazimnya ditumbuhkan dan diperkuat oleh gerakan agama dan spiritual. Dengan segala laku dan ibadah yang dilaksanakan secara rutin dan konsisten.
Percaya diri adalah upaya mengatasi semua realitas yang mayoritas berwujud, terukur, dan terlihat secara kasat mata. Keraguan oleh karena banyak ketidakpastian sungguh membutuhkan lebih dari percaya diri. Bukan lalu kita overconfident (percaya diri berlebihan yang menimbulkan kesombongan), tapi justru kita membutuhkan kerendahan hati untuk memperkuat iman kita.Iman dibangun tidak selalu dengan pengertian dan kepintaran. Sering justru dalam kebodohan di hadapanNya, kita bisa lebih beriman. Percaya saja pada penyertaan dan perlindungan Sang Pencipta dalam menghadapi masa depan di luar realitas adalah salah satu ekspresi iman. Tentu tanpa melupakan usaha dan kerja keras yang merupakan bagian kita.Iman tanpa perbuatan adalah mati.
Percaya diri sangatlah perlu. Sebagai organisasi dan sebagai bangsa harus memiliki percaya diri yang cukup untuk dapat bertahan dan menang dalam persaingan. Namun untuk tetap mampu bertahan hidup berkelanjutan terus menerus (sustainability) sungguh organisasi dan bangsa kita membutuhkan iman yang kuat bersamaan dengan kerja cerdas dan kerja keras terus menerus. Selamat mencoba. Salam sukses Holistik.
 
*  Penulis  adalah Founder dan Managing Director  PT. Sukses Holistik Indonesia Strategic Consulting, Training & Research. 

Berita Terkait