Pesan Natal yang Sebenarnya Memberitakan Kabar Baik

929 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas. Pesan damai dan kabar baik.

 BERITANARWASTU.COM. Tak terasa tiba juga kita di ujung tahun 2016, yang di dalamnya terdapat dua momen, yakni Hari Natal dan Tahun Baru 2017. Indahnya pohon Natal dan kerlap kerlip lampu yang ada di mall, ikut menyemarakkan suasana Natal yang kini kian terasa. Di balik keindahan Natal itu, setiap umat Kristen tentu memiliki pendapat yang berbeda-beda seputar Natal. Malah ada yang masih menggumuli pesan apa yang ada pada Hari Natal itu. Menurut rohaniwan terkemuka, Pdt. DR. Nus Reimas, setiap tahun Natal tetap berjalan dan persoalan tetap ada.

Tapi justru dengan adanya persoalan itu, kata Ketua Majelis Pertimbangan PGLII ini, membuat Natal semarak. Sebab kalau tidak ada persoalan, maka tantangan-tantangan global, lokal dan nasional tetap ada. “Tapi bagaimana pun Natal harus tetap diberitakan sebagai kabar baik,” ujar mantan Ketua Umum PGLII selama dua periode yang juga tokoh lintas agama ini.

Dengan kata lain, menurut mantan Sekretaris Umum PGLII ini, bahwa Natal harus dimaknai sebagai pemberitaan kabar baik kepada dunia. Akan tetapi, tak dipungkiri jika esensi Natal sudah mulai bergeser, sehingga Natal hanya menjadi ajang seremonial semata. “Itu sangat tergantung pada pembinaan warga gereja. Kalau gereja itu mengutamakan upacara, maka akan kehilangan esensi. Tapi gereja harus tetap bergantung kepada Yesus Kristus dan Alkitab sebagai pengajaran hidup yang akan bertahan,” tegas salah satu pemimpin gereja aras nasional ini.

Di Amerika Serikat (AS) saja, kata Pdt. Nus Reimas yang juga Ketua Dewan Pembina LPMI, beberapa waktu lalu ramai dengan perayaan Helloween dan gereja ikut merayakannya. “Jadi agak aneh kehidupan di dunia ini. Hal itu, karena tidak berakar dalam pemahaman akan Firman Tuhan. Jadi cenderung upacara semata,” jelas Pdt. Nus Reimas yang juga Pembina/Penasihat Majalah NARWASTU soal penyebab hilangnya esensi Natal.

Selaian krisis ekonomi yang diprediksi akan tetap berlanjut di masa yang akan datang, musibah bencana alam yang juga mewarnai perjalanan tahun 2016 ini, di sisi lain ada gejolak politik yang kian memanas di Indonesia menjelang Pilkada 2017. “Isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) yang masih mengemuka, yang ditengarai oleh aksi demo besar-besaran pada 4 November 2016 lalu tentu menjadi catatan untuk bangsa ini, terlebih dalam sikap saling menghargai antarumat beragama,” ujarnya.

“Diperlukan kedewasaan bangsa kita dalam hal berdemokrasi. Untuk apa urusan pilkada di Indonesia memakai isu SARA. Itu tandanya orang tidak siap. Jadi secara menyeluruh pengkaderan di negeri ini, baik daam bidang sosial, politik, pemerintahan sampai pada gereja, itu pengkaderan makin lemah. Nah, ketika orang itu merasa tidak nyampe, maka menciptakan isu. Kalau tidak, maka dia tenggelam dan itu biasa di dalam kehidupan,” terangnya.

Menurut Pdt. Nus Reimas, dari hari ke hari dibutuhkan kedewasaan untuk melihat segala sesuatu dan itu pun bisa dikatakan sebagai tanda-tanda zaman. “Makin dekat kedatangan Tuhan Yesus, maka makin ramailah dunia ini,” katanya sembari tersenyum. Kendati permasalahan akan tetap ada, imbuhnya, tapi kelahiran Sang Juruselamat menegaskan bahwa masih ada setitik harapan bagi setiap mereka yang percaya kepadaNya.

Di pengujung perbincangannya dengan Majalah NARWASTU, Pdt. Nus Reimas menuturkan sejumput asanya. “Jangan kita fokus pada Natal. Tapi fokuslah pada pemberitaan atau pengajaran yang sehat, sehingga gereja dari waktu ke waktu melewati zaman apapun. Dan bahwa Natal itu nuansanya beda sesuai perkembangan zaman, tapi esensi iman Kriten harus tetap dibangun dengan pengenalan akan Dia, Sang Juruselamat,” ujar tokoh gerakan oikoumene Indonesia ini. BTY

Berita Terkait