Refleksi Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia Atas Situasi Bangsa dan Negara di Kongres I

65 dibaca
Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia, Yohanes Handoyo Budisedjati, S.H. di Kongres I

Beritanarwastu.com Pada 15 sampai 17 November 2019 lalu, ormas Katolik yang nasionalis dan Pancasilais, Vox Point Indonesia yang dipimpin Yohanes Handoyo Budisedjati, S.H. telah mengadakan kongres pertama dengan baik dan lancar di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur, yang dihadiri para uskup, tokoh-tokoh nasionalis dan pemuka Katolik. Kongres ini pun dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Prof. Dr. Anies Baswedan. Dan dalam kongres ini terpilih lagi Yohanes Handoyo yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan Majalah NARWASTU” sebagai Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia untuk kedua kalinya.

Saat menyampaikan sambutannya di kongres itu, Yohanes Handoyo pun menyampaikan pokok-pokok pikiran dan refleksi Vox Point Indonesia terkait dengan situasi masyarakat dan bangsa saat ini. Disampaikan Yohanes Handoyo, dalam konteks kebangsaan, Vox Point Indonesia merasakan kegundahan di antara anak bangsa setelah Pilpres 2014. Ini yang menjadi awal cikal bakal berdirinya Vox Point Indonesia dan inilah salah tujuan berdirinya Vox di Indonesia. Para pendiri Vox merasakan suatu keprihatinan dalam merasakan denyut nadi kebangsaan kita.

Keterbelahan pola pikir, keberpihakan yang mengarah pada perpecahan sangat terasa sesudah Pilpres 2014. Masyarakat seakan tidak bisa melupakan luka-luka kekalahan di pilpres, dan ini tercermin dari secara cepat emosi masyarakat terbangun waktu Pilkada DKI Jakarta dan Pilpres 2019. Bagi Vox Point Indonesia, konteks kekuasaan adalah ditujukan untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Berbicara tentang kesejahteraan rakyat, ada banyak hal yang secara global dan nasional memberikan gambaran yang mencemaskan. Secara global gelombang resesi sudah mengancam dunia. Beberapa negara sudah terkena pada perekonomiannya.

Kita harus berpikir keras dengan era disruption ini yang begitu cepat melanda dunia. Saat ini pelabuhan Singapura masih menjadi tempat transit seluruh perdagangan karena letaknya yang strategis, tetapi pada tahun 2025 dengan telah dibuatnya terusan Kra yang menjadikan arus barang tidak lagi lewat pelabuhan Singapura, maka Singapura akan terkena dampaknya, yakni kehilangan pendapatan dari pelabuhan. Demikian juga dengan tumbangnya raksasa ritel, di Indonesia kita sudah kehilangan Matahari di banyak tempat, Ramayana, juga kalau dicermati Pasar Pagi Mangga Dua yang dahulu penuh sesak sekarang menjadi sedikit lenggang.

Tokopedia, Shopee sudah menggantikan mereka. Perubahan sikap hidup kaum milenial berubah dari generasi sebelumnya. Ini akan berakibat perubahan yang sangat signifikan terhadap perputaran barang dan jasa di tengah masyarakat. Sekarang di bidang transportasi saja tidak lagi merasakan susah cari taksi, Grab sudah berada di depan pintu rumah. Taksi di ibukota mendadak tidak bersaing dengan taxi berbeda merek misal Bluebird tidak lagi bersaing dengan Express, melainkan dengan hanya sebuah aplikasi.

Mobil BMW, Mercy, Honda, Mitsubishi tidak lagi menjadi pesaing tetapi pesaing nyata adalah Grab, Gocar. Padahal mereka tidak punya mobil. Masih banyak terjadi hal serupa, ke depan mungkin tidak ada lagi persaingan antaruniversitas, misalnya UGM, UI, ITB, IPB ataupun Airlangga, tetapi pesaing mereka hanya sebuah aplikasi, dan tidak mustahil elearning menggantikan semuanya. Gedung perkantoran yang megah bukan lagi sesuatu yang dapat dibanggakan bagi perusahaan karena remote working, flexi hours akan menjadi life style generasi milenial. Akan terjadi banyak gedung kosong dalam 1 atau 2 dekade mendatang.

