Rasnius Pasaribu Membangun Bangsa Lewat Tindakan Nyata

354 dibaca
Rasnius Pasaribu (memegang Majalah NARWASTU) bersama tokoh Kristiani Kota Bekasi, Pdt. Djajang.

 

Beritanarwastu.com. Aktif dalam pelayanan di Gereja Katolik Santa Clara, Kota Bekasi, Jawa Barat, dan di berbagai organisasi kemasyarakatan sama sekali bukan hal baru bagi Rasnius Pasaribu. Keaktifan tersebut menjadi jalan masuk bagi pria berdarah Tapanuli ini untuk berkontribusi lebih jelas bagi negeri dan gereja. Semangat membangun bangsa yang sudah ada sejak menjadi aktivis, terus menyala-nyala dalam dirinya hingga sekarang. Dengan semangat ini pula ia ingin ambil bagian dalam memengaruhi kebijakan publik. Makanya, jika tidak ada aral melintang dan atas seizin Tuhan, ia pun mantap menjadi Caleg (calon legislatif) Partai Golkar untuk tingkat Kota Madya Bekasi.

Perjuangkan Pendirian Gereja
           Namanya memang belum setenar politisi tingkat wahid yang biasa wara-wiri di layar kaca saban hari. Akan tetapi, sepak terjangnya dalam berbuat sesuatu demi kepentingan orang banyak tak perlu diragukan lagi. Ini terbukti saat Gereja Katolik Santa Clara, Kota Bekasi, mengalami “pencobaan” dalam proses pendirian rumah ibadah yang tak kunjung diberi izin, Rasnius ikut turun rembuk mencari jalan keluar bersama-sama para pengurus gereja lainnya. Bukan lantaran tugasnya sebagai Sekretaris Dewan Paroki Harian Gereja Katolik Santa Clara saat itu. Melainkan karena baginya, tidak masuk akal adanya pihak tertentu yang bersikeras menentang pendirian gereja, walaupun secara administrasi tidak masalah dan sangat layak memiliki bangunan gereja yang representatif.

 

“Kami sudah melakukan sosialisasi dan komunikasi kepada tokoh-tokoh agama dan pada dasarnya masyarakat di sana tidak ada yang menentang. Sebab, kami menyampaikan secara terbuka bahwa tanah ini untuk tempat beribadah dan tidak ada niatan untuk melakukan Kristenisasi. Sangat tidak mudah juga untuk bisa masuk menjadi Katolik harus melalui proses yang panjang,” jelas Rasnius membuka perbincangannya dengan Majalah NARWASTU di ruang kerjanya, baru-baru ini
            Isu “Kristenisasi” sengaja digelontorkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengganjal perizinan. Padahal, kenyataannya proses yang dilakukan sudah berpedoman pada peraturan-peraturan pemerintah dan peraturan Wali Kota Bekasi tahun 2006. Sejumlah aksi demonstrasi digelar bertubi-tubi sampai ada aparat keamanan terluka. Dari situ pihak kepolisian akhirnya menangkap tiga orang yang diketahui tinggal di Bantar Gebang, dan mereka ditahan di Polda Metro Jaya.
           Menurut suami dari Yuliani Yuliani Dewi, rencananya pada Oktober atau November tahun ini (2018) gereja yang menempati di area tanah sekitar 7.000 meter lebih itu akan selesai pembangunannya. Untuk saat ini umat Gereja Katolik Santa Clara yang berjumlah hampir 9.000 jiwa itu menggelar Misa di Ruko di Taman Wisma Asri.
            Rasnius berpendapat, kendati proses pembangunan gereja berjalan penuh dengan perjuangan, akan tetapi ia mengapresiasi Wali kota Bekasi, Dr. H. Rahmat Effendi atas sikapnya yang sangat Pancasilais dan memiliki jiwa terbuka dalam melindungi serta mengayomi masyarakat. Mengenai pemberian izin, wali kota yang dikenal sangat rendah hati itu juga berpendapat bahwa kalau dasar hukumnya jelas dan tidak ada yang dimanipulasi dan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah RI, tidak ada alasan untuk menolak itu, apalagi itu adalah rumah ibadah.

