PGI Sampaikan Pesan Pastoral untuk Pilkada Serentak 2017

704 dibaca
Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (kiri) didampingi Pdt. Henri Lokra, S.Th saat menyampaikan Pesan Pastoral PGI untuk Pilkada Serentak 2017 di Grha Oikoumene PGI, Jakarta.

               BERITANARWASTU.COM. Pada 15 Februari 2017 kembali bangsa Indonesia akan melaksanakan hajatan demokrasi yang penting dalam perjalanan bangsa ini, yaitu pemilihan kepala daerah (Pilkada), di 101 daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Menyadari tugas panggilan gereja, yaitu bersama semua orang yang berkehendak baik ikut serta membangun masyarakat berkeadaban, PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) merasa perlu untuk menerbitkan Pesan Pastoral, terkait pilkada ini.

Melalui Pesan Pastoral ini diharapkan bisa menjadi pedoman bagi gereja-gereja di Indonesia dalam menentukan sikap etis terhadap pilkada serentak ini. Pesan Pastoral ditujukan kepada gereja-gereja, warga gereja, para pasangan calon, partai politik, penyelenggara Pilkada, dan aparat keamanan. Kepada gereja-gereja, PGI menyerukan, pertama, tidak boleh terjebak dalam dosa menghalalkan segala cara demi nafsu kekuasaan, termasuk terjebak dalam pendekatan sektarian, atas nama agama, suku dan ras, yang bisa memecah-belah kita sebagai bangsa. Kedua, hindari penggunaan gedung gereja atau rumah ibadah sebagai ajang kampanye, atau menggunakan mimbar gereja untuk menggalang dukungan bagi para calon.

Ketiga, gereja terpanggil untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan siapa pun dalam mengawasi jalannya pilkada, pun pasca pilkada. Artinya, gereja berkewajiban mengingatkan umat untuk mengawasi kebijakan-kebijakan politik pemimpin yang terpilih agar berjalan sesuai dengan konstitusi demi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian bangsa. Keempat, tanggung jawab politik gereja adalah dengan melakukan pendidikan politik warga gereja agar mereka mampu menggunakan hak pilih mereka secara rasional dan bertanggungjawab demi kebaikan bersama, serta bersikap kritis dan berani menolak politik uang, sebagai perwujudan iman Kristiani kita dalam berbangsa.

Kepada seluruh warga gereja, PGI menyerukan, pertama, dalam pilkada nanti, pilihlah calon pemimpin yang memiliki: Integritas, kejujuran, keberanian dan komitmen melawan segala bentuk korupsi dan manipulasi, komitmen pada konstitusi dan keanekaragaman bangsa, kemauan bekerja keras untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara, serta komitmen untuk menopang pembangunan yang berwawasan lingkungan. Kedua, tolaklah calon pemimpin yang memanipulasi isu-isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), diskriminasi berbasis gender dan kampanye gelap yang menyudutkan pasangan calon tertentu.

Sedangkan kepada para pasangan calon, PGI menegaskan, pertama, mengapresiasi keikutsertaan mereka dalam kontestasi pilkada ini. PGI percaya pencalonan mereka adalah wujud keterpanggilan membangun proses demokrasi dan keadilan bagi bangsa. Kedua, PGI mengharapkan komitmen para calon untuk memperjuangkan kepentingan rakyat terutama mereka yang miskin, yang mengalami diskriminasi dan termarjinalkan. Hendaklah calon itu bersikap jujur, menjauhkan diri dari suap maupun dari penggunaan dana-dana Pemerintah (seperti dana bantuan sosial yang seharusnya digunakan untuk mensejahterakan rakyat) untuk kepentingan kampanye.

Ketiga, kualitas kenegarawanan si calon  akan terlihat dalam caranya bertindak dan berkampanye. Oleh karena itu, jangan menghalalkan cara-cara yang melanggar hukum atau memanipulasi isu gender, SARA yang bersifat sektarian dan primordial sempit demi kekuasaan. Keempat, saat pilkada usai, PGI berharap mereka mampu berjiwa besar, terutama saat menerima hasil pilkada demi menjaga ketertiban, perdamaian dan ketenteraman masyarakat.

Sementara itu, kepada partai politik, PGI lewat ketua umumnya Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang menyerukan agar partai politik merupakan unsur penting dalam membangun kultur dan struktur demokrasi bangsa kita. Partai politik diharapkan mampu mempersiapkan kader-kader bangsa yang bukan terutama memperjuangkan kepentingan partai politik atau kepentingan primordialistik etnik atau agama. Sebaliknya, partai politik berfungsi mempersiapkan kader-kader bangsa yang memiliki integritas, kapasitas, kejujuran dan berkomitmen pada tegaknya konstitusi.

Sebab itu, partai politik mestinya tidak terjebak pada pragmatisme sesaat yang memperjuangkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, termasuk politik uang dan politisasi SARA. Kepada penyelenggara pilkada dan aparat keamanan, PGI menyerukan agar penyelenggara pilkada, yakni KPU, Bawaslu/Panwas, PGI berdoa dan berharap, semoga mereka mampu melaksanakan mandat secara profesional dan bertanggung jawab, jujur, adil, transparan dan tidak memihak.

Masa depan demokrasi kita bergantung pada integritas dan kejujuran mereka. Sementara untuk aparat keamanan, PGI melihat dan  PGI mendoakan agar aparat keamanan mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan tulus, baik dan profesional, sehingga pilkada dapat berjalan dalam suasana yang kondusif, aman dan tenteram bagi seluruh warga dalam menggunakan hak pilihnya.

Berita Terkait