Era industri 4.0 bukan saja menawarkan kemajuan tehnologi, namun juga akan terjadi perubahan pola kerja, life style, dll yang juga berakibat pengurangan tenaga kerja yang cukup besar. Kebutuhan akan digital talent yang makin meningkat namun pasar tenaga kerja masih belum dapat mencukupinya.  Ini akan menimbulkan kesenjangan yang akan cukup serius apabila kita ingin mensejajarkan diri dengan negara-negara maju yang lain. Semuanya dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Reddoors dan Oyo sudah siap menggantikan hotel yang konvensional, padahal mereka tidak punya properti apapun.

Milenial generation berpikir sangat praktis, berbeda dengan generasi baby boomer dan gen X. Kebutuhan pun jauh berbeda. Indonesia suka atau tidak suka, cepat atau lambat akan mengalami banyak hal yang mengubah pola kehidupan kita. Hal berikut yang menjadi perhatian Vox Point Indonesia adalah makin maraknya gerakan intoleransi dan informasi, tentang terpaparnya beberapa kelompok masyarakat terhadap radikalisme. Tentu saja semua paham yang menegasikan 4 konsensus nasional adalah hal yang perlu kita waspadai. Tetapi harus sangat berhati-hati dalam menangani masalah tersebut.

Pandangan Vox Point Indonesia bahwa perbedaan pandangan ideologi harus dilawan dengan penyadaran namun kalau perbedaan ideologi dilakukan dengan cara-cara kekerasan misalnya terorisme, maka harus diambil tindakan tegas.  Hukum harus ditegakkan manakala pemaksaan kehendak terjadi. Pembubaran ibadah saudara kita dari Hindu harus tidak boleh terjadi lagi. Negara wajib hadir dan tindakan tegas dan berani harus dilakukan oleh pihak yang berwajib untuk menjaga kebhinnekaan. Dan itu perlu komitmen penyelenggara negara tanpa kompromi.

Vox Point Indonesia mempunyai prinsip menjadi terang dan garam. Dapat disebut terang karena adanya gelap.   

Disebut garam kalau berhadapan dengan tawar. Tidak ada terang lagi kalau sekeliling kita sudah penuh dengan cahaya, dan tidak diperlukan garam lagi apabila sekeliling kita adalah lautan. Prinsip ini mengandung arti bahwa Vox siap untuk tidak populer manakala situasi menuntut Vox harus “melawan kegelapan” dan menjadi garam ketika sekeliling kita tawar dan memerlukan rasa asin.

Paham kebangsaan yang kami pegang adalah sanggup bekerjasama dengan pihak manapun dan tetap teguh mempertahankan 4 konsensus dasar. Istilah yang kami pakai adalah boleh terhanyut tetapi tidak larut. Untuk itu Vox Point Indonesia selalu menjalin tali silaturahmi dengan pihak manapun juga sebagai sesama anak bangsa. Sesama anak negeri yang lahir dari rahim bumi pertiwi. Kita tidak mengharapkan dalam kerangka kebhinnekaan itu semua sepaham tapi lewat dialog diharapkan timbul saling memahami, saling pengertian. Bukankah lebih mudah seorang teman menegur dan mengkritik teman lainnya daripada teguran atau kritikan yang datang dari orang tidak dikenal?

Membuka cakrawala berpikir, selalu berpikir positif merupakan ciri khas Vox Point Indonesia. Untuk itu sebagai contoh tindakan Partai Nasdem yang berpelukan dengan PKS adalah hal yang wajar dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Kewajaran itu sepanjang memang dimaksudkan untuk menjaga keutuhan NKRI bukan untuk mencari kekuasaan demi kepentingan golongannya. Dan Vox Point Indonesia mengimbau para elit politik melaksanakan politik yang bermartabat.

Di samping itu hal yang paling mendasar permasalahan negeri kita adalah kesenjangan kaya dan miskin yang begitu tajam. Data statistik menyatakan bahwa 0,1% rekening kita menguasai lebih dari separuh kekayaan kita. Kalau data itu benar, memang sangat mengkhawatirkan. Angka kemiskinan kita di bawah standar angka kemiskinan dunia membuktikan bahwa kita mempunyai problem serius dengan kesenjangan tersebut. Dari kesenjangan ini, kita harus refleksi diri bahwa implementasi dari Pancasila memang belum mengakar pada kita. Sila ke-5 Pancasila adalah cermin konkret dan menjadi, dasar atau panduan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan belum terpenuhinya amanat sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menandakan bahwa Pancasila masih dalam tatanan lips service atau bahkan hafalan saja.

