Setelah Karangan Bunga, Lilin, Apalagi....

• Oleh: Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. 363 dibaca


BERITANARWASTU. Indonesia berduka...Indonesia menangis...Vonis Majelis Hakim PN Jakarta Utara telah memberikan keputusan dua tahun penjara  bagi “si penista agama”, Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.). Berita vonis tersebut bergaung sampai ke seluruh penjuru dunia. Beberapa minggu sebelumnya, pasangan petahana, Basuki Tjahaja Purnama  dan Djarot Syaiful Hidayat dikalahkan oleh pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Bak jatuh tertimpa tangga pula, adalah kata-kata yang tepat melukiskan nasib Gubernur DKI Jakarta 2012-2017, Basuki Tjahaja Purnama yang lebih dikenal sebagai Ahok.

  Masa kampanye yang sangat melelahkan dan serangan bertubi-tubi ditujukan ke arah petahana. Dari serangan bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), sampai pada politisasi agama. Ahok yang doubel minoritas, Tionghoa dan Kristen pula menjadi sasaran serangan yang seperti air bah. Pidato di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, menjadi salah satu pemicu setelah Buni Yani mengedit dan menyebarkan pidato yang terpotong menjadi viral di dunia maya.

   Pemicu yang menyebabkan kemarahan kaum Muslim mengakibatkan gerakan 411, 212, 313 dan lain-lain, yang kemudian menjadi alasan menjatuhkan Ahok dalam kampanye pihak lawan. Walaupun sudah disadari dari awal bahwa ada semacam konspirasi untuk menundukkan serta mengalahkan petahana harus lewat cara-cara seperti itu. Tidak ada yang dapat mengalahkan petahana dari sisi program dan kinerja. Petahana diakui telah bekerja dengan program yang baik dan benar-benar telah melakukan perubahan yang nyata di Jakarta. Bahkan, penantangnya sampai-sampai hanya mencontek program petahana dengan hanya menambahkan “plus” saja. Yang artinya akan diperluas, dipercepat, tanpa ada terobosan baru.

 Dan memang petahana harus menelan kekalahan, 42% untuk petahana dan 58% untuk pasangan Anies-Sandi.  Sikap ksatria langsung ditunjukkan oleh petahana. Tanpa menunggu hasil resmi dari KPU, Ahok dan Djarot sudah mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada sang pemenang. Ini sikap yang sangat terpuji dari anak bangsa yang bernama Ahok dan Djarot.

Demikian juga tidak ada protes atau proses yang mempersulit dari semua pendukung petahana. Pilkada DKI Jakarta yang hingar bingar, yang dapat dikatakan Pilkada serasa Pilpres kemudian menjadi pilkada teraman, pilkada paling sejuk dan lagi-lagi Indonesia sebagai negara demokrasi mendapatkan apresiasi dari dunia. Dunia kagum pada Indonesia!

     Belum habis rasa damai di ibukota RI, tiba-tiba datang ucapan-ucapan yang meneguhkan, menghibur, menguatkan, memberikan motivasi, mengucapkan terima kasih yang berupa karangan bunga berdatangan di kantor Pemprov DKI Jakarta, di mana Ahok dan Djarot masih harus menyelesaikan tugasnya sampai Oktober 2017.  Hal yang sangat langka terjadi. Biasanya karangan bunga ditujukan bagi pemenang, sebagai ucapan selamat atas kemenangan, sebagai ucapan untuk mulai bekerja, dan tidak jarang juga untuk membangun relasi di kelak kemudian hari. Tapi sungguh di luar dugaan, bahwa petahana yang kalah yang mendapatkan ribuan karangan bunga.

     Sejarah mencatat sebagai fenomena baru. Tanda kecintaan warga DKI Jakarta, bahkan warga Indonesia karena karangan bunga tidak hanya berasal dari DKI Jakarta, tapi juga dari daerah-daerah. Karangan bunga bisa diartikan simbol kecintaan terhadap petahana. Walaupun ada juga yang menghembuskan kabar negatif bahwa karangan bunga ini didesain oleh 1 atau 2 orang saja. Sampai-sampai toko bunga pun menjadi sasaran penyelidikan orang-orang yang selalu berpikiran negatif. Itu kondisi yang memprihatinkan bangsa ini, bahwa masih ada juga sebagian masyarakat yang selalu berpikir negatif dan selalu mencari-cari kesalahan.

