Profesor Hans Grosshans Bicara Perjuangan Martin Luther

331 dibaca
Prof. Hans memaparkan pandanngan terkait 500 Tahun Reformasi di Graha Oikoumene PGI, Jakarta.

             BERITANARWASTU.COM. Prof. Dr. Hans Peter Grosshans dari Universitas Munster, Jerman, memberikan kuliah umum mengenai 500 Tahun Reformasi di Graha Oikoumene, Jakarta Pusat, pada 6 November 2017 lalu. Pada kesempatan itu, ia menegaskan, reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther di abad 16 tidak hanya berpengaruh terhadap gereja, tapi juga dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan, tidak hanya di Jerman, tapi juga seluruh dunia.

Dampak reformasi, menurut Prof. Hans, antara lain kekristenan tidak lagi terpusat kepada Katolik Roma, tapi memunculkan Kristen Protestan serta berbagai denominasi gereja yang berdiri sendiri di setiap negara, dengan perkembangannya masing-masing karena ada penterjemahan Alkitab. “Bagi Indonesia ini tentu menjadi tantangan dalam gerakan oikoumene dengan kemunculan berbagai denominasi gereja,” tukasnya.

Demikian pula keterlibatan perempuan dalam gereja saat ini. “Kalau kita lihat pada agama-agama sangat jarang keterlibatan perempuan, selalu laki-laki yang menjadi pemimpin. Tapi dalam tradisi Protestan terjadi sebuah pergeseran setelah memakan waktu yang cukup lama, dan kita terus berjuang ke arah kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, akhirnya perempuan sekarang bisa menjadi pemimpin. Sesungguhnya ini diawali dengan pemikiran-pemikiran Martin Luther yang mengatakan, siapapun yang telah dibaptis dapat menjadi seorang pemimpin di gereja, pemimpin jemaat,” papar Prof. Hans.

Sementara dalam dunia pendidikan, sistem pendidikan yang dicetuskan oleh Philip Melanthon, Sang Bapak Pendidikan Jerman, hingga kini masih dipakai dan menyebar ke berbagai daerah di Jerman, dan masih dipegang hingga sekarang. Sedangkan dalam hal etos kerja dan kapitalisme pengaruh reformasi ditelorkan oleh John Kalvin.

“Mengapa etos kerja bagian penting dari reformasi, karena sebetulnya reformasi membuat adanya perubahan dalam apa yang menjadi sebuah kekristenan ideal. Sebelumnya yang merupakan kekristenan yang ideal adalah kehidupan di biara, kehidupan yang selimbat, taat dan sederhana. Tapi kemudian hal ini berubah ketika adanya reformasi,” jelasnya.

Sebab itu, menurutnya, pergeseran yang terjadi adalah kehidupan selimbat diubah menjadi fokus kepada pernikahan dan keluarga. Kemudian kemiskinan digantikan dengan kerja yang profesional, rajin dan juga memiliki properti dalam masyarakat. Sedangkan ketaatan diubah dengan penerimaan kepada hukum berdasarkan kebebasan dan keadilan. Untuk mewujudkan semua ini, maka dibutuhkan etos kerja yang baik.

Pada kesempatan itu, Prof. Hans mengungkapkan figur Martin Luther. Menurutnya, Martin Luther adalah sosok yang memegang teguh hati nurani, dan Firman Tuhan. “Contoh dalam pengadilan Martin Luther terkait 95 dalil, dia tidak mau menarik pernyataannya, karena merasa akan bertentangan dengan hati nuraninya. Di sini kita lihat bagaimana kita harus berdiri dan berpegang teguh kepada pendirian kita. Jika kita yakin bahwa ini adalah kebenaran, maka kita tidak bisa digoyahkan. Dalam komunitas kita butuh individu yang mau bertahan kepada prinsip yang diyakini,” jelasnya.

Hal lain yang sangat penting ketika bicara reformasi, lanjut Prof. Hans, yaitu peranan media komunikasi pada zaman itu. Pada masa menjelang Reformasi Guttenberg baru menciptakan mesin cetak yang membuat proses cetak menjadi lebih cepat, dan Martin Luther adalah salah satu yang pertama menggunakan teknologi tersebut, untuk mencetak buku-buku dan tulisan-tulisannya.

Demikian pula media visual atau gambar. Pada saat itu, di Wittenberg ada seorang pelukis bernama Tranax, banyak membuat lukisan-lukisan yang membantu untuk menggambarkan ide-ide secara visual, yang kemudian diperbanyak dan disebarkan ke berbagai tempat, sehingga orang-orang memiliki sebuah pemahaman tentang Protestanisme berdasarkan gambaran visual. “Contohnya,  lukisan Martin Luther menggunakan topi seorang doktor, sehingga menjelaskan bahwa dia bukan seorang rahib biasa, tapi memang berpendidikan tinggi. KS

Berita Terkait