Revolusi Mental

• Oleh: Togap Balduin Silalahi, S.H. 512 dibaca


  Istilah “mental” adalah nama bagi genangan segala sesuatu menyangkut cara hidup, misalnya: “mentalitas zaman.” Di dalam cara hidup, ada cara berpikir, cara memandang masalah, cara merasa, mempercayai/meyakini, cara berperilaku dan bertindak. Namun kerap muncul anggapan bahwa “mental” hanyalah urusan batin yang tidak terkait dengan sifat ragawi tindakan dan ciri fisik benda-benda dunia.

Karena itulah kita memakai istilah “mentalitas” untuk menggambarkan dan juga mengkritik “mentalitas zaman.” Ada mentalitas petani, mentalitas industrial, mentalitas priyayi, mentalitas gawai (gadget), dsb. Mentalitas priyayi tentu bukan sekadar perkara batin para priyayi, melainkan cara mereka memahami diri dan dunia, bagaimana mereka menampilkan diri dan kepercayaan yang mereka yakini, cara berpakaian, bertutur, berperilaku, bertindak, bagaimana mereka memandang benda-benda, ritual keagamaan, seni, dsb.

Corak praktik serta sistem ekonomi dan politik yang berlangsung tiap hari merupakan ungkapan kebudayaan. Sedangkan cara kita berpikir, merasa dan bertindak (budaya) dibentuk secara mendalam oleh sistem dan praktik habitual ekonomi serta politik. Tak ada ekonomi dan politik tanpa kebudayaan, dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa ekonomi dan politik. Pemisahan itu hanya ada pada aras analitik. Pada yang politik dan ekonomi selalu terlibat budaya dan pada yang budaya selalu terlibat ekonomi dan politik.

Kebudayaan mesti dipahami bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, pameran, kesenian, tarian, lukisan, atau celoteh tentang moral dan kesadaran, melainkan sebagai corak/pola cara-berpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam tindakan, praktik dan kebiasaan kita sehari-hari.  Meski demikian, revolusi mental dapat dimasukkan ke dalam strategi pendidikan di sekolah maupun pengajaran di gereja. Langkah operasionalnya ditempuh melalui siasat kebudayaan membentuk etos warga negara.

Maka, sejak dini anak-anak sekolah perlu mengalami proses pedagogis yang membuat etos warga negara ini “menubuh.” Mengapa? Karena landasan kebangsaan Indonesia adalah kewarganegaraan. Indonesia tidak berdiri dan didirikan di atas prinsip kesukuan, keagamaan atau budaya tertentu. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diperkenalkan kepada siswa mulai dari usia dini.

Pengetahuan diskursif tentu sangat dibutuhkan dalam mengawal secara kritis kehidupan berbangsa-bernegara, namun biarlah sementara ini itu jadi urusan para intelektual/cendekia. Bagi agenda “Revolusi Mental”, yang paling dibutuhkan adalah pengetahuan praktis – transformasi pada tataran kebiasaan bertindak sehari-hari para warga negara dalam lingkup dan skala seluas bangsa.

Contoh lain bisa kita ambil dari negara negara Skandinavia, di mana kesetaraan (equality) diajarkan sejak anak-anak. Itulah mengapa sistem welfare state menjadi mungkin di negara-negara Skandinavia. Kendati dikenai pajak progresif, warga memahami arti dan keutamaannya karena kesetaraan sudah menjadi sikap dasar (dan tentu saja juga karena penyelenggara negara yang akuntabel dan tidak korup). Di Jepang, sikap stoic (Jepang: gaman) sudah diajarkan sejak usia 3-6 tahun sampai menjadi kebiasaan dan sikap hidup sehari-hari. Kita tentu masih ingat reaksi tenang, rasional, terkendali dan hening masyarakat Jepang yang banyak dibahas media internasional ketika terjadi tragedi nuklir 2011.

Jadi, “Revolusi Mental” bukanlah urusan membikin panggung di mana para selebriti mencari sorak dan puja-puji, juga tidak akan terjadi hanya dengan khotbah tentang kesadaran moral, serta tidak terjadi dengan pelbagai seminar dan pertunjukan. Semua itu cenderung jadi panggung slogan. Yang dibutuhkan adalah menaruh arti dan praksis kebudayaan ke dalam proses perubahan ragawi menyangkut praktik dan kebiasaan hidup sehari-hari pada lingkup dan skala sebesar bangsa.

Presiden Joko Widodo menawarkan Revolusi Mental kepada kita, suatu perubahan mendasar dan radikal dalam cara hidup, mulai dari cara berpikir dan memandang realitas; cara merasa, meyakini atau mempercayai; cara bertindak, sampai cara berwicara ataupun berwacana. Revolusi mental mengajak kita untuk menyadari dan mengubah sikap hidup yang tidak sekadar hanyut dalam arus kehidupan. Kita diajak untuk tidak menjalani hidup sekadar pasrah mengalir seperti air, sebab hidup ini harus (sering) melawan arus. Kita diajak melawan kemungkaran, mematahkan kefasikan. Kita diajak merevolusi kemalasan menjadi ketekunan; kesombongan menjadi keramahan; kesederhanaan menjadi kreativitas; kebiasaan sembrono menjadi waspada dan teliti.

