Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia (VPI), Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H.
Rayakan Ulang Tahunnya Ke-62

891 dibaca
Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. dalam perayaan HUT-nya ke-62 di Jakarta.

BERITANARWASTU.COM. Menapaki usia 62 tahun, bagi Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H., punya nilai tersendiri dan makna yang dalam. Kebahagiaannya tidak terletak karena banyaknya uang dan kesuksesan yang diraih. Melainkan menjadi seorang ayah sekaligus suami yang bisa mengayomi istri dan membina anak-anaknya adalah anugerah yang tiada henti disyukurinya kepada Tuhan. Ia pun memiliki cita-cita yang cukup mulia, yaitu ingin memberdayakan umat Kristiani, khususnya umat Katolik agar cerdas menyikapi dunia politik melalui Vox Point Indonesia (VPI) atau disingkat Vox Point yang diketuainya.

 Dalam acara ulang tahunnya kali ini, tak ada pesta pora. Hanya perayaan ulang tahun secara sederhana. Dan ulang tahun ke-62 Yohanes Handoyo Budhisedjati  ini diadakan di Gedung Prathivi, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada Selasa malam 6 Maret 2018 lalu. Perayaan yang didahului dengan misa syukur itu dipimpin oleh RD. Thomas Peng An, dan didampingi RD. Rofinus Neto Wuli dan Romo Efrem Zuba, CSSR. Saat membawakan homily singkat, Romo Peng An yang pernah melayani di Keuskupan Bogor mengatakan, tanpa sadar seringkali kita berhitung dalam hidup.

Kata Romo Peng, entah soal uang, proyek bahkan soal kejelekan orang. “Kalau demikian adanya, jangan-jangan kita bukan murid Yesus,” ujarnya. Kita jangan hanya ingat kejelekan orang dan hanya mau terima berkat atau rahmatNya saja. Kita bisa menjadi orang degil kalau seperti itu. Ulang tahun bukan soal pesta, tapi lebih kepada menghitung rahmat, berkat dan kasih setia Allah dalam hidup kita. Agar kita bisa menjadi pribadi yang murah hati dan menjadi berkat untuk sesama seperti yang dilakukan Yesus,” katanya semangat.

 Di sisi lain, Romo Rofinus Neto Wuli yang juga memberikan sambutan sekaligus ucapan selamat, mengungkapkan kekagumannya atas kepemimpinan Yohanes Handojo Budhisedjati selama ini. “Bapak Handoyo dipakai Tuhan melalui VPI lewat tangan dinginnya yang menjadi saluran berkat,” tukasnya, yang juga menyampaikan apresiasi dari Bapak Uskup mengenai Vox Point sebagai wadah yang luar biasa peduli melakukan kaderisasi terhadap orang awam Katolik.

 Bagi Yohanes Handojo Budhisedjati yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan Majalah NARWASTU, memasuki 62 tahun diungkapkannya dengan rasa penuh syukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya untuk bisa melayani sesama. “Kebahagiaan itu tidak selamanya yang mendatangkan uang. Tapi bagi saya setiap perjalanan hidup itu patut disyukuri. Dan saya merasakan bahwa Tuhan sangat mencintai saya dalam kesulitan, dan saya pasrahkan sehingga berkurang stresnya,” ucapnya bijaksana dengan penuh bahagia.

  Selain orang-orang di sekitarnya, yang menjadi penyemangatnya adalah istri dan anak-anaknya, yang dinilainya sebagai bagian dari anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya bagi alumnus SMA Loyola, Semarang, ini. Kendati hari-harinya dijejali dengan beraneka aktivitas, namun ia dinilai sebagai seorang figur ayah dan suami yang bertanggung jawab dan kebapaan. “Saya tidak banyak bicara, tapi apa yang saya lakukan ini supaya mereka melihat bahwa saya tidak pergi tanpa juntrungannya. Dan semua jelas, ada di mana dan jam berapa. Dan di mana pun dan bicara dengan siapapun keluarga saya kenal dan tahu,” terang Yohanes Handoyo yang juga pengusaha dan tokoh Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) itu.

Walaupun di usianya ini ia tak muda lagi, namun semangat untuk ikut membangun gereja, masyarakat dan bangsa tetap berkobar. Dalam diri pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, ini  ada semangat luar biasa untuk berkontribusi bagi gereja, masyarakat dan bangsa melalui Vox Point Indonesia. Hal itu terbukti, Vox Point yang genap berusia 2 tahun pada 13 Maret 2018 lalu itu telah memiliki 11 Dewan Pimpinan Daerah dan 31 Dewan Pimpinan Wilayah serta para Uskup turut mendukungnya.

Saya bersyukur, dan ini adalah beban dalam arti positif. Betul-betul mau dipercaya, maka kami harus bisa bekerja lebih keras untuk gereja dan bangsa. Pembekalan yang kami lakukan tidak hanya kompetensi di bidang politik, melainkan juga mental spiritual. Sehingga kader-kader yang kita lahirkan haruslah kader-kader yang siap mental secara iman Katolik, dan yang benar-benar tertanam jiwa perjuangannya,” paparnya kepada majalah ini. Sebelum mengakhiri percakapannya dengan Majalah NARWASTU, ia menuturkan segenap asanya di hari jadinya itu. “Kalau saya masih diberikan kesempatan, saya ingin tetap meneruskan apa yang menjadi pelayanan saya dan mudah-mudahan bisa terwujud,” pungkas cendekiawan yang cerdas dan produktif menulis di Majalah NARWASTU ini. BTY

Berita Terkait