Sambutan Ketua STT Jaffray Jakarta

922 dibaca
Suasana wisuda di STT Jaffray Jakarta pada 23 September 2017.

BERITANARWASTU.COM. Yang saya hormati: Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Ketua Umum Gereja Kemah Injil Indonesia/Ketua Badan Pelaksana STT Jaffray Jakarta, Ketua dan Anggota Dewan Penasihat, Ketua dan Anggota Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Jaffray Jakarta, para Pelayan TUHAN dan Undangan Khusus, Pemimpin Gereja Mitra, Donatur, Sponsor, dan Kerabat/Keluarga, unsur Pemimpin, Dosen, serta Staf, Ketua dan Anggota Badan Pengurus Alumni, Ketua BEM, dan Mahasiswa/i STT Jaffray Jakarta, para Wisudawan-Wisudawati dan Keluarga dan panitia Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Tahun 2017.

Salam sejahtera, respons terhadap momen wisuda bagi setiap orang sangatlah beragam. Ada yang menempatkannya sebagai bagian yang sangat urgen karena telah mencapai suatu tahapan pendidikan tertentu (achievement) dan mendapatkan gelar akademik. Ada juga yang menempatkannya sebagai hal yang biasa saja dan cenderung dingin memaknai arti wisuda itu sendiri. Apapun respons pribadi, pada prinsipnya, wisuda adalah tanda suatu perjuangan; tanda telah melewati proses yang tidak instan; tanda telah mendapatkan legalitas akademik; tanda kelayakan disebut sebagai pembelajar; tanda kelayakan disebut sebagai alumni yang memiliki kapasitas, kapabilitas, dan kompetensi mumpuni; tanda-sahnya bahwa telah mencapai garis akhir dalam tahapan perjuangan studi (finishing well in studying).

Hari ini adalah bukti sejarah bagi perjuangan, proses, dan legalitas akademik terhadap mahasiswa-mahasiswi yang diwisuda. Tentu, semua bersepakat bersyukur kepada Tuhan, Sang Sumber segala ilmu pengetahuan yang telah mengiringi perjalanan perjuangan belajar sehingga mendapatkan diri layak diwisuda hari ini. Semua ini adalah bagian sejarah berharga dan membanggakan banyak pihak; terutama diri sendiri, keluarga/orangtua, sponsor, serta gereja/lembaga/institusi pengutus. Kebanggaan ini tentu dibarengi dengan ekspektasi dan asumsi variatif dari para pihak yang berkepentingan bahwa penamat adalah hamba Tuhan yang telah sungguh-sungguh bertobat dan melayani dengan setia (humble-servant); hamba yang telah lulus fit and proper test yang terus-menerus belajar dari Kristus (learning by doing-continuing); penamat adalah mediator kasih yang terdepan bagi kehadiran perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik (agent of change); penamat adalah pemberi dan penggagas solusi (problems-solver) yang berpikir solutif di kala semua jalan tampak membuntu; dan penamat adalah agen perdamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat, gereja, bangsa, serta negara (agent of blessings). Ekspektasi dan asumsi ini melekat erat pada diri para penamat hari ini (wisudawan-wisudawati). Pembuktian dan perwujudan seluruh ekspektasi ini akan teridentifikasi absah bila diimplementasikan secara nyata, berbuah, berbekas, dan berjejak secara permanen dan berkelanjutan.

Tema Tahun Kuliah 2017-2018 STT Jaffray Jakarta sekaligus menjadi Tema Wisuda tahun ini adalah “Peran Umat Allah dalam Merajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa” (1 Petrus 2:11-17).  Tema ini didasarkan pada rangkuman pengamatan dan proses internalisasi akumulatif tentang apa yang sudah dan sedang terjadi saat ini -- sekaligus menjadi momen reflektif guna mempertajam semangat, ingatan, dan tanggung jawab umat Allah terhadap problematika bangsa dan negara dari perspektif biblis-teologis.

Ini merupakan bukti kuat bahwa garapan dan resapan ilmu teologi sesungguhnya tidak hanya berbasiskan pada sektor spiritual belaka dan cenderung lalai, tetapi juga mengedepankan respons menyeluruh umat Allah terhadap kondisi kebangsaan yang cenderung luput dan terpinggirkan dari perhatian umat Allah itu sendiri. Banyak yang abai terhadap tanggung jawab kemaslahatan bangsa dan negara. Padahal, Alkitab memandatkan agar turut mengambil bagian bagi terciptanya kemaslahatan hidup dan kesejahteraan kota/bangsa (Yeremia  29:7). Alkitab menggarisbawahi pentingnya ketundukan terhadap semua lembaga manusia terutama kepada raja/pemimpin pada segala tingkat dan level (1 Petrus 2:13 & 17).

