Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019

616 dibaca
Pada 2 Juli 2014 lalu Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diundang sebagai pembicara tentang “Pilpres 2014 dan Sikap Warga Gereja” di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat.

BERITANARWASTU.COM. Foto yang ditampilkan di bawah ini adalah suasana sebuah acara diskusi saat saya diundang sebagai pembicara di Gereja GPIB Jemaat Harapan Indah, Kota Bekasi, pada medio 2014 lalu menjelang Pilpres (pemilihan presiden) 2014 lalu. Diskusi yang diawali dengan kebaktian itu, topiknya “Pilpres 2014 dan Sikap Warga Gereja Terhadap Keadaan Bangsa dan Negara”, dan bertujuan untuk memberi pencerahan atau pencerdasan agar jemaat tahu bersikap atas keadaan negerinya. Ketika itu saya menjelaskan situasi dan kondisi sosial politik saat itu, tentu dari sudut pandang sebagai jurnalis.

Dan ternyata jemaat cukup antuasias bertanya tentang pilpres yang kala itu memang ketat, dinamis dan heboh, apalagi karena pemberitaan di media massa, TV, dan media sosial (medsos). Dan ketika itu bertarung dua pasangan capres-cawapres nasionalis, Jokowi-Jusuf Kalla versus Prabowo Soebianto-Hatta Rajasa. Dan saat itu masyarakat pun terbelah di dalam dua kubu, karena masing-masing calon punya pendukung yang fanatik.

Mencermati Pilkada DKI Jakarta pada 2017 ini, saya jadi ingat lagi Pilpres 2014 lalu. Pasalnya, di Pilkada DKI Jakarta saat ini, yang bertarung adalah Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat yang didukung PDIP (Megawati-Jokowi) dan sejumlah parpol nasionalis versus Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yang disokong Partai Gerindra-PKS (Prabowo Soebianto). Jadi sadar atau tidak sadar, dan suka atau tidak suka, pertarungan calon gubernur di DKI Jakarta ini sudah disebut-sebut mirip atau serasa Pilpres 2019. Dan seolah-olah mengulang Pilpres 2014 lalu, karena berhadapan pendukung PDIP versus pendukung Partai Gerindra. Padahal, kalau kita ingat lagi Pilpres 2009, Megawati-Prabowo itu berpasangan, namun mereka kalah dari pasangan SBY-Boediono. Itulah politik. Kawan bisa jadi lawan, dan sebaliknya lawan bisa jadi kawan.

Dan perhatian media nasional, penggiat medsos, lembaga survei, bahkan media internasional sekelas CNN, Strait Times dan New York Times pun cukup besar terhadap event Pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Tampilnya pasangan calon Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga di Pilkada DKI Jakarta, boleh disebut sebagai representasi dari tokoh-tokoh muda nasionalis yang kelak berpotensi menjadi pemimpin nasional. Makanya, CNN dalam analisisnya menulis, pemenang di Pilkada DKI Jakarta 2017, punya peluang besar untuk tampil di Pilpres 2019 mendatang.

Bahkan, koran nasional Rakyat Merdeka dalam sebuah edisinya menulis, calon gubernur yang bertarung di putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta, bakal menjadi cawapresnya Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019 mendatang. Dan saat ini, seperti disimpulkan dari diskusi tokoh-tokoh Kristiani yang tergabung di FORKOM NARWASTU pada 9 Februari 2017 lalu di Jakarta, para pemimpin gereja atau pendeta dan tokoh Kristen, selain berdoa untuk acara politik ini, pun harus bisa mengupayakan umat agar bisa damai, tenang, rukun dan mengedepankan etika berdemokrasi saat mengikuti pilkada ini.

Siapapun pemenang di Pilkada DKI Jakarta 2017, kita imani bahwa Tuhan mengizinkannya untuk memimpin DKI Jakarta agar warga di ibukota RI ini semakin sejahtera, damai, rukun dan hidupnya semakin bermartabat dan berpengharapan. Ahok adalah figur yang berani dan berkarakter, dan Anies adalah sosok intelektual serta santun, dan keduanya punya keunggulan dan kelemahan. Siapapun yang terpilih dari keduanya, kita harapkan agar mereka tetap Pancasilais, mampu merawat kemajemukan di negeri ini, berjiwa pelayan, mau berkorban untuk rakyat dan punya integritas tinggi (ucapan dan tindakan sejalan).

Dan yang tidak kalah pentingnya diperhatikan dari pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017 ini, agar para calon dan tim sukses yang tampil tidak bermain politik ala Niccolo Machiavelly (menghalalkan cara). Tapi sebaiknya kedepankanlah politik ala Socrates, yang mengutamakan etika dan moral berpolitik. Kita berdoa agar anak-anak bangsa ini, terutama warga di DKI Jakarta yang akan memilih pemimpinnya bisa merendahkan hati dan berdoa di hadapan Tuhan, karena seperti ditulis di Kitab Amsal 14:26, ”Dalam takut akan Tuhan ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anakNya.” Kiranya Pilkada DKI Jakarta ini ditolong dan dilindungi Tuhan, agar warga kota ini pun damai dan tenteram saat memiliki pemimpin baru. Semoga. Jonro I. Munthe, S.Sos.

 

Berita Terkait