Dr. Zevrijn Boy Kanu, S.H., M.A., M.Th:
Tahun 2016 Tantangan Bagi Umat Kristen

743 dibaca
Dr. Zevrijn Boy Kanu, S.H., M.A., M.Th bersama keluarga tercinta.

Krisis global diperkirakan akan tetap mewarnai tahun 2016 ini, dan membuahkan dampak di berbagai sektor seperti industri, perdagangan, sosial dan budaya, kesehatan, hukum hingga mempengaruhi suhu perpolitikan negeri ini. Kasus mega proyek Freeport yang sempat gaduh di akhir tahun 2015 lalu, dan menyeret sejumlah pejabat penting nampaknya masih berlanjut.

            Keadaan yang semakin tidak menentu membuat banyak orang dilanda ketakutan dan kekhawatiran, termasuk akan nasib bangsa ini ke depan. Padahal, kondisi ini telah dinubuatkan oleh Alkitab bahwa cepat atau lambat memang akan terjadi masalah ekonomi, kelaparan, masalah moral dan konflik. Bagi advokat sekaligus hamba Tuhan, Dr. Zevrijn Boy Kanu, S.H., M.A., M.Th, tahun 2016 justru merupakan tahun tantangan bagi umat Kristen untuk semakin berharap dan mengandalkan Tuhan Yesus.

 

Persoalan Bangsa

            Di akhir tahun 2015 lalu, terjadi kegaduhan akibat kasus mega proyek Freeport yang melibatkan pembesar negeri ini. Pencatutan nama Presiden dan Wapres RI oleh Setya Novanto terkait perpanjangan kontrak Freeport membuahkan sanksi dicopotnya politisi dari Partai Golkar itu sebagai Ketua DPR-RI oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Langkah Presiden RI Jokowi yang bersikukuh untuk tidak meneruskan kontrak kerja Freeport di bumi Papua dianggap sebagai gebrakan baru dalam perjalanan sejarah Indonesia terutama sebagai orang nomor satu di negeri ini.

          “Hubungan internasional otomatis akan terus terjaga jika kontrak Freeport diperpanjang, walaupun pada kenyataannya tidak menguntungkan Indonesia, di mana Rakyat Papua yang menjadi korban dan hidup tidak sejahtera. Tapi semua itu kembali lagi kepada Presiden RI. Kalau beliau berani untuk melepaskan kontrak ini untuk tidak diperpanjang lagi memiliki dampak yang sangat besar, dan inilah yang harus dipikirkan matang-matang. Walaupun, saya harap Presiden Jokowi berani melakukan itu,” kata Boy Kanu memberikan pandangannya.

              Gebrakan demi gebrakan berupa pembenahan dalam berbagai lingkup strategis negara ini, dicoba diterapkan oleh mantan Wali Kota Solo itu. Kendati masih terjadi tarik menarik kepentingan dari para pejabat yang sebagian besar merupakan anggota dari partai politik. Menurut alumnus Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu dalam proses hukum di Indonesia presiden memegang peranan yang sangat vital. Artinya, baik secara politik atau hukum reaksi presiden memiliki pengaruh yang sangat besar. Jadi semua tergantung sikap dan ketegasan Presiden Jokowi dalam pengambilan keputusan atau kebijakan yang tetap berorientasi kepada kesejahteraan rakyat Indonesia.

           Namun secara keseluruhan dalam perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi sepanjang 2015, masih menurut Boy Kanu, dalam bidang hukum tidak terlalu mengecewakan meskipun masih carut marut di dalamnya, tapi beberapa kasus sudah mulai terungkap. Pengerdilan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) oleh sejumlah oknum tapi karena animo masyarakat yang tinggi, maka sang oknum itu akan tersandera juga. Dalam bidang ekonomi dampak dari krisis global, nampaknya akan terus berlanjut. Walaupun kondisinya tidak terlalu menggembirakan, namun pemerintah sedang bekerja semaksimal mungkin untuk terus dapat mengatasinya.

