St. Albiner Rajagukguk, S.H. Pengacara yang Peduli Memberi Pencerahan Hukum Kepada Umat

1214 dibaca
St. Albiner Rajagukguk, S.H. Pemberani.

Beritanarwastu.com. Pria yang dikenal Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Indonesia ini, adalah pejuang yang gigih membela umat yang teraniaya. Ia pernah membela pendeta yang mobilnya dibakar massa. Ia juga pernah mengkritik polisi yang tak berani membela warga gereja yang diserang saat beribadah. Sekarang pria Batak ini sangat resah, karena di Depok, Bekasi, Bogor dan Tangerang marak terjadi penutupan dan perusakan tempat ibadah umat Kristiani.

Selama ini St. Albiner Rajagukguk, S.H. giat membela warga gereja, khususnya di Banten dan Jawa Barat yang aktivitas ibadahnya diganggu. Pria yang beribadah di Gereja HKBP Rogate, Karawaci, Kota Tangerang, Banten, ini menuturkan, warga gereja jangan berhenti untuk memperjuangkan kebebasan beribadah di negeri ini. Gereja-gereja yang diganggu ibadahnya, imbuhnya, mesti kita perjuangkan agar bebas beribadah.

“Sekarang banyak jemaat yang beribadah di rumah-rumah secara berpindah-pindah, karena adanya gangguan dari ormas tertentu. Saya makin khawatir melihat keadaan bangsa ini yang makin kritis, lantaran perlindungan pemerintah terhadap umat minoritas, sepertinya makin tak ada. Beribadah saja kita sangat susah, apalagi untuk mencari makan, akan bisa dipersulit,” ujar suami tercinta M. boru Sitindaon ini suatu saat di sebuah acara diskusi bersama sejumlah jurnalis Kristiani di sebuah restoran di kawasan Jakarta Timur.

Menurut Parhalado (Majelis) Resort HKBP Rogate Distrik 21 Banten ini, orang yang menutup gereja, seperti di HKBP Bogor pada 2009 lalu seharusnya dijadikan tersangka. Karena, “Orang-orang yang menutup tempat ibadah mirip teroris. Penutupan gereja di Cinere dan Bekasi, membuat kita makin gelisah atas perjalanan negeri ini. Makanya, saat bertemu dengan Kapolda Jawa Barat dan Kasatreskrimnya, saya tegaskan, orang yang menutup tempat ibadah tanpa alasan yang masuk akal, mesti diproses secara hukum. Sebab, undang-undang melindungi semua warga negara untuk beribadah,” tegas penatua di HKBP dan Ketua Bidang Litigasi dan Hukum MUSPIJA (Musyawarah Pimpinan Gereja) Banten ini.

Memang di negara ini, ujarnya, masih sulit untuk mewujudkan kebebasan beribadah. Apalagi pemerintah belum memproses satu pun kasus penutupan gereja. Mulai dari penutupan gereja di Jatimulya, Kota Bekasi, sampai Banten, pemerintah belum menegakkan hukum. “Kita mesti berjuang terus untuk kebebasan beribadah,” ucap pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Kebebasan Beribadah (TPKB) ini.

Kata Albiner, orang Batak di negara ini pun eksistensinya makin terancam. “Banyak gereja HKBP yang dirusak dan ditutup, seperti di Sumatera Utara, Cinere, Bogor dan Bekasi. Juga kasus pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) kasusnya mulai hilang dari pemberitaan media massa. Masak orang Kristen Batak tak bisa membentuk Protap. Dengan alasan apapun sebenarnya pembentukan Protap tak bisa dihalangi. Adalah hak warga negara untuk berserikat dan membangun daerahnya namun tetap di dalam lingkungan NKRI,” papar pengacara yang pada 7 Desember 2009 lalu mendapat anugerah dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Pengacara yang Peduli Orang Kecil.

Itu sebabnya, Albiner yang merupakan mantan Ketua Dewan Diakonia di Gereja HKBP Resort Rogate Tangerang, meminta para jenderal berpengaruh dari Batak (Kristen) agar mau menyampaikan statement tegas soal pembentukan Protap. “Bapak-bapak jenderal, seperti Sintong Panjaitan, Luhut Panjaitan, T.B. Silalahi dan Bonar Simangunsong harus tegas berbicara tentang Protap. Bagaimana pun aspirasi masyarakat adalah membentuk Protap. Jangan dihalang-halangi orang Batak guna membangun daerahnya dengan isu agama. Kita ingin membuat daerah kita sejahtera, makanya Protap diperjuangkan,” tegas anggota Partai Nasdem dan anggota Tim Sukses Rano Karno di Pilkada Gubernur Banten 2017 ini.

