Pdt. DR. Sarah Fifi, S.Th., M.Si.
Pikiran Kita akan Positif Kalau Dipimpin Roh Kudus

743 dibaca
Pdt. DR. Sarah Fifi, S.Th., M.Si.

Beritanarwastu.com. Dalam hidup ini, kita harus memikirkan yang baik, suci, benar, mulia dan indah. Jangan pikirkan yang negatif agar kita jangan lemah. Kalau seseorang memikirkan yang negatif, maka seseorang itu akan lemah. Sebab itu, agar kita punya hidup yang baik, maka harus kita ingat Filipi 4:8 tentang semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, semua kebajikan dan patut dipuji. Dan itu yang harus kita pikirkan. “Hidup ini memang tidak mudah, banyak tantangan yang harus kita hadapi. Sehingga kita jangan ikuti emosi, tapi ikuti suara Roh Kudus. Dosa itu sebenarnya berawal dari pikiran negatif,”  ungkap Pdt. DR. Sarah Fifi, S.Th., M.Si kepada NARWASTU, baru-baru ini.

                Pdt. Sarah Fifi yang juga Wakil Ketua Sinode Gereja Kristen Getsemani dan pimpinan Yayasan Apostel Bangun Bangsa menerangkan, kalau kita ingin beraktifitas di pagi hari, jangan mulai dengan pikiran negarif, tapi awali dengan pikiran positif. “Hidup ini akan lebih enjoy kalau kita berpikiran positif. Mari kita minta kekuatan dari Tuhan agar kita rendah hati, dan kita jangan sombong, agar hati kita diberi damai sejahtera surgawi. Kesombongan adalah awal dari kejatuhan seseorang, seperti Lucifer dulu jatuh karena ia sombong, dan ingin disembah. Orang yang rendah hati itu akan selalu positif thinking,” paparnya.

                Pdt. Sarah Fifi menuturkan, orang yang gampang tersinggung, gampang terluka atau pendendam adalah orang yang kerap berpikiran negatif. “Pikiran positif selalu akrab dengan orang-orang yang berhasil atau sukses. Tapi kalau kita selalu menyimpan akar pahit, dendam, kebencian di masa lalu, maka itu akan meracuni tubuh dan hati kita. Begitu juga kalau orangtua selalu menyampaikan kata-kata yang negatif terhadap anak-anak atau istrinya, itu bisa membunuh jiwa si anak atau istri. Ucapan atau kata-kata itu sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Makanya, kata-kata atau ucapan seorang motivator, seperti Mario Teguh itu bisa menggugah semangat banyak orang,” terangnya.

                Ada ungkapan berbunyi: Sukses seorang pria pasti di belakangnya ada seorang perempuan hebat. Sebaliknya, Sukses seorang perempuan pasti di belakangnya ada seorang pria hebat. Jadi kalau seorang pria atau suami sering menyakiti hati istrinya dengan kata-kata yang negatif, bagaimana mungkin istrinya sukses dalam berkarier atau mengurus rumah tangga. Begitu juga kalau seorang perempuan atau istri selalu mengeluarkan kata-kata negatif yang tidak membangun semangat kepada suaminya, bagaimana mungkin suaminya sukses. Sebab itu, antara suami dan istri harus saling mendukung, jangan saling menyakiti.

                “Dalam sebuah rumah tangga, istri dan anak-anak adalah domba-domba, sedangkan suami adalah gembala. Gembala yang baik mesti melindungi domba-dombanya. Suami sebagai kepala rumah tangga harus bisa menjadi imam juga bagi domba-dombanya. Demikian juga istri harus bisa menjadi penolong atau pelayan bagi suaminya. Kata ‘penolong’ di sini bukan berarti istrinya lebih hebat dari suaminya, tapi di sini penting peran seorang istri di dalam rumah tangga dalam menopang suami,” tukas Hamba Tuhan yang juga seorang pengajar di berbagai lembaga Kristen, dan konselor tentang masalah keluarga ini.

                Pdt. Sarah Fifi menambahkan, kalau seseorang pria atau wanita sudah meraih kesuksesan atau prestasi, misalnya, ia mendapat kekayaan, kehormatan (popularitas yang baik) dan keturunan dalam kehidupannya, ia seharusnya membuat itu untuk kemuliaan Tuhan. “Apapun yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini, apakah kekayaan atau kehormatan, biarlah itu hanya untuk kemuliaan Tuhan. Semakin seseorang kaya, seharusnya dia semakin peka membantu sesama yang kurang beruntung. Juga orang yang dihormati, seharusnya semakin mampu menghormati sesama. Juga orang yang memiliki keturunan, harus mensyukuri berkat Tuhan itu dengan mengurus anak-anaknya dengan baik. Karena tidak semua orang diberi Tuhan anugerah anak,” cetusnya.

                  Dalam tradisi masyarakat Batak, kata Pdt. Sarah Fifi, ada disebut filosofi untuk mendapatkan kekayaan, keturunan dan kehormatan di dalam kehidupannya. “Itu sebenarnya kalau dilihat dari nilai-nilai Kristen ada ditulis. Bahwa kekayaan, kehormatan dan kehidupan ada di tangan kananNya dan tangan kiri Tuhan. Sehingga kalau kita ingin mendapatkan itu, kita harus mau merendahkan hati kepada Tuhan dengan berdoa dan taat akan ajaranNya. Juga kita harus bisa memuliakan Tuhan kalau sudah mendapatkan kekayaan, keturunan dan kehormatan itu,” pungkas Ibu Pendeta yang juga mantan Ketua Bidang Teologia dan Kerohanian DPP PIKI ini. KKH

 

 

Berita Terkait