          Dalam kebebasan beribadah, merunut akan kejadian pembakaran gereja di Singkil Aceh ataupun daerah lainnya menggulirkan wacana pencabutan Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri 2006 oleh pemerintah yang selama ini dianggap sangat bertentangan dengan UUD 1945. Ditambah lagi dengan kondisi tersebut seolah-olah umat Kristiani sebagai kaum minoritas seperti tak bisa berbuat apa-apa. Hal ini mengacu pada kasus GKI Yasmin, Bogor, yang sudah memenangkan kasusnya di PTUN, namun masih tidak ada kejelasan akan nasibnya.  

             “SKB Dua Menteri itu sebetulnya bertentangan dengan UUD 1945. Sebab orang Kristen tidak mampu bersuara dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Tapi, kita sebagai orang Kristen tidak boleh lemah dalam berkegiatan, baik melalui pembentukan kelompok sel (komsel) atau komunitas sesama orang beriman. Justru dampaknya lebih hebat dan paling ditakuti iblis,” ucap Boy Kanu semangat.

 

Dimulai dari Keluarga

             Pemulihan bangsa adalah menjadi kerinduan yang terdalam bagi setiap kita yang percaya kepada Tuhan Yesus. Namun, yang kerap dilupakan oleh kita ialah ingin pemulihan akan negeri ini terwujud tapi harus dimulai dari keluarga. Seperti dikatakan di Alkitab bahwa jika satu orang bertobat, maka seisi rumah akan diselamatkan. Artinya,  jika satu orang tersebut kembali berbalik kepada Allah, maka ia menjadi contoh dan bisa memenangkan jiwa dalam keluarganya. Pada kenyataannya, hebat dalam pelayanan atau pekerjaan, namun melupakan keluarganya sehingga tak mengherankan bila anaknya ada yang tersandung narkoba, seks bebas, bahkan sang istri menuntut cerai. Ironisnya lagi, persoalan tersebut tak melulu dihadapi oleh jemaat melainkan juga menimpa hamba Tuhan.

             “Nah, konsep berpikirnya hanya keluar-keluar saja, padahal mimbar sesungguhnya ada di dalam keluarga. Jadikan keluarga itu prioritas kedua setelah Tuhan. Walaupun masih belum sempurna, minimal sudah melakukan yang terbaik,” tegas advokat yang juga menulis buku berjudul Pelopor Kesuksesan Catatan Perjalanan Misi Abraham, Musa dan Paulus” ini.

              Keluarga memegang peranan penting sebagai tempat pemenuhan rasa kasih sayang serta cinta kasih, pendidikan karakter, penerapan nilai-nilai kehidupan dan etika moral berdasarkan kebenaran firman Tuhan dan lain sebagainya. Maka, jika sebuah keluarga sehat, baik dari segi jasmani dan rohani tak mustahil bangsa ini pun mengalami hal yang sama.

           Keadaan bangsa belakangan ini, tak hanya kisruh di berbagai sektor oleh ulah oknum negara yang sibuk menguras uang rakyat demi kepentingan pribadi, golongan atau partai politik, tapi juga krisis global yang tengah melanda seluruh dunia. Ketakutan dan kekhawatiran menghantui sebagian besar orang, tak terkecuali umat Kristen. Pendiri STT Gracia, Batam, ini mengatakan, krisis global yang terjadi merupakan nubuatan Alkitab yang digenapi.

             Dan ini, kata Boy Kanu, merupakan tantangan yang bagus untuk hidup benar, jujur dan seturut dengan kehendak Allah. Apa pun kondisinya dengan isu-isu global dan penyusupan oleh kuasa gelap mengenai ajaran sesat tidak usah takut. Kita harus berani berdiri di atas kebenaran, apalagi menjadi seorang Kristiani dan percaya Tuhan Yesus harus siap menghadapi tantangan dan rintangan. Tetaplah berdoa, berusaha dan berserah kepada Tuhan,” tegasnya. Lebih lanjut katanya, justru dengan keadaan ini kita harus bersyukur, akhirnya bisa mengetahui mana Kristen yang benar, tidak benar atau penakut akan kelihatan. Semua orang akan mencari Tuhan dan itu bagus.

