Pdt. DR. Nus Reimas. Menabur kasih.
Refleksi atas Kelahiran Yesus di Dunia Kita Harus Senantiasa Bergantung Kepada Tuhan

580 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas. Menabur kasih.

Beritanarwastu.com. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil, dan Allah menciptakan manusia itu segambar dengan diriNya, dan Allah memberi RohNya kepada manusia. Makanya kita bisa memuji Tuhan dan bernyanyi, karena Allah membuat kita istimewa. Kalau kambing mana bisa bernyanyi atau memuji Tuhan seperti kita. Allah itu sangat mengasihi kita, makanya saat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Dia yang berinisiatif mencari Adam dan Hawa, karena Dia sangat membuat kita istimewa. Kasih Allah itu begitu besar, sehingga AnakNya yang tunggal pun dikaruniakan untuk menyelamatkan kita.

Demikian diungkapkan Pdt. DR. Nus Reimas saat menyampaikan khotbah dalam sebuah acara kebaktian di Jakarta, belum lama ini. Sembari mengutip Lukas 1:37-38, mantan Ketua Umum PGLII dua periode dan kini Ketua Majelis Pertimbangan PGLII ini menerangkan, sering kita tidak menghargai kasih Tuhan yang ada di dalam hidup kita, dan kita cenderung lebih menghargai orang yang memberikan materi kepada kita. Padahal, katanya, berkat yang diberikan Tuhan kepada kita itu melebihi apa yang kita pikirkan.

Dalam hidup ini, kalau kita orang percaya meminta orang untuk berbuat sesuatu, namun tidak menolong kita, maka Tuhan akan berbuat sesuatu bagi kita. Seperti Ester yang dulu menyelamatkan bangsa Israel yang akan dibunuh oleh penguasa, ia didatangi Mordekhai, dan Ester berbuat sesuatu yang berani, sehingga bangsa Israel selamat dari upaya pembunuhan. Ester menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, dan ia mau meninggalkan kenyamanannya untuk menolong orang banyak, sehingga Tuhan menyertainya.

“Kalau kita mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, maka kita tidak akan takut isi dompet atau tabungan kita habis. Kalau kita berbuat dengan tulus, maka Tuhan bisa menyatakan mukjizatNya kepada kita. Dalam hidup ini kita akan semakin bernilai kalau hidup kita dipakai Tuhan hanya untuk kemuliaanNya. Kalau kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, maka hidup kita akan semakin bernilai dan terangkat.

Menurut Ketua Dewan Pembina LPMI ini, kalau kita selalu menyerahkan hidup kepada Tuhan, maka harta atau uang yang kita miliki akan jadi berkat bagi banyak orang. Orang yang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, imbuhnya, akan selalu tekun berdoa. “Dulu kalau Marthin Luther menghadapi masalah, ia selalu berdoa kepada Tuhan 45 menit agar dia mendapatkan hikmat. Jadi dalam hidup ini, kita harus berserah kepada Tuhan. Ketika kita bangun pagi, kita perlu bertanya, ‘Tuhan, apa yang Kau kehendaki untuk aku lakukan hari ini?’. Kalau semua para pemimpin melakukan itu, maka bangsa ini akan lebih baik,” paparnya.

Orang yang berserah kepada Tuhan, katanya lagi, akan terus memberitakan kabar keselamatan bagi banyak orang. “Dulu Maria yang melahirkan Yesus, hanya seorang gadis lugu dari Desa Nazareth, tapi ia percaya dengan kuasa Tuhan. Lewat anugerah Tuhan, ia akhirnya melahirkan Juruselamat Yesus Kristus, dia merasakan mukjizat Tuhan. Dia sangat sadar bahwa di dunia ini ia bukan siapa-siapa. Demikian juga kita sebagai manusia, harus senantiasa bergantung pada Tuhan, jangan bergantung pada isi dompet atau harta yang kita miliki,” terangnya.

Pdt. Nus Reimas menuturkan, kalau kita merayakan Natal, apapun tema Natalnya, umat Kristiani jangan sampai terjebak pada euforia perayaannya. Ibadah dan perayaan Natal itu sangat perlu untuk mengingatkan kembali kepada kita tentang kasih Allah yang luar biasa terhadap umat manusia. Katanya, Filipi 2:5-7 telah mengingatkan kita bahwa Kristus yang adalah Allah telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba agar bisa melayani dan menyelamatkan manusia yang berdosa. “Atas dasar itu, gereja atau umat Kristiani harus fokus pada tiga teladan dari Yesus. Pertama, kerendahan hati. Kedua, rela berkorban, dan ketiga, pelayanan. Jadi dalam rangka kerendahan hati itu, imbuhnya, semua gereja harus bergandengan tangan dan bahu membahu untuk menjadi berkat bagi seluruh bangsa kita,” pungkasnya.

“Dan untuk bergandengan tangan itu memerlukan pengorbanan dan rela memberi, sehingga pelayanan ke depan dapat menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Kembali soal makna Natal, katanya, dengan datangNya Yesus ke dunia lewat kelahiranNya, Dia pun mempersatukan diriNya dengan orang percaya agar semua orang percaya menjadi satu. Tantangan kita ke depan semakin berat, namun sebagai orang percaya, kalau kita bersama Tuhan, kita dapat lakukan perkara-perkara besar.

Menurutnya, sehubungan dengan tema PGLII sejak Munas 2011 lalu, yang diambil dari Yeremia 29:7, bahwa umat Kristiani harus ikut mengupayakan kesejahteraan di mana ia ditempatkan Tuhan. Tema itu muncul setelah melihat kondisi dan situasi bangsa Indonesia yang memprihatinkan. “Di zaman nabi Yeremia pun itu terjadi, dan saat itu bangsa Israel di tengah suasana pembuangan. Ketika itu situasinya sangat sulit, karena ada diskriminasi, tak ada tempat beribadah dan mereka terisolasi. Tapi yang menarik, Tuhan tetap berbicara kepada bangsa Israel. Tuhan perintahkan kepada mereka agar tetap kerja keras dan berdoa di mana mereka berada,” ucapnya.

Kita di Indonesia ini, imbuhnya, ditempatkan Tuhan agar ikut mengusahakan kesejahteraan negeri ini. Makanya, orang Kristen jangan reaktif, tapi harus proaktif untuk menabur kebaikan dan kesejahteraan. “Orang Kristen harus bisa menjadi agen pembangunan dan agen pembaharuan di Indonesia. Gereja harus inklusif untuk  berpartisipasi membangun negeri ini. Kita jangan hanya diam, dan jangan hanya muncul berbuat sesuatu yang baik di hari Natal, tapi harus setiap waktu menabur kebaikan,” tandasnya. KKH

Berita Terkait