Pdt. DR. Nus Reimas.
Pikirkan Orang Lain, Maka Tuhan akan Pikirkan Kita

845 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas.

beritanarwastu.com. Ketika Allah mulai menciptakan dunia ini, Dia hadir dengan pikiran yang positif. Tuhan menciptakan dunia ini agar manusia makmur, sejahtera dan penuh dengan limpahan berkat. Tuhan itu  sangat memikirkan orang lain, Dia bukan hanya memikirkan diriNya sendiri. Bagaimana agar kita menjadi berkat bagi orang lain, maka kita harus memikirkan keadaan orang lain.

Saat terjadi tragedi September 2001 di New York, Amerika Serikat (AS), banyak orang bertanya, di manakah Tuhan itu? Karena waktu itu ribuan orang jadi korban. Itu sebenarnya kita meragukan kehadiran Tuhan, dan kita di situ sudah berpikir negatif.

Demikian diungkapkan Pdt. DR. Nus Reimas saat menyampaikan khotbah dalam ibadah di Gereja Isa Almasih (GIA) Taman Harapan Baru, Bekasi Barat, Jawa Barat, baru-baru ini. Saat itu, Pdt. Nus Reimas mengutip renungan dari Filipi 2:1-11 tentang nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus. Menurut mantan Direktur Nasional LPMI dan mantan Ketua Umum PGLII ini, sekarang banyak orang lebih suka membaca media cetak atau menonton media elektronik daripada membaca Alkitab. “Makanya, saya mengatakan kepada pimpinan Majalah NARWASTU sebagai media rohani agar terus memberitakan tentang pikiran-pikiran yang positif atau pikiran-pikiran Kristus,” papar Ketua Majelis Pertimbangan PGLII ini.

Menurutnya, perkembangan dunia sekarang, telah membuat banyak orang menjadi konsumerisme dan pragmatisme. Karenanya, kita harus selalu memiliki pikiran seperti pikiran Kristus. Seperti ditulis di Kitab Amsal, kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. “Dari hati dan pikiran kita akan terpancar siapa diri kita. Kalau hubungan kita baik dengan Kristus, kita selalu bersekutu dengan Dia dengan baik, maka pikiran-pikiran yang kita pancarkan akan positif dan seperti pikiran Kristus,” terangnya.

Dulu Yesus mengosongkan diriNya, dengan Dia menjadi pelayan, dan Dia merendahkan diriNya agar manusia bisa selamat. “Sekarang banyak orang yang selalu meninggikan dirinya, dan tidak mau menjadi pelayan. Dia dari surga turun ke bumi, dan dari Tuhan turun menjadi manusia, karena peduli kepada manusia. Dia memikirkan orang lain. Dari hidup Dia mati di kayu salib demi menyelamatkan manusia, ini luar biasa,” tukasnya.

Hidup ini, imbuhnya, adalah anugerah. Ada maksud Tuhan di dalam diri kita ketika kita ada di dalam kehidupan ini. “Sehingga kita harus membangun pikiran Kristus di dalam diri kita, dan mewujudkannya di dalam aksi. Dia melayani dan mengorbankan diriNya, itulah wujud kepedulianNya terhadap sesama. Karenanya, kita harus berani berkorban dan melayani sesama di dalam hidup ini. Semakin banyak kita berkorban, maka akan semakin banyak juga kita menuai,” pungkas Penasihat FORKOM NARWASTU ini.

Menurut Pdt. Nus Reimas, pikiran dan perasaan yang harus kita bangun di dalam diri kita harus seperti pikiran dan perasaan Kristus. “Yesus merendahkan diriNya dan mau berkorban. Yesus pun  mengubah kematian jadi kehidupan. Dia mengubah dosa menjadi berkat,” paparnya. Katanya lagi, pikiran positif dari Yesus juga kita lihat saat Dia mengampuni orang berdosa. “Pikiran Kristus pun adalah bagaimana kita memikirkan orang lain. Pikirkanlah orang lain, maka Tuhan akan memikirkan kita,” ucapnya.

Pdt. Nus Reimas bersaksi, saat terjadi konflik berdarah di Maluku pada 1998 lalu, ia berhasil mengampuni orang-orang yang sudah menewaskan 43 anggota keluarganya dalam konflik berdarah itu. “Dengan pertolongan Roh Kudus, saya ampuni mereka, dan itu merupakan ujian bagi iman saya. Dan saya bisa mengampuni orang-orang yang menganiaya anggota keluarga saya. Kita mengampuni orang lain, karena kita meniru pikiran Kristus,” ucap salah satu tokoh yang dulu ikut mencetuskan Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) itu. JKN

Berita Terkait