Dennis Firmansjah, M.M.
Profesional dan Pengurus Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI)

946 dibaca
Dennis Firmansjah. Tegas dan punya prinsip.

BERITANARWASTU.COM. Pria cerdas yang semakin bijaksana ini adalah seorang profesional dan pelaku bisnis serta salah satu Bendahara Nasional Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI). Kini Dennis Firmansjah, M.M. juga menjabat sebagai Managing Partner DF Solusi Consulting.  Dennis yang sudah 36 tahun lebih berkarya di dunia bisnis, dan akrab disapa Pak Dennis oleh koleganya, lahir di Bogor, Jawa Barat, 13 Juni 1954 silam. Ia merupakan lulusan magister manajemen dari Asian Institute of Management (AIM) Manila, Filipina, dan memperoleh penghargaan sebagai salah satu alumni terbaik pada tahun 2005.

Selama ini ia dikenal sebagai seorang profesional yang punya reputasi bagus di dunia bisnis, sehingga ia sekarang berkiprah sebagai seorang konsultan bisnis yang mumpuni. Bahkan, ia pernah maju sebagai calon anggota Otoritas Jasa Keuangan. Dennis sudah puluhan tahun malang melintang dan makan asam garam sebagai CEO dan Direktur di sejumlah perusahaan jasa keuangan. Anggota jemaat Gereja Kristus, Bogor, Jawa Barat, ini pun tak jarang diundang sebagai pembicara atau dosen tamu oleh sejumlah instansi dan perguruan tinggi. Melalui FGBMFI, misalnya, ia pernah berbicara tentang kaitan kepemimpinan dan uang di Makassar.

Menurutnya, seorang pemimpin itu, apalagi seorang pemimpin Kristen harus memahami nilai-nilai Kristiani. “Nilai-nilai Kristiani itu harus menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari,” ujar pria yang punya lagu kesukaan Amazing Grace ini. Ia menuturkan, nilai-nilai Kristiani itu antara lain, kita jangan berutang pada orang lain dan tidak dibayar. “Jangan suka membuat gosip, jangan menciptakan suasana permusuhan, jangan mengeluarkan kata-kata negatif dan jangan melakukan perbuatan tercela. Karena kalau kita melakukan hal yang tidak baik, maka itu menyakiti hati Bapa kita yang di surga. Obsesi saya dalam hidup ini agar saya bisa menjalankan nilai-nilai Kristiani dengan sebaik mungkin,” ujar Sekjen Asian Financial Services Association (AFSA) dan Penasihat di Indonesian Financial Services Association (IFSA) ini.

                Berbicara tentang keaktifannya di FGBMFI, katanya, pada awalnya ia tak pernah berpikir untuk ikut menyampaikan kabar baik lewat persekutuan kaum usahawan itu. “Sampai tahun 1998 saya hanya ikut kebaktian di gereja saja, dan belum ikut bergabung di FGBMFI, karena saya masih sibuk. Padahal di FGBMFI ini orang-orang yang ikut di dalamnya juga semua orang orang sibuk. Saya dulu tidak tahu apa manfaatnya dengan ikut aktif di FGBMFI. Namun ada seorang kawan yang sangat baik dan sabar mengirim faksimili dan menelepon saya agar ikut ke acara FGBMFI. Karena tidak enak hati, akhirnya saya pada 1998 dan kala itu berada di puncak karier saya ikut di sebuah acara FGBMFI,” terang Presiden Asian Institute of Management Alumni (Indonesia Chapter) itu.

                Saat mengikuti acara FGBMFI tersebut yang di dalamnya ada renungan Firman Tuhan dan kesaksian bersama pelaku bisnis dan kaum profesional, Dennis merasakan ada sesuatu yang belum dilakukannya untuk Tuhan. “Saya merasa ada sesuatu yang belum saya lakukan untuk Tuhan, padahal saya sudah diselamatkan oleh Tuhan. Makanya, saya merasa diri saya berutang kepada Tuhan, dan saya ingin membayarnya, meskipun saya juga sadar bahwa tidak mungkin saya mampu membayar kebaikan Tuhan itu atas diri saya. Sejak itulah saya mulai terbeban untuk mengabarkan kabar baik kepada semua orang. Misalnya, mengajak teman-teman kita agar mengerti tentang keselamatan dari Kristus. Keselamatan itu harus kita beritakan bagi keluarga, teman sekerja kita dan komunitas kita,” pungkas ayah dua anak dan punya satu cucu ini.

                Menurut Dennis, dulu kalau diminta berdoa ia selalu menolak. Namun sejak aktif di FGBMFI mau atau tidak mau harus bisa. “Sejak berada di FGBMFI saya tentu saja semakin menyadari kasih Tuhan di dalam kehidupan saya,” ucapnya. Berbicara tentang pembagian waktunya bagi pelayanan di FGBMFI, keluarga dan pekerjaan, katanya, selalu berjalan seimbang, “Tidak ada masalah soal waktu. Melalui pekerjaan pun saya selalu berupaya menyampaikan nilai-nilai Kristiani. Contohnya, saya, kan, sering diminta memberi solusi terhadap perusahaan bermasalah. Jadi saya punya sikap tegas, bahwa solusi itu harus sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Jangan misalnya, kita mau utang, tapi tujuannya untuk ngemplang. Saya tidak mau itu. Kita sebagai orang independen harus memberi solusi yang sesuai dengan nilai-nilai Kristiani, dan saya menikmati itu”.

                Dennis yang pernah mengikuti pendidikan di bidang informasi dan teknologi serta kursus marketing mengatakan, kehidupan keluarga bagi umat Kristen itu sangat penting dipelihara. “Kalau keluarga kita berantakan, maka kehidupan Kristiani kita pun akan berantakan. Tidak pernah saya lihat kehidupan keluarganya berantakan namun kehidupan Kristianinya tak berantakan,” tutur pria yang bila berbicara selalu tegas dan lugas ini. Ketika Majalah NARWASTU menanyakan tentang kehidupan kerohaniannya selain aktif di gereja dan FGBMFI, ia menjawab, “Pada pagi dan malam selalu saya upayakan membaca Alkitab dan baca renungan”.

                Kalau kita membaca Alkitab dan renungan, katanya, ia selalu diingatkan bahwa hari ini adalah hari baru yang diberikan Tuhan terhadap diri kita. “Sehingga kita harus berkarya lebih baik dalam kehidupan ini. Sangat banyak manfaatnya kalau kita membaca Alkitab dan renungan setiap pagi dan malam. Bagi saya, itu sangat membantu saya menghadapi kehidupan,” tukas mantan CEO di PT. IFS Capital Indonesia dan mantan CEO di PT. Saseka Gelora Finance, dan punya ayat emas Mazmur 73:1, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.

            Menurutnya, dalam kehidupan ini, kita harus tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. “Idealnya, kita harus memiliki ketulusan dan kecerdikan. Jangan hanya tulus atau jangan hanya cerdik. Itu ibarat dua sisi mata uang yang keduanya punya nilai tinggi, yaitu ada ketulusan dan kecerdikan. Itu, kan, ajaran Alkitab. Ada saatnya kecerdikan lebih dominan, dan ada pula saatnya ketulusan yang dominan. Dalam kehidupan kita ini, keduanya tidak bisa dilepaskan. Itu sama dengan ibarat ada siang dan ada malam dalam hidup kita,” ucapnya.

Berita Terkait