Terjun di Politik
            Dapat berpartisipasi dalam menjalankan perannya sebagai warga negara sekaligus jemaat gereja untuk pembangunan bangsa dan negara tentu menjadi bagian dari cita-citanya. Dan, sebagai wujud nyatanya, mantan Sekretaris Dewan Paroki Harian Gereja Katolik Santa Clara selama dua periode ini pun siap terjun di dunia politik. “Bagi saya, politik pertama-pertama adalah nilai-nilai yang sesuai digariskan oleh gereja untuk kesejahteraan bersama. Kita memang harus terlibat aktif dalam gereja itu sangat baik seperti berdoa, koor atau ikut kegiatan-kegiatan lingkungan, seperti Rosario dan lain sebagainya. Namun, di balik itu ada tanggung jawab sosial kita dan jangan merasa inferior. Apalagi, merasa minoritas atau mayaroritas, saya tidak pernah mau menggunakan bahasa itu karena mengandung gap,” katanya dengan mimik serius. 
           Namun pria kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 12 Mei 1974 ini juga sadar kalau alasan lainnya terjun ke politik karena ingin memberikan pengaruh positif dalam pengambilan kebijakan publik. Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) ini menuturkan, yang berkaitan dengan kebijakan publik, kita jangan cuma teriak-teriak di luar untuk mengubah ini dan itu, tetapi kita tidak mau terjun ke dalam. “Seribu orang demo dalam menuntut suatu kebijakan akan jauh lebih efektif dengan satu orang yang memiliki kekuasaan dalam mengambil keputusan. Sebab, yang seribu orang belum tentu didengarkan,” ujarnya semangat. 
          Oleh sebab itu, ia menambahkan, jika teman-teman Katolik mungkin masih banyak yang apolitis memang perlu Romo (Pastor) memberikan pengetahuan atau edukasi dan informasi, bahwa berpolitik itu bukan suatu kejahatan. Jika ada politisi yang melakukan kesalahan-kesalahan, misalnya melakukan korupsi, bukan politiknya yang kotor melainkan individu/personal/oknumnya yang tidak memiliki integritas. Makanya, harus dapat menjaga hati yang murni dan bersih, sehingga integritas tersebut menjadi satu kata dengan perbuatan yang mencerminkan sebagai murid Yesus.
             Kesungguhan Ras, untuk bisa berdampak kepada masyarakat, dibuktikannya juga melalui penunjukannya menjadi Ketua Umum PERMAKINDO periode 2017-2022. Perkumpulan yang terjemahan dari Bahasa Sansekerta yang artinya “pengantar puji-pujian” atau pemimpin itu berdiri tahun 2017 atas inisiatif dari beberapa orang dan atas inspirasi dari arah dasar Keuskupan Agung Jakarta 2016-2020 dan juga Sidang Agung Gereja Katolik tahun 2015 tentang evangelisasi dalam mewartakan iman. “Bangkit dan bergerak adalah tema pada saat itu yang menjadi inspirasi untuk memberikan kontribusi melalui edukasi sosial kemasyarakatan,” terang Rasnius.
            Selain lingkungan hidup, membangun NKRI dengan berasaskan Pancasila serta merajut kesatuan dan persatuan bangsa untuk menghindari negara ini terpecah belah adalah hal-hal yang tak luput dari perhatian PERMAKINDO. Kendati, anggotanya masih relatif sedikit yang terdiri dari aneka profesi itu, namun akan segera mengepakkan sayapnya ke pelbagai seperti di Kabupaten Bekasi, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Maluku serta rencana pembukaan cabang di daerah lainnya.
             Rasnius mengakui, hal-hal sederhana memang Gereja Katolik sudah ada. Tapi pertanyaannya, apakah gereja mampu meng-cover keseluruhan? “Gereja Katolik berharap umatnya dapat memberikan kontribusi positif dan memperhatikan mereka yang marginal, membutuhkan pekerjaan atau memberikan edukasi-edukasi. Bagaimana umat Katolik menggunakan hak politik sehingga bersifat inklusif atau terbuka kepada siapa saja yang memiliki kehendak baik,” pungkasnya. BTY

Berita Terkait