Sabam Sirait Syukuri Hari Ulang Tahun Ke-80

2154 dibaca
Sabam Sirait bersama anak-anak, menantu dan cucu tercinta.

BERITANARWASTU.COM. Usia manusia tentu misteri. Tetapi, setiap insan punya pengharapan ingin hidup lanjut. Oleh sebab tak ada yang tahu  panjang usia, tak tahu kapan sang maut menjemput. Sebab ada yang sehat secara fisik tetapi cepat meninggal. Namun, yang pasti sengatan maut  akan datang. Sedetik pun kita tak tahu apa yang akan terjadi di hidup ini. Satu peneliti internasional yang digelar Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington, merilis hasil penelitian mereka mengenai angka harapan hidup penduduk di beberapa negara, termasuk yang diteliti di Indonesia.

Riset tersebut menyebutkan, secara global, orang-orang hidup 62 tahun lebih lama dibandingkan pada tahun 1990, dengan usia harapan hidup bertambah hingga 72 tahun 2013. Artinya, kalau ada berumur 80 tahun adalah rahmat yang patut disyukuri, karena mendapat privilese, hak istimewa dari Tuhan. Salah satu yang menerima privilese itu adalah politisi senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait, yang mendapat berkat Tuhan di umur 80 tahun.

Betapa tidak, dulu di masa mudanya sudah sakit-sakit. “Sejak muda saya sudah sakit-sakitan," ujar Sabam. Bahkan, dokter pun pernah memperkirakan umurnya sampai usia 40 tahun. Memang di umur paroh baya itu Sabam mesti berobat ke luar negeri. Bahkan, dua tahun lalu, sebagaimana cerita anaknya Iman, seorang dokter juga bersyukur pada Tuhan atas kuasa yang diterima bapaknya, umur panjang.

Di kalangan tokoh nasional, nama Sabam Sirait dikenal politisi senior. Di masa mudanya sudah terjun berpolitik. Umur 27 tahun sudah menjadi Sekjen Parkindo, yang kemudian hari berfusi menjadi PDI. Dialah salah satu pendiri Partai Demokrasi Indonesia ini. Baru-baru ini digelar acara perayaan ulang tahun ke-80 bagi Sabam Sirait. Bertempat di Balai Kartini, Jakarta, pada Sabtu, 15 Oktober 2016. Acara dimulai dengan kebaktian, dipimpin oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriete T. Hutabarat Lebang, dan doa penutup dipanjatkan Sekretaris Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, M.Th.

Dalam khotbahnya, Pdt. Henriete mengatakan, Sabam adalah keajaiban yang dikarunia Tuhan kepada keluarga, sahabat dan kenalannya. "Saya kenal Pak Sabam waktu kuliah. Suaranya lantang, pikirannya terang. Kadang pikirannya mengusik, karena mengungkapkan kebenaran. Pak Sabam berupaya menghadirkan keadilan dan kebenaran Allah," kata Pdt. Henriete. Dalam ibadah itu juga dikumpulkan persembahan yang dialokasikan ke STT HKBP Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Setelah ibadat, acara dilanjutkan dengan acara adat. Seluruh keturunannya 14 orang, anak, menantu dan cucu-cucu memberi upa-upa ni sipanganon, sebagai bentuk penghormatan kepada orangtua. Makanan berupa daging sapi, sebagai lambang doa dan harapan dari keluarga. Setelah itu, dilajutkan memberikan ulos dari pihak hula-hula Sidabutar dan tulang Situmorang.

Pria kelahiran Tanjung Balai, Sumut, 13 Oktober 1936 ini, besar di Pematang Siantar, merupakan tokoh politik senior yang konsisten pada bidangnya, politik, yang kini bermetamorfosis menjadi seorang negarawan. Maka, tak berlebihan jika Presiden Joko Widodo memberi kehormatan Bintang Mahaputra Utama dan menyematkan di pundaknya. Sabam menikah dengan Sondang boru Sidabutar. Dari pernikahan tersebut, lahir empat orang anak, yakni anak pertama, Maruarar Sirait menikah dengan Shinta Triastuti, putri Jawa. Anak kedua, Batara Imanuel Sirait menikahi Natsya boru Purba. Anak ketiga, Johan Bakti Porsea Sirait. Tinggal Johan yang belum menikah. Dan putri satu-satunya Mira boru Sirait, menikah dengan Putra Nababan, Pimpinan Redaksi Metro TV.

