STT Jaffray Jakarta Isu Politik 2018 dan 2019

515 dibaca
Seminar nasional bertajuk “Revitalisasi Peran Pendidikan Teologi Dalam Menyikapi Isu-Isu Politik Nasional” yang diadakan di Aula STT Jaffray Jakarta, 9 Februari 2018 lalu.

           Beritanarwastu.com. Tahun 2018 dan 2019 diyakini sebagai tahun politik nasional. Ini lantaran di tahun ini akan diadakan 171 pilkada dan tahun 2019 akan diadakan pemilihan anggota legislatif serta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI. Menyikapi riuhnya dua tahun tersebut, dipandang perlu sekolah-sekolah teologia turut serta dalam memahami dan melihat persoalan politik dalam terang Firman Tuhan.
        Untuk itu, Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jaffray, Jakarta, dalam Dies Natalisnya ke-34 menggelar Seminar Nasional bertajuk Revitalisasi Peran Pendidikan Teologi Dalam Menyikapi Isu-Isu Politik Nasional, yang diadakan di Aula STT Jaffray Jakarta, 9 Februari 2018 lalu, yang dihadiri oleh para pemimpin gereja, mahasiswa serta tokoh agama. Tampil sebagai pembicara Firman Jaya Daeli, S.H., mantan anggota DPR-RI serta fungsionaris  DPP PDIPerjuangan, Pdt Dr. Yacob Tomatala selaku pendiri dan Rektor STT Jaffray Jakarta, serta moderator Pdt Sapta Siagian, M.Th.
         Dalam kesempatan itu Firman Jaya Daeli menyoroti kelompok-kelompok yang kerap mempersoalkan Pancasila. “Mereka jumlahnya kecil, tapi militan dan bersuara lantang. Akan tetapi, hal itu tidak perlu dirisaukan karena Pemerintahan Jokowi telah mendeteksi kelompok-kelompok tersebut,” ujarnya. Ditambahkannya, Pancasila adalah realitas hidup bangsa yang terdiri dari kepelbagaian. “Pancasila adalah kita. Hanya Pancasila yang bisa memperjumpakan kita yang saling berbeda satu sama lain,” tukasnya.
         Firman mengatakan, pada rangkaian Pilkada 2018 ini aroma Pilkada DKI Jakarta pasti akan terbawa-bawa. Tidak itu saja, Pilkada 2018 punya efek besar bagi pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden di 2019. Sementara itu Pdt. Dr. Yacob Tomatala menegaskan bahwa pendidikan teologi harus menyadari panggilan khususnya, yakni untuk memperlengkapi sumber daya manusia guna terlibat dalam smeua pelayanan dengan berdasarkan pada kehidupan Kristus, Injil, dan pelayanan itu sendiri. Pdt. Yacob menekankan setiap warga gereja punya hak untuk ikut dalam politik praktis.
          Hanya saja, jangan menggunakan gereja sebagai kendaraan dalam berpolitik. Dirinya juga mengharapkan para politisi Kristen bisa menghadirkan kesaksian Kristus dalam dunia politik. “Pendidikan teologi yang holistik dibangun di atas pemahaman akan kehidupan dan pengabdian Yesus Kristus. Tidak itu saja, karena bersifat holistik, maka bidang politik pun menjadi bagian dari pendidikan teologi. Out put dari pendidikan teologi haruslah kompeten untuk terlibat dalam menghadirkan panggilan tugas gereja secara holistik dan secara khusus menjawab panggilan dalam bidang politik,” kata Pdt. Yacob. RN

Berita Terkait