   

 St. Albiner Rajagukguk, S.H. bersama pengurus MUSPIJA saat bertemu dengan Kapolda Banten, Brigjen Pol. Sigit Prabowo, S.IP.

 

Di pihak lain, Albiner mendorong pers, termasuk media-media Kristiani agar terus menyuarakan persoalan yang dihadapi umat Kristiani, terutama soal gangguan beribadah. “Pemerintah harus kita dorong terus agar memperhatikan umat Kristen. Polisi jangan diam saja saat terjadi perusakan gereja. Polisi harus berani mempidanakan orang yang merusak gereja. Pers Kristiani harus lebih berani. Sekarang pers bebas, ini bukan zaman Soeharto, di mana dulu pers dikekang,” ucap anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI) dan pimpinan Kantor Advokat & Pengacara Albiner Rajagukguk, S.H. dan Associates ini.

Albiner menerangkan, pernah ketika ia memperjuangkan lima gedung gereja yang ditutup di Banten, ironisnya pendeta yang memimpin gereja itu tak bersedia memberi surat kuasa terhadap dirinya agar diproses secara hukum. Saat itu, katanya, seorang pendeta berkata, pengacara kami adalah Tuhan Yesus. “Saya sungguh kaget, kok pendeta tak mengerti hukum,” ujar Albiner yang giat membina relasi dengan tokoh-tokoh di Banten untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan umat beragama itu.

Betul, Yesus pembela kita, tapi anak-anak Tuhan seperti pengacara pun dipakai Tuhan membela gerejanya di dunia. Makanya, teman-teman pers perlu membantu kami menyadarkan para pendeta agar mengerti hukum,” tukas Albiner yang giat memberikan pencerahan hukum terhadap warga gereja di Banten dan Jawa Barat dalam menyikapi aktivitas beribadah.  Albiner pernah mengadvokasi Gereja HKBP Parung Panjang, Bogor, yang pernah dibongkar pihak Trantib Kabupaten Bogor. Selain itu, Gereja Injili Sepatan Kabupaten Tangerang, yang pernah mendapat masalah juga pernah dibelanya.

Albiner yang pernah mendapat penghargaan dari MUSPIJA sebagai pengacara yang giat dalam aktivitas gerejawi ini berpendapat, dalam kiprah dan pelayanannya di tengah masyarakat ia selalu berupaya memberi pencerahan hukum kepada masyarakat agar tahu bahwa Indonesia ini adalah negara hukum. “Jadi hukum mesti dijadikan sebagai panglima. Ada orang yang kurang mengerti hukum, saat kita persoalkan pelanggaran hukumnya, eh, ia malah marah dan ingin melakukan pengeroyokan. Yang begitu kita tidak takut. Kita hadapi, karena kita benar,” tegas Albiner yang merupakan Ketua Umum Panitia Natal Keluarga Besar Punguan Rajagugukguk, Boru, Bere dan Ibebere se-Jabodetabek pada 2014 itu.

Lelaki Batak yang pernah menjadi wartawan di harian Sinar Indonesia Baru (SIB) dan Majalah Horas ini, lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 3 Oktober 1964. Ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Wiraswasta Indonesia, Jakarta. Selain aktif sebagai penatua di gereja, pengacara/advokat dan aktivis organisasi, Albiner pun kini giat dalam organisasi paguyuban, yakni Ketua Keluarga Besar Punguan Rajagukguk, Boru dan Bere se-Tangerang Raya.

Ia juga berkomentar soal kiprah Majalah NARWASTU sebagai media Kristiani yang banyak mengangkat persoalan gereja, masyarakat, kebangsaan dan politik. Menurutnya, warga gereja di Indonesia patut bangga dengan eksistensi NARWASTU, karena media ini berpengaruh dan bisa menyuarakan aspirasi dan curahan hati umat Kristiani di negeri ini. “Ketika ada pilkada gubernur atau pilpres, melalui NARWASTU umat Kristen dan tokoh-tokoh Kristen bisa menyampaikan aspirasinya untuk membuka mata hati masyarakat di negeri ini. Saya bangga dengan Majalah NARWASTU,”     MN

Berita Terkait