Pimpinan Umat Memaknai 500 Tahun Reformasi Gereja

297 dibaca
Seminar 500 Tahun Reformasi bersama Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette T. Lebang di Graha Oikoumene, Jakarta Pusat.

               Beritanarwastu.com. Dalam rangka peringatan 500 Tahun Reformasi harus diadakan pengakuan dosa tentang luka yang dalam dan hubungan antargereja yang rusak akibat perpecahan gereja. Ajakan ini sesuai dengan tema “Pekan Doa untuk Kesatuan Kristus Tahun 2017” yang mengajak gereja-gereja memusatkan perhatiannya kepada pelayanan pendamaian yang harusnya dimulai dari diri gereja, agar gereja mampu melakukan tugas panggilannya di tengah dunia secara bersama-sama ke depan sebagai satu tubuh Kristus.

Demikian penegasan Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang dalam seminar bertajuk “500 Tahun Reformasi” di Graha Oikoumene, Jakarta Pusat, pada Selasa, 31 Oktober 2017 lalu. “Seruan Apostolik Paus Fransiskus pada tahun 2013, Evangelii Guadium (The Joy of the Gospel, Sukacita Injil) memberi inspirasi lahirnya tema tahun ini, terutama ketika kutipan ini digunakan, yaitu kasih Kristus menguasai kita. Pengakuan kesalahan dan dosa, serta upaya rekonsiliasi dan tekad bersama untuk melangkah ke depan dalam semangat kesatuan tubuh Kristus merupakan bagian integral dari peringatan 500 Tahun Reformasi tahun 2017 ini,” jelas Pdt. Ery, panggilan akrab Ketua Umum PGI.

Lebih jauh Pdt Ery menjelaskan, Prof. Dr. Margot yang ditugaskan secara khusus oleh Gereja Protestan Jerman untuk mengkoordinir peringatan 500 Tahun Reformasi menggarisbawahi bahwa peringatan reformasi di tahun 2017 ini akan menjadi sebuah sumber pembaharuan dan inspirasi bagi perjalanan kita ke depan.

Ketua Umum PGI melihat belakangan ini, merebak ketegangan bahkan konflik internal gereja maupun antargereja, khususnya di kalangan gereja Protestan. Sebab itu, ajakan Paus Fransiskus, yaitu lets us abandon a language of condemnation and embrace one of mercy menjadi relevan untuk menggugah dan mengajak gereja-gereja menjauhi sikap saling menyalahkan dan memfitnah, mengatasi mentalitas dan perilaku koruptif, belajar untuk menghidupi rahmat Allah yang merangkul semua orang apapun latar belakangnya, serta merawat keutuhan seluruh ciptaan.

“Pada peringatan 500 Tahun Reformasi ini, gereja-gereja diajak untuk merenungkan ulang semboyan reformasi gereja, yaitu Sola Gracia, Sola Fide, dan Sola Scriptura. Bahwa gereja sebagai persekutuan orang percaya dan keselamatan di dalam Kristus kita terima semata, karena rahmat Allah, yang diterima hanya karena iman yang berlandaskan hanya pada Firman Allah,” jelasnya.

Lebih jauh diungkapkannya, gereja perlu waspada agar warganya tidak terperangkap dalam roh-roh zaman ini yang mengutamakan nilai-nilai dunia, yakni persaingan yang tidak sehat, sikut menyikut, serta kecenderungan mengejar kuasa, kedudukan dan uang. Nilai-nilai ini amat mudah memecah belah persekutuan gereja dan membuat gereja kehilangan kemampuannya untuk menjadi garam dan terang dunia sebagaimana harapan Yesus. Hidupnya tidak lagi mencerminkan nilai-nilai Injil Kerajaan Allah, karena telah menjadi tawar, tidak mampu memberi rasa enak bagi sekitarnya, gagal mencegah kebusukan, sinarnya memudar bahkan cenderung hidup dalam kegelapan.

“Jika demikian keadaannya, konflik dan perkelahian dalam gereja acap tidak dapat dielakkan. Dalam suasana ini gereja kehilangan kekuatannya dan kredibilitasnya untuk melakukan amanat Tuhan Yesus agar mereka memberitakan Injil kepada segala makhluk sampai ke ujung bumi dan hingga akhir zaman,” tegasnya. 

Sementara itu Romo A. Eddy Kristiyanto berpendapat, momentum 500 Tahun Reformasi telah membawa kita keluar dari perselisihan dan aksi kutuk mengutuk. Sebab itu, yang perlu dikedepankan sekarang, yaitu kerjasama, dialog, saling memahami melalui perjumpaan dan kesepakatan yang ditindaklanjuti dalam aksi yang dievaluasi secara berkesinambungan. KS 

Berita Terkait