 

Role Model

          Memasuki tahun 2016 ini, tantangan dan rintangan akibat dari dampak krisis ekonomi global turut dirasakan Boy Kanu. Sebagai advokat sekaligus hamba Tuhan membuatnya untuk bertindak hati-hati sebagai seorang pengikut Tuhan Yesus. Segala sepak terjangnya termasuk dalam menangani sebuah kasus hukum, ayah satu anak ini pun selalu mengedepankan kebenaran akan firman Tuhan. Bagi alumnus Bethany International University, Singapura, ini situasi dan kondisi ini malah menantangnya untuk bisa melawan arus menjadi advokat yang takut akan Tuhan.

            “Banyak orang yang mencibir kita sebagai advokat maju tak gentar membela yang bayar. Tapi, bisa, kan, kita membela orang, maju tak gentar membela yang benar,” ungkapnya dengan mimik serius. Dan itu ia buktikan beberapa waktu lalu, saat dirinya membela kasus seorang pensiunan dari sebuah perusahaan multinasional yang sangat terkemuka. Kliennya tersebut tidak menerima uang pensiun secara penuh, tapi hanya sekitar 20 persen dari upah yang seharusnya diterima. Padahal, dalam peraturan yang ada seyogyanya ia menerima uang pensiun secara penuh.

              Secara kekuatan barangkali siapapun yang berhadapan dengan perusahaan tersebut tentu tidak akan bisa menang. Menyadari keterbatasannya sebagai seorang manusia, maka ia hanya bisa berdoa. “Tuhan, saya menyadari berhadapan dengan orang besar, tapi saya percaya kalau orang ini di pihak yang benar, maka Tuhan pasti bela. Dan ternyata Tuhan membela dengan dikabulkanya pembayaran uang pensiun klien saya secara penuh. Klien saya menangis terharu atas kemenangan itu, yang baginya mungkin kelihatan sangat mustahil,” kata Boy Kanu bersaksi.

              Itu hanya satu dari sekian kasus hukum yang berhasil ia menangkan. Baginya, keberhasilan itu semata-mata karena penyertaan Tuhan. Oleh karena itu,  kata advokat yang juga penulis buku cerita anak-anak populer, seperti Bersahabat dengan Karet dan Tonny Si Wartawan Cilik dengan penerbit Ganesha, Bandung, itu tak pernah memilih-milih calon klien yang ditanganinya. “Saya tertantang untuk membela perkara orang dengan benar dan menjadi pengacara yang benar. Tidak peduli mau dibayar atau tidak, tapi saya melakukan ini dengan proses yang benar sesuai firman Tuhan. Dan sampai sekarang saya tidak pernah berkekurangan. Dia memberkati dan mencukupkan segala kebutuhan saya. Apapun profesinya asal bekerja sesuai dengan prinsip Alkitab, maka akan berhasil,” ucapnya bangga.

              Bagi Boy Kanu, tidak semua penegak hukum di Indonesia memiliki mental cinta uang. Banyak pula penegak hukum seperti hakim, polisi, advokat dan lain sebagainya yang dikenal cukup bersih dan tak silau oleh mamon. Jadi, menurutnya, masih ada harapan untuk masyarakat Indonesia tentang sistem hukum yang menitikberatkan pada rasa keadilan.

               Di ujung percakapannya dengan Majalah NARWASTU, Ketua LBH Lembaga Pengawasan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) sekaligus pendiri Lembaga Peduli Anak Bangsa (LPAB) Batam ini, berharap di tahun 2016 ini Indonesia memiliki manusia yang mengedepankan kejujuran dan kedisiplinan. Sehingga bangsa ini akan bisa menghadapi tantangan dan rintangan dengan tidak gentar. Tentu, katanya, kita sembari tetap berdoa, berusaha dan terus memohon tuntunan Tuhan Yesus dalam menghadapi hidup yang semakin tidak mudah ini. BTY

Berita Terkait