Selesai ibadah dan acara adat, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan mewakili keluarga diwakili anak sulungnya, Maruarar Sirait. Ara demikian sering dipanggil, menyebut dirinya amat bersyukur pada Tuhan diberi ayahnya umur panjang. Ayahnya memang dikenal orang sosok bersahaja yang tak pernah bersentuhan dengan kasus hukum. Dia meninggalkan legacy, mewariskan nama baik bagi bangsa dan negara. Dia merasakan tujuh pemerintahan yang pernah ada negeri ini, sejak masa sukar hingga ke era reformasi sekarang ini. "Bapak tidak mewarisi kami kekayaan. Tapi, dia mewariskan kami nama baik," ujar Maruarar Sirait yang juga anggota DPR-RI dan Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih dalam sambutannya.

Selain itu, Ara yang kini disebut-sebut bakal calon Gubernur Sumut pun menuturkan, dalam kesempatan ini juga, sebelumnya telah melayangkan undangan pada ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono untuk hadir. "Saya sengaja undang, untuk menunjukkan persatuan di atas kompetisi. Kami pun keluarga yang demokratis, adik saya Iman ada di Gerindra,” ujarnya sembari  memanggil adiknya, yang juga merangkap sebagai ketua panitia acara. “Di mana Iman, tolong berdiri,” ujarnya, disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Dari ketiga calon gubernur tersebut hanya Ahok yang hadir. Ahok baru tiba tepat saat Ibu Sinta Nuriyah Wahid sedang memberikan sambutan. Ahok didampingi Ruhut Sitompul. Beberapa waktu sejenak para wartawan mengabadikan momen kehadiran Ahok, berfose di sebelah Sabam, hingga tanpa sadar para rekan wartawan menghalangi istri Presiden RI ke-4 itu menyampaikan sambutannya. Namun berangsur kemudian bisa dilanjutkan.

Jelas, secara politik Gus Dur dan Sabam Sirait itu berbeda ideologi, tetapi keduanya berteman akrab. “Banyak perbedaan Gus Dur dengan Pak Sabam. Tetapi, ada kesamaan keduanya, sama-sama memperjuangkan keutuhan NKRI,” ujar mantan Ibu Negara ini. Sabam memang politisi handal nan lantang. Dia pernah menjadi anggota DPR selama tujuh periode. Atau sejak 1973-2004, dan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) selama dua periode, di masa pemerintahan Presiden RI Soeharto.

Selain Sinta Nuriyah Wahid, hadir pula para tokoh nasional dan pejabat menteri di antaranya, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Dr. Yasonna Laoly, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Dr. Akbar Tanjung, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristianto dan Wakil Kapolri Komjen Pol. Syafruddin. Dari kalangan pengusaha hadir James T. Riady dan Chairul Tanjung. Hadir pula Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. M. Iriawan, cendekiawan Dr. Yudi Latif dan pengamat politik, Muhammad Qodari.

Bahkan, ada terlihat beberapa bupati hadir. Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor dan Bupati Samosir Rapidin Simbolon. Selain itu, tampak pengacara senior Dr. Todung Mulya Lubis, Prof. Dr. Otto Hasibuan dan Dr. Juniver Girsang. Perhelatan hari ulang tahun ini dimeriahkan sejumlah paduan suara, antara lain paduan suara dari UKI dan HKBP Kebayoran Lama, Jakarta. Dan yang menyanyi Rita Butarbutar, Edo Kondologit dan Lea Simanjuntak, Trio RNB yang terdiri dari Reni Siregar, Neti Sihotang, dan Bernard Marbun.

Pada sambutannya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut, Sabam adalah politisi yang berani dan selalu menonjolkan etika, dan sopan santun. "Bang Sabam selalu memegang sopan santun dalam berpolitik," kata Enggartiasto. Dilanjutkan sambutan Yasonna Laoly mengatakan, Sabam adalah guru politiknya. Bahkan, dia menyerukan agar para politisi belajar pada Sabam yang lantang berpolitik tetapi lentur memainkannya.

