Laksamana Muda TNI (Purn.) Christina M. Rantetana, SKM, MPH
Perempuan Pejuang, Nasionalis dan Religius

939 dibaca
Laksamana Muda TNI (Purn.) Christina M. Rantetana, SKM, MPH

Beritanarwastu.com. Setelah 9 tahun menyandang bintang satu, kini di pundaknya sudah menempel bintang dua. Meski demikian, ia tetaplah seorang figur yang rendah hati. Nada bicaranya lembut, penampilannya bersahaja, murah senyum, dan tampak anggun, seperti umumnya kaum ibu. Mungkin banyak yang tak percaya kalau perempuan ini adalah perwira tinggi (pati) AL (Angkatan Laut). Itulah sekilas sosok dari Laksamana TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana, SKM, MPH. Dia adalah perempuan pertama yang berpangkat jenderal di TNI Angkatan Laut. Nama Christina adalah pemberian orang tuanya, karena kelahirannya, 24 Juli 1955, sama dengan tanggal kelahiran Ratu Christina dari Swedia.

               Bintang itu secara resmi telah menempel di atas pundaknya sejak 1 November 2002 melalui Keppres No. 58/TNI/2002. Sebagai prajurit yang loyal dan profesional, sudah pasti Christina melaksanakan apapun tugas negara yang dipercayakan kepadanya dengan penuh tanggung jawab. Selepas dari DPR, ia dipercaya sebagai Staf Ahli Menkopolhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi, dan pension pada medio 2013 lalu. Ia lahir dan besar di lingkungan pegunungan Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Selain sebagai perempuan pertama yang menyandang pangkat Laksamana di jajaran TNI AL, ia perempuan kedua yang menjadi perwira tinggi di lingkungan militer Indonesia.

              Ini tentu sesuatu yang sangat istimewa, bukan hanya bagi Christina dan keluarganya, tapi juga bagi jajaran TNI dan bangsa Indonesia. Christina adalah tipe pekerja yang ulet, disiplin, penuh tanggung jawab, dan mau belajar dengan tekun. Dan prinsip hidupnya itu telah membuahkan hasil. Selain sebagai perwira berprestasi, ia dulu sukses sebagai politisi di parlemen (DPR/MPR-RI), hingga dipercaya sebagai Sekretaris Fraksi TNI/Polri di DPR-RI.

               Sebenarnya ia tak pernah berpikir bagaimana meraih pangkat Laksamana. Menurutnya, yang selalu ia pikirkan adalah bagaimana bisa bekerja baik, dan keberadaan atau manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. “Saya tidak pernah berpikir bagaimana menjadi letnan dua, letnan satu, lalu menjadi kapten, mayor, letkol, kolonel, kemudian seperti sekarang,” ujarnya suatu saat. Kunci sukses perempuan ini meraih prestasi adalah disiplin. Ada tiga hal yang menjadi kunci orang berhasil, dan itu yang ia lakukan, yakni disiplin kerja keras, bersandar kepada Tuhan, dan  mensyukuri apa yang diberikan Tuhan.

               Tak berlebihan kalau Christina disebut sosok Kartini masa kini. Masyarakat Indonesia, ujarnya, memaknai dan merefleksikan ketokohan Kartini sekarang ini masih terbatas dalam bentuk kegiatan-kegiatan bersifat seremonial. Di mata Christina, itu belum menyentuh substansi refleksi pemikiran Kartini. Untuk itu, masih diperlukan langkah-langkah yang dapat mengelaborasi berbagai pemikiran yang bersifat strategis dan visioner untuk mewujudkan peran dan kedudukan perempuan Indonesia. Dan, diharapkan itu bisa terwujud, misalnya, dalam kurun waktu 25 tahun ke depan, baik di bidang politik, pertahanan dan keamanan, atau bidang-bidang lainnya.

               Menurutnya, makna emansipasi saat ini lebih pada membangun good working relationship dalam rangka membangun kesetaraan dan kemitraan dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan. Tapi, itu belum sepenuhnya menyentuh pada dirumuskannya langkah-langkah strategis untuk mencapai suatu visi  dan goal, yakni kemitraan yang benar-benar setara dan saling menghargai antara laki-laki dan perempuan.

Ketika berbicara di acara diskusi yang digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) pada medio Februari 2012 lalu di Jakarta, Christina, menuturkan, kebebasan pers di tengah bangsa dan negara ini harus dipelihara dengan baik agar bisa mendidik masyarakat. Hal itu disampaikan mantan anggota DPR-RI dari Fraksi TNI/Polri ini saat berbicara tentang betapa pentingnya peran pers dalam membangun kehidupan masyarakat.

Mengenai pers Kristiani, ia berpendapat, “Saya melihat peran pers, seperti Majalah NARWASTU sangat penting untuk kehidupan umat kita. Saya banyak membaca media, tapi belakangan ini saya mulai rajin membaca NARWASTU, Bahana dan Hidup untuk pertumbuhan iman kita. Pers itu bisa mendidik tapi bisa juga menjadi provokator. Sekarang peranan pers sangat penting untuk membangun bangsa ini. Dalam hal ini saya bukan untuk mempromosikan NARWASTU, tapi saya menyampaikan ini, karena pers itu bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkas ibunda dari lima anak ini.

Christina adalah salah satu anggota DPR-RI yang cukup cerdas dan vokal pada periode 1999-2004 lalu. Selain aktif di dunia politik, perempuan berdarah Toraja ini aktif dalam kegiatan gereja. Bahkan, ia dipercaya sebagai Ketua Pembangunan Gereja Katolik Santo Albertus, Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia pernah menghadapi massa anarkis yang menyerang Gereja Santo Albertus, Harapan Indah, pada 18 Desember 2009 lalu. Saat itu, ia sangat sedih ketika umat beragama yang membangun tempat ibadahnya diserang dengan membabi buta oleh massa anarkis atau massa intoleran. Makanya, ia meminta agar aparat hukum jangan takut bertindak tegas.

Saat hadir di acara diskusi bertajuk Tantangan dan Peluang Caleg Kristen di Pemilu 2014 yang diadakan FDDI di Jakarta, baru-baru ini, Christina yang juga kini maju sebagai Caleg DPR-RI dari Partai Gerindra dari Dapil Jawa Barat (Kota Bekasi dan Depok) mengatakan, kalau ia terjun menjadi caleg Gerindra, itu karena ia ingin berbuat lebih banyak untuk perbaikan bangsa ini lewat parlemen. “Kan, ajaran Tuhan mengatakan, kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, jadi di panggung politik kita harus cerdik. Saya selama ini sudah bicara ke media dan menulis surat ke menteri untuk memberi masukan soal kebaikan bangsa ini, itu belum cukup. Tapi harus berbuat lebih banyak lagi lewat parlemen,” ujarnya.

 

Berita Terkait