  Belum selesai dengan gerakan bunga, tepatnya pada 9 Mei 2017, Sang Gubernur, Ahok mendapatkan keputusan selama dua tahun penjara di pengadilan tingkat pertama.  Seketika warga yang cinta Ahok serasa tidak percaya bagaimana seorang yang sudah banyak bekerja untuk kotanya, untuk warganya, mendapatkan vonis dua tahun penjara terlebih dengan keputusan untuk segera masuk penjara.  Ini membangkitkan emosi sebagian massa pro Ahok, walaupun masih dilakukan dalam batas-batas wajar, namun mulai terlihat ketegasan dari warga masyarakat tersebut.

Warga yang merasakan ketidakadilan telah mulai melakukan aksinya dengan melanjutkan pengiriman karangan bunga. Namun tidak hanya dikirim ke Balai Kota tetapi dikirim juga ke Mako Brimob tempat Ahok harus di penjara. Warga juga tidak hanya mengirim bunga, bahkan sekarang timbul gerakan “Seribu Lilin”, yang diawali di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Lilin sebagai lambang padamnya rasa keadilan di Indonesia. Lilin sebagai lambang matinya nurani sebagian pejabat, hakim sebagai aparat penegak hukum di Indonesia.

Aksi Seribu Lilin ternyata berkembang dari satu daerah ke daerah lain dan meluas juga ke pulau-pulau lain di Indonesia. Kalimantan, Bali, Maluku, NTT, tidak dapat menghentikan gerakan Seribu Lilin itu, bahkan kota-kota di dunia, seperti Amsterdam, Stockholm, Washington, Sydney, dan berbagai kota dunia lain. Serempak mereka merasakan empati mendalam bagi seorang Ahok.

  Peristiwa yang langka di mana Ahok telah kalah dalam Pilkada, dan kemudian masuk penjara tetapi masyarakat malah mencari sosok Ahok, sebuah kehilangan akan seseorang pembela kebenaran. Mendadak Ahok tidak lagi sebagai penista agama, tapi menjadi pahlawan dan pejuang yang terzolimi, pejuang yang dikriminalisasi.  Nama Ahok mendadak menjadi magnit the silent majority  untuk bangkit, untuk unjuk diri dengan semangat damai tapi berani muncul tanpa rasa takut, rasa waswas. Dan kelompok yang menganggap Ahok terzolimi kini muncul dengan gerakan masif, terstruktur dan seolah terencana ke semua penjuru dunia.

   Munculnya fenomena seperti Gerakan Seribu Lilin itu memberikan arti bagi bangsa bahwa masih ada orang yang baik, bertanggungjawab dan bersih di antara seluruh pejabat yang ada. Dan sekarang pejabat itu sedang di penjara, sedang dilumpuhkan, sedang dimatikan karier politiknya. Gerakan yang menjadi masif ini akan sangat rawan ditunggangi oleh pihak luar yang bermaksud mengadu domba. Dan ini yang harus dicermati agar gerakan murni dan suci tersebut tidak dikotori oleh tangan-tangan kotor yang tidak ingin adanya Indonesia yang satu, Indonesia yang berbhinneka.

   Sudah menjadi spekulasi di masyarakat, apakah gerakan sebagaimana kerusuhan Mei 1998 akan terjadi kembali?  Bangsa yang mudah diadu domba, bangsa yang mudah terprovokasi akan mudah terpecah belah. Gejala yang makin terlihat adalah makin banyak berita hoax, yang berisi berita-berita yang tidak benar atau separuh benar dimodifikasi sedemikian rupa. Sehingga pembaca menjadi percaya akan berita tersebut dan menimbulkan emosi sebagian pembacanya. Kondisi bangsa menjadi rentan dan mudah untuk bertindak tanpa pertimbangan dan konflik horizontal sangat mudah terjadi. Ini yang dikehendaki oleh para provokator yang menginginkan Indonesia terpecah belah.

    Kebhinnekaan yang menjadi jati diri bangsa sedang didorong untuk hancur, sekelompok masyarakat mulai menunjukkan keinginannya untuk membuat NKRI Bersyariah, negeri Khilafah. Tetapi dengan bangkitnya the silent majority sebagaimana terjadi di segala pelosok Nusantara, bahkan sampai mancanegara, kaum intoleran harus berpikir ulang untuk melampiaskan hasratnya menjadikan Indonesia dengan ideologi yang kontra Pancasila. Perjuangan mewujudkan negara adil makmur sesuai Pancasila memang belum tuntas, perjuangan memang belum selesai.

 

·                     Penulis adalah  pemerhati masalah politik & perburuhan dan Ketua Umum VOX POINT INDONESIA (VPI).

Berita Terkait