 

 

  

 Presiden RI Ir. H. Joko Widodo. Tokoh Revolusi Mental. 

 

Jokowi menawarkan Revolusi Mental berbasis Konsep Trisakti Bung Karno, yakni Indonesia yang berdaulat secara politik; Indonesia yang mandiri secara ekonomi; dan Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya. Kedaulatan Indonesia secara politik harus dimulai dengan membangun martabat bangsa, yakni dengan membangun harga diri manusia Indonesia. Harga diri yang tidak angkuh dan kerendahan hati yang tidak puas diri itulah dasar kehidupan yang berdaulat, karena tidak hanya menjadi basis kekuasaan tetapi juga kehormatan. Tidakkah bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang memiliki harga diri?

Kemandirian Indonesia secara ekonomi adalah bagaimana kita memenangkan tantangan dan masalah hidup dengan sikap optimis. Meski tantangan tersulit menyerang dan situasi tampak lebih buruk, saat itu kita tidak boleh berhenti. Tetaplah merawat optimisme, tidak apatis ataupun tawar hati. Itulah kunci hidup mandiri untuk meraih kemenangan. Ketika setiap manusia Indonesia tak surut menghadapi tantangan hidup, ketika kita tetap merawat optimisme, kita akan menjadi bangsa yang lebih mandiri. Kepribadian Indonesia secara sosial-budaya adalah bagaimana kita menjadi energi bagi bangsa dan negara ini secara total. Kata kunci terpenting revolusi mental adalah totalitas.

Tuhan Allah menganalogikan makna totalitas itu dengan elegan, sabdaNya, “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:41). Itulah totalitas, tanpa batas dan melebihi ekspektasi, mendekati sempurna. Totalitas adalah target yang ingin segera dicapai untuk mewujudkan Indonesia hebat! Jika Pemimpin Republik ini mengajak kita berjalan satu mil, dan Anda berani berjalan sejauh dua mil, artinya Anda dan saya sudah memberikan totalitas, membaktikan diri untuk Indonesia yang berdaulat dan mandiri.

 

Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu

dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37).

 

Ulangan 6:5 menegaskan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan kita. Sadarkah Anda bahwa secara kultural Indonesia memiliki budaya hebat yang belum tergali secara optimal? Anda sesungguhnya benar-benar memiliki harta karun kultural yang menanti untuk digali. Namun alih-alih mengerahkan tenaga untuk menambangnya, kita lebih sering memilih untuk meminjam budaya Barat untuk mengekspresikan rasa cinta kita kepada Allah.

Ada banyak contoh gamblang untuk hal ini. Apa warna rambut dan mata lukisan Tuhan Yesus di dinding Anda? Tuhan Yesus dilahirkan di Asia. Ia tidak mungkin berambut pirang dan bermata biru. Cara gampang dan murahan. Itulah yang sering kita pilih untuk mengekspresikan kasih kita kepada Tuhan. Mari mengasihi Allah dengan segenap kekuatan kita, bukan dengan segenap kekuatan orang lain. 

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri (2 Tawarikh 34:2).

Banyak orang sudah gerah dengan keadaan negara ini yang dipenuhi berbagai penyimpangan. Korupsi yang merajalela secara sistematis dan masif. Ketidakadilan di bidang penegakan hukum sampai muncul kesan bahwa orang yang kaya kebal hukum, sedangkan mereka yang miskin harus rela terima nasib selalu jadi pesakitan. Kesenjangan ekonomi yang semakin jauh. Dan, masih banyak contoh lainnya. Banyak orang sudah mulai berteriak, “Semua harus dihentikan! Kami ingin perubahan!” 
             Yosia menjadi raja pada usia yang masih sangat muda. Pada awal masa pemerintahan, ia mengadakan satu perubahan yang luar biasa di bidang kerohanian (ayat 3). Perubahan itu dilakukan di tengah situasi kemerosotan mental dan rohani masyarakat Yehuda yang menyembah berhala (ayat 3-7). Yosia, yang mencari Allah sejak masa muda, melakukan reformasi mendasar di bidang spiritual. Ia bertobat dan merendahkan diri saat mendengarkan Firman Tuhan dari kitab Taurat yang ditemukan (ayat 19). Ia memimpin bangsanya dengan baik sampai pada akhir pemerintahannya (ayat 33). Meskipun tak dijelaskan, kita dapat membayangkan perubahan mental dan perilaku masyarakat Yehuda pada saat itu.

Keadaan negeri kita pun bukan tanpa harapan. Masih banyak orang baik yang berharap dan mengupayakan perubahan di negeri ini. Bukan saja melalui perbaikan sistem kemasyarakatan, tetapi juga melalui perubahan mental manusia. Perubahan yang dimulai dari sikap takut kepada Tuhan ini akan diikuti dengan perubahan sikap dan perilaku di segala bidang. Itulah Revolusi Mental

 

*Penulis adalah pensiunan Jaksa Utama Golongan IVE Kejagung RI, mantan Inspektur Polisi Golongan IIIB Polda Metro. Juga mantan Asisten Golongan IIIA FH & IPK UI, Penatua GMIT (1988) di Larantuka, Flores Timur dan anggota jemaat HKBP Kebayoran Lma, Jakarta Selatan.

Berita Terkait