Sebagai umat Allah sekaligus sebagai warga negara yang baik secara khusus dalam konteks Keindonesiaan, kita sedang diperhadapkan pada tantangan kehidupan yang beragam dan kompleks. Terkikisnya rasa solidaritas dan minimnya penghayatan nilai-nilai kebangsaan semakin mengkuatirkan semua pihak. Memudarnya semangat persatuan dan kesatuan bangsa karena ambisi, kepentingan pragmatis, ego sektarian, dll. telah menjadi ancaman serius.

  Tantangan kebangsaan semakin complicated. Pendek kata, menjadi momok yang menyeramkan; melukai semangat juang dan hati nurani; merusak tatanan nilai dan hasil perjuangan yang telah dibayar mahal oleh para pejuang/pemimpin pendahulu (founding parents). Karena itu, tidak ada alasan untuk memungkiri ‘tupoksi’ umat Allah yang mesti hadir sebagai garam dan terang bagi bangsa ini. Hadir sebagai penyejuk dan pemersatu bangsa yang plural serta multikultural ini.

Implementasi kebenaran yang telah dijelaskan di atas sedang teruji dan diuji. Ujian terhadap pilar-pilar kebangsaan menjadi semakin nyata; apalagi pasca-pesta demokrasi yang sudah terlalu jauh dari substansi demokrasi yang sesungguhnya. Cara dan pendekatan ala hutan rimba pun tersuguhkan. Pun di sektor agama-spiritual kita jumpai bentuk kehadirannya yang beragam. Kemunafikan ala para orang Farisi dan ahli Taurat pun menampakkan bentuknya secara kreatif-modifikatif. Kualitas hidup dan iman yang suam-suam kuku ala jemaat Laodikia sebagaimana dikisahkan di dalam kitab Wahyu merajalela; berkembangnya sikap intoleransi dan radikalisme menjadi konsumsi para ‘kaum suci’; nilai hidup menjadi sangat murah.

Hadirnya ular beludak, ular api, ular sendok yang tersusupkan dalam kantong jubah ‘agamis-rohanis’ menjadi peringatan pentingnya membentengi diri dengan firman Allah guna menangkal segala bentuk kuasa Iblis dan roh-roh zaman ini. Beragamnya pemunculan kejahatan adalah bukti kuat dominansi dan tarikan penguasa kegelapan tersebut. Penampakkan perdagangan/bisnis ala ‘Saracen’ pun semakin memperlihatkan seramnya kondisi yang sedang kita hadapi sekarang ini. Karena itu, bagaimana kita menempatkan diri dalam kondisi seperti ini? Bagaimana kita berbicara tentang kebenaran? Bagaimana kita menerjemahkan kasih/kemaslahatan/kesejahteraan? Bagaimana kita berbicara tentang keadilan yang berkeadilan? Para wisudawan-wisudawatilah yang mengartikulasikannya secara bijaksana di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, bergereja, berbangsa, dan bernegara.

Pada akhirnya, atas nama pribadi dan institusi, dengan ini saya menyampaikan ucapan ‘terimakasih yang jujur dan tulus’ kepada para pihak, antara lain: pihak Pemerintah, Gereja, Sponsor dan Keluarga-keluarga atas dukungan yang sudah, sedang, dan akan terus dipersembahkan kepada Tuhan melalui STT Jaffray Jakarta guna mencapai impian besar dan idealisme pendidikan yang dicanangkan.  Doakan dan dukunglah seluruh program dan kepemimpinan periode 2016-2021. Doa dan harapan kami, kiranya Tuhan membalas segala kebaikan dan dukungan Bapak/Ibu/Saudara dengan limpah. Secara khusus, kepada seluruh Wisudawan-wisudawati Program Sarjana ke-34 dan Program Pascasarjana ke-28 Tahun 2017 saya menyampaikan, "Selamat dan sukses di tangan Allah yang Kekal." Benedicite Deum. Jakarta, 23 September 2017.

Berita Terkait