Piter Siringoringo, S.H. Bicara Tantangan Bangsa, Capres RI dan Tahun Politik 2018-2019

444 dibaca
Piter Siringoringo, S.H. saat diwawancarai TV asal Korea Selatan, "CGNT" tentang kiprahnya sebagai Tokoh Kristiani 2017 Pilihan Majalah NARWASTU.

Beritanarwastu.com. Di tahun politik 2018 ini, meskipun banyak orang bicara Pilkada 2018 namun perhatian publik tetap lebih tersedot ke Pilpres 2019 yang akan memilih presiden. Dan masyarakat agaknya masih menginginkan Presiden Joko Widodo untuk kembali memimpin Indonesia satu periode lagi, karena beliau merakyat. Dan kalau ada tokoh politik yang mengatakan, Indonesia akan bubar 30 tahun lagi, itu pemikiran pesimis dan tidak bijaksana, dan tak usah diperhatikan. Kita harus tetap optimis dan terus berdoa kalau Indonesia ini ingin maju. Tahun 2018 dan 2019 digembar-gemborkan sebagai tahun politik, karena memang ramai dan cukup panas dalam hal memilih kepala daerah dan memilih Presiden Indonesia.

            Demikian diungkapkan advokat/pengacara senior, Piter Siringoringo, S.H. saat ditanya pendapatnya tentang tahun politik 2018 dan 2019 ini. Ketua DPC PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) Jakarta Timur yang dikenal dengan program Probono atau membantu orang miskin dalam bidang hukum ini menerangkan, tekanan politik terhadap Jokowi sejak menjabat sebagai Presiden RI harus diakui luar biasa kuat. "Kehebatan Pak Jokowi dan para pembantunya kita lihat saat mampu mengatasi kelompok teroris, seperti ISIS dan kelompok radikalisme yang berupaya menggoyang Pancasila untuk menggantinya dengan ideologi lain. Tantangan berat bangsa ini sekarang adalah menghadapi kelompok yang ingin mengganti ideologi bangsa, dan itu mampu diatasi Jokowi dan timnya," ungkap pria Batak yang juga pemuka keluarga besar Punguan Siringoringo se-Jabodetabek dan lulusan Fakultas Hukum USU (Universitas Sumatera Utara), Medan ini.

           Pengacara nasionalis, religius dan humanis ini semasa mudanya adalah aktivis mahasiswa di Medan. Bahkan saat muda ia sudah ditawari parpol nasionalis untuk menjadi wakil rakyat, namun ia menolak. Dan pernah ia menjadi Sekretaris Umum Pemuda Gereja HKBP Teladan, Medan. Piter Siringoringo yang sudah banyak menangani kasus hukum yang menyita perhatian media massa, dalam kiprahnya pernah pula memenangkan sebuah perkara hukum melawan seorang advokat senior yang pernah pula menjabat petinggi hukum di negeri ini. Mantan Ketua Pembangunan Gereja HKBP Jemaat Bintara, Kota Bekasi, Jawa Barat, ini termasuk pula dalam "21 Tokoh Kristiani 2017 Pilihan Majalah NARWASTU." Sekarang Piter selain sibuk sebagai profesional menangani kasus-kasus hukum, ia pun bersama DPC PERADI Jakarta Timur aktif membina pengacara-pengacara pemula serta sering membantu orang-orang kurang beruntung dalam mendapatkan keadilan melalui DPC PERADI Jakarta Timur yang dipimpinnya.

          Menurut Piter, seandainya Jokowi terpilih lagi di Pilpres 2019 bukan tidak mungkin ada keinginan rakyat agar TAP MPR-RI diubah agar beliau bisa dipilih untuk tiga periode. Asal Pak Jokowi konsisten dan terus menjaga integritas dalam membangun bangsa ini agar semakin baik dan sejahtera. Prestasi Jokowi selama ini, katanya, seperti membangun infrastruktur begitu luar biasa, menumpas terorisme dan radikalisme. "Kalau kelompok radikalisme dibiarkan merajalela di Indonesia bukan tidak mungkin bangsa ini terpecah belah seperti yang terjadi di Timur Tengah. ISIS di Timur Tengah itu luar biasa dan hendak masuk ke Indonesia, lalu itu yang dilawan Jokowi dan timnya. Di sisi lain, tokoh-tokoh nasionalis, tokoh TNI pun dia rangkul, termasuk Ketua Umum MUI dan KPK diperkuat. Makanya rakyat berharap banyak kepadanya," cetus mantan Wakil Ketua DPC AAI (Asosiasi Advokat Indonesia) Jakarta Timur ini.