Padahal dampak dari sebuah kesenjangan akan melahirkan banyak kekecewaan, dan ini dapat menjurus pada fundamentalis yang mengarah pada gerakan intoleransi, radikalis dan lain sebagainya. Ini merupakan pekerjaan rumah setiap anak bangsa dan tidak terkecuali Vox Point Indonesia. Program pengentasan kemiskinan harus menjadi prioritas kita semua kalau kita memang yakin bahwa Pancasila adalah way of life, falsafah bangsa kita. Untuk dapat mengatasi kesenjangan tersebut tentu diharapkan seluruh komponen anak bangsa bersatu padu dan berkarya bersama memulihkan perekonomian yang didukung oleh regulasi yang adil dan berpihak pada rakyat.

Untuk hal di atas, kita dapat simpulkan bahwa, (1) Era disruption sudah melanda dunia tidak terkecuali Indonesia. Perubahan yang cepat memerlukan SDM yang tangguh. Dalam era Industri 4.0 di mana Digital Talent sangat kita butuhkan belum dapat terpenuhi dan ironisnya ribuan tenaga kerja terancam pengangguran karena akibat kemajuan teknologi yang menjadikan pengetahuan dan cara kerja sekarang akan menjadi usang secara cepat, harus benar-benar diperhatikan oleh Pemerintah. (2) Gerakan intoleransi harus dapat diantisipasi oleh negara dengan tepat. Karena kesenjangan di bidang ekonomi, jurang antara kaya dan miskin dapat merupakan pintu masuk paham radikal akibat ketidakadilan ekonomi.

Perlu pemahaman yang menyeluruh dalam menganalisa secara holistik. (3) Negara wajib hadir pada masalah-masalah intoleransi di bumi pertiwi ini. Para elit politik wajib memberi contoh positif kepada masyarakat betapa pentingnya menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan di Indonesia. Politik bermartabat harus menjadi tekad bersama para politisi negeri ini. Politik yang stabil dan kondusif dapat menjadi bagian penyelesaian permasalahan bangsa. Sebagai akhir kata Vox Point Indonesia menghimbau seluruh anak bangsa bersatu membangun Negara yang kita cintai, Indonesia.

Di akhir Kongres I Vox Point Indonesia ini, disampaikan juga rekomendasi berjudul “Vox Point Indonesia bertekad memantapkan spirit iman Katolik yang berakar pada Kristus Menuju Indonesia Maju.” Berikut adalah Rekomendasi Kongres 1 Vox Point Indonesia yang menjadi sikap politik Vox Point Indonesia, (1) Mendedikasikan hidup dan perjuangan demi mewujudkan politik nasional bermartabat berdasarkan 4 konsensus dasar bangsa: Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. (2) Menjalin kerja sama sinergis dengan hirarki Gereja (KWI), Keuskupan, dan organisasi Katolik lain, serta lembaga lintas agama dan kepercayaan lainnya.

Dan (3) Dengan tegas menolak kampanye hitam yang salah satunya menggunakan isu SARA, hoax, persekusi. (4) Melakukan komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat serta melawan upaya memecah belah NKRI menggunakan politik berbasis identitas (SARA). (5) Mendukung berbagai institusi negara seperti TNI dan Polri, pemerintah tingkat nasional, Pemda, dan stake holder terkait untuk melakukan penegakan hukum dengan tegas terhadap pihak-pihak yang ingin mengaburkan ideologi Pancasila, kasus korupsi, dan narkoba.

Lalu (6) Mengedepankan rekrutmen politik dan kaum muda Katolik untuk menjadi negarawan yang memiliki integritas, kompetensi, dan berpegang teguh pada Pancasila untuk memimpin dalam keberagaman dan melawan kejahatan korupsi. (7) Merealisasikan 6 landasan kepribadian umat Katolik, yakni siap memanggul salib, hidup asketik (sederhana, jujur, rela berkorban), menjadi garam dan terang dunia, pemberani dalam kebenaran, mengenal potensi diri, serta berkarakter. (8) Mendorong masyarakat agar tidak terpolarisasi oleh kemajuan perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi dan berupaya memanfaatkan perkembangan teknologi untuk kemajuan bangsa. Memperkuat dan mendorong Sumber Daya Manusia generasi muda untuk mendukung atau menjemeput perekmbangan revolusi Industri 4.0. (9) Untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaaan yang berlandaskan Pancasila maka perlu mengarusutamakan pendidikan bela negara dan cinta Tanah Air untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi ancaman radikalisme, intoleran, dan disintegrasi bangsa. GH

Berita Terkait