 "Dia itu punya kelebihan dalam berpolitik. Ada kelenturan berpolitik. Bang Sabam adalah guru politik saya, sahabat, guru dan senior saya. Dialah yang bertanggungjawab membuat saya seperti ini. Mengajarkan konsistensi, ketahanan, dan kelenturan berpolitik. Pernah Ara bertanya sama saya, saya bilang kamu itu harus sedikit lentur. Mari kita tiru bapak yang lentur berpolitik,” ujar Yasonna. “Sabam adalah politikus yang rendah hati. Kita berharap Bang Sabam berumur panjang. Karena suri tauladan yang dapat diberikannya. Bang Sabam mengajarkan konsistensi dalam berjuang secara politik,” tambahnya.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tak tampak hadir. Sebagaimana di beberapa kisah menyebut Megawati terjun ke politik oleh bujukan Sabam yang mantan Ketua Majelis Pertimbangan PGI ini. Ketidakhadiran Ketua Umum PDI Perjuangan di perayaan ulang tahunnya itu sempat jadi bisik-bisik di antara hadirin. Namun, saat sambutan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto menjernihkan alasan ketidakhadiran Megawati, karena sedang melawat sejumlah negara.

 "Ibu menitipkan salam dan selamat ulang tahun, karena Ibu dalam perjalanan ke Aljazair. Undangan dari pemerintah Aljazair. Mengingat Aljazair merdeka karena perjuangan dari Bung Karno diseludupkan dua kapal senjata ke sana,” tukas Hasto. "Kemudian Ibu ke Prancis untuk memperjuangkan agar Konferensi Asia Afrika seluruh dokumennya, seluruh arsipnya menjadi bagian memory of the world," jelas Hasto yang penganut  Katolik ini.

 

Kesaksian Hidup dan Rumah Pancasila

Pada penutup sambutan didaulat pula Ahok. Kedekatan Ahok pada keluarga Sabam bukan rahasia lagi. Bahkan, sejak menjadi gubernur, Sabam tak lupa menyematkan ulos ke punggung Ahok sebagai bukti kasih keluarga ini padanya. Sabam Sirait dikenal dekat dengan Ahok dan Joko Widodo, yang kini menjadi Presiden RI. Saat Jokowi-Ahok maju menjadi pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta, keduanya kerap menyambangi kediaman Sabam.

Senada dengan Yasonna, Ahok pun mengatakan, Sabam salah satu guru politiknya. Apa yang diingat Ahok pesan dari guru? "Soal bagaimana memperjuangkan seluruh anak bangsa Indonesia bisa memiliki hak yang sama untuk menjadi pejabat," katanya. Ahok menambahkan, banyak orang menganggap politik itu kotor. Tapi, bagi Pak Sabam, politik itu suci sebagaimana pernah dikatakan John Calvin. "Politik merupakan sebuah kesaksian hidup untuk mempertontonkan etalase rumah Pancasila," ujarnya.

Ahok juga ditanya MC soal hubungan pemberian ulos untuk mengingatkan agar Ahok lebih sabar memimpin. "Enggak pernah ingetin soal sabar. Itu, kan, yang ngomong cuma Ara, bukan bapaknya," katanya, ditanggapi gemuruh tepuk tangan. Ahok menambahkan, kita bercita-cita ingin membangun rumah Pancasila. Karena itu, dia akan mengedepankan adu program dalam bersaing di Pilkada DKI Jakarta. "Kalau tahun depan saya terpilih, karena prestasi saya, bukan karena SARA. Kami akan betul-betul adu program. Maka, tembok ruang Pancasila selesai," tambahnya.

"Rumah Pancasila saat ini sudah terbangun setengah, setelah dirinya sebagai kaum minoritas di Indonesia berhasil menjadi kepala daerah di Jakarta. Dan akan lengkap bila konstitusi bisa menjamin kaum minoritas menjadi pemimpin negara ini. Saya yakin semua yang hadir di tempat ini, semua mendoakan umur panjang untuk melihat rumah Pancasila selesai kita bangun, itu cita-cita proklamator. Saya kira itu cita-cita kita bersama," ujar Ahok yang pernah jadi “Tokoh Kristiani 2011 Pilihan NARWASTU.”