         Sekaitan dengan peran KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Piter menerangkan, tugas KPK itu untuk memberantas korupsi sehingga sifatnya represif terhadap pejabat atau siapapun yang menyelewengkan anggaran atau mengambil uang negara. "Namun kita harapkan juga peran KPK untuk bisa ikut mencegah dan mengawasi para pejabat atau politisi agar jangan sampai korupsi atau memainkan uang negara," papar Piter yang sekarang kerap memberi bekal dan motivasi kepada mahasiswa lulusan Fakultas Hukum dari berbagai kampus di DKI Jakarta dan sekitarnya.

        Terkait dengan adanya pernyataan tokoh politik di Indonesia baru-baru ini yang mengatakan, Indonesia akan bubar 30 tahun lagi, Piter berpendapat, pernyataan itu tak kondusif dan yang bersangkutan hanya terpengaruh pada novel fiksi. "Seharusnya tokoh politik itu bijak kalau bicara, tak sembarang ngomong. Kebersamaan dan persatuan di tengah bangsa ini mesti dibangun dan diutamakan. Jangan pula para politisi memainkan isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) dalam event-event politik demi kepentingan kelompoknya. Kalau bangsa ini ingin damai, aman dan sejahtera, maka jangan main-main dengan isu SARA, karena itu bahaya. Sikap nasionalisme dan kebangsaan itu justru harus kita kembangkan di tengah negeri ini. Pak Jokowi itu tokoh nasionalis yang memikirkan kepentingan rakyatnya. Pak Jokowi mendukung KPK dan menumpas bahaya radikalisme, dan itu adalah sikap mulia dari seorang tokoh bangsa. Dan beliau harusnya kita dukung dan doakan," tukas Piter yang punya istri boru Hutagalung yang aktif sebagai sintua di gereja HKBP.

          Bicara soal kepala daerah yang kini akan bertarung di Pilkada 2018, Piter mengharapkan agar rakyat memilih dengan cerdas dan cermat. Kalau calon itu, katanya, terindikasi korupsi, maka tak usah didukung atau dipilih. Di sisi lain, aparat keamanan seperti TNI dan POLRI kita harapkan agar peka dalam melihat daerah-daerah rawan agar pelaksanaan pilkada bisa berlangsung dengan aman dan damai. Dalam memilih seorang kepala daerah, imbuh Piter, idealnya calon tersebut mesti putra daerah namun harus seorang yang nasionalis, bersih dari korupsi, mencintai daerahnya, tidak ingin memperkaya diri dan kelompoknya serta janji-janjinya bisa dipegang. "Dan calon kepala daerah itu jangan dipilih yang suka main politik uang atau money politics," tegasnya.

          Piter Siringoringo pun mengimbau para pemimpin gereja dan jemaat supaya cerdas di dalam memilih calon-calon kepala daerah. "Jangan karena ada hubungan marga atau kaitan keluarga, padahal si calon bermasalah, lalu calon tersebut yang didukung. Tapi perhatikanlah kemampuan atau SDM (sumber daya manusia) calon tersebut dan karyanya di tengah masyarakat. Jangan pula terpesona dengan tampilan fisiknya atau janji-janjinya, namun lihatlah jejak rekamnya," tegas pria yamg sudah berulang kali dilamar sejumlah parpol nasionalis agar bersedia menjadi caleg itu, namun Piter tak bersedia jadi politisi atau caleg. Dan ia merasa panggilan hidupnya dari Tuhan adalah menegakkan keadilan dan kebenaran lewat profesi pengacara.

         Demikian juga caleg-caleg yang akan tampil di Pemilu 2019, kata Piter, harus dipilih yang sungguh-sungguh punya kapasitas, cerdas, bersih dari hal yang tercela, mencintai NKRI, bisa memberi teladan kepada masyarakat dan tidak yang hanya mempertontonkan kemewahan atau politik uang ke tengah masyarakat. "Media massa itu menyoroti figur caleg-caleg, jadi kita pun harus cermati kiprah para caleg itu melalui media massa. Dan saya imbau pula para pemimpin gereja agar konsisten dalam tugas panggilannya untuk menyatakan kebenaran, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan ketika menyikapi event politik seperti pilkada atau pemilu," tandas Piter Siringoringo. KKH

Berita Terkait