Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H.
Tak Berhenti Berkarya untuk Gereja, Masyarakat dan Bangsa

907 dibaca
Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. (kiri) saat menerima penghargaan sebagai salah satu “Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU” pada Januari 2014 lalu di Gedung LPMI, Jakarta, yang diserahkan salah satu Penasihat NARWASTU, Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi S., M.M. (mantan Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI).

Beritanarwastu.com. Pada Sabtu, 12 Maret 2016 mulai pukul 10 sampai 15 WIB, tokoh Katolik yang juga Ketua I Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) KAJ, Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. menggelar ibadah syukur atas hari ulang tahun (HUT)-nya ke-60 di Restoran Grand Central, Bulungan, Jakarta Selatan. Dalam acara itu Yohanes Handoyo pun meluncurkan bukunya berjudul “Mengelola Negara Adalah Mengelola Manusia.” Buku ini merupakan kumpulan tulisan Yohanes Handoyo di sejumlah media, terutama yang dimuat Majalah NARWASTU sejak 2013 lalu.
Dalam bukunya ini ada dimuat sambutan dari Romo Benny Soesetyo