 

Sabam pun dikenal lantang sekaligus lentur bepolitik. Dia juga dikenal pejuang Palestina merdeka. Itu sebabnya, tatkala Presiden Joko Widodo dalam Sidang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) beberapa waktu lalu di Jakarta memberi pidato dukungan RI untuk kemerdekaan. Sabam salah satunya memberi pujian pada Jokowi dengan tegas mengatakan, Indonesia akan terus memperjuangkan Palestina merdeka.

Menurutnya, sebenarnya dukungan itu tak pernah berubah sejak zaman Presiden Soekarno hingga sekarang. Umumnya yang diketahui masyarakat yang berjuang untuk kemerdekaan itu adalah tokoh-tokoh Islam. Tetapi, jauh di masa mudanya dia juga sudah getol memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Bahkan, sejak mahasiswa. Sudah aktif memperjuangkan kemerdekaan Palestina dalam forum dunia. Bahkan, di era Reformasi, Sabam juga sering turun ke jalan untuk ikut dalam aksi untuk memperjuangkan hak-hak Pelestina.   

“Memperjuangkan kemerdekaan Palestina merupakan sikap prinsip kita bangsa Indonesia, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Palestina tidak boleh tidak merdeka. Palestina mesti merdeka. Palestina itu bukan hanya membutuhkan bantuan moril, tapi materil, dan senjata. Saya juga menyarankan negara-negara di dunia untuk meningkatkan solidaritas kepada Palestina. Saya sedih banget lihat peta Palestina semakin kecil saja dalam peta dunia,” katanya.

Mengapa begitu gigih memperjuangkan kemerdekaan Palestina? Alih-alih dia mengatakan, membela kemerdekaan Palestina, sebab ia cinta kemerdekaan. “Saya sangat benci dengan penjajahan. Ketika saya masih kecil, saya melihat langsung bagaimana Belanda memasuki kampung saya di Pematang Siantar. Belanda datang menjajah dan kami harus mengungsi ke Porsea. Kami berjalan kaki sejauh 80 kilometer, melewati hutan, tiga hari tiga malam. Maka sejak kecil saya antipenjajahan. Dan kini, Palestina masih dalam keadaan dijajah, maka kita harus bela. Harus kita dukung agar Palestina menjadi bangsa yang merdeka,” kata Sabam.

Kegetolannya untuk membela Palestina dimulai sejak mahasiswa, tahun 1962 atau 1963. “Saya termasuk seorang yang menggagas konferensi mahasiswa dunia untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Yang menggelar konferensi itu adalah Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang merupakan federasi dari 17 organisasi, seperti HMI, GMKI, PMKRI, GMNI, PMII dan lain-lain,” katanya.

Perjalanannya sejak ada konferensi di Aljazair. “Setelah acara selesai, saya pergi ke Libya, lalu terbang ke Suriah, masuk Lebanon. Dari perbukitan Lebanon saya lihat pemandangan Palestina dan Isarel. 27 tahun saya jadi anggota DPR, dua pertiganya saya berada di Komisi Luar Negeri. Dan 10 tahun jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), saya juga menangani masalah luar negeri. Selama itu juga saya terus dukung kemerdekaan Palestina,” tegasnya.

Di pengujung acara Rita Butarbutar menyanyikan lagu “Dung Sonang Rohangku (Hatiku senang).”  Lagu yang digubah dari ciptaan Spafford Horatio Gates oleh pengalaman duka, tercipta karena musibah. Lagu itu, sontak membuat Sabam beranjak dari tempat duduknya. Hanya saja kemudian Rita Butarbutar kemudian menghampirinya dan mengajaknya bernyanyi. Sabam lalu menyanyi, “Sonang do dipasonang tongtong rohangkon.” Lagu ini tentu ajakan untuk mensyukuri hidup. Bahwa setiap peristiwa tragis pun punya makna. Maka apapun yang terjadi di dalam hidup, baik atau buruk pun itu, Tuhan akan tetap menghibur jiwa kita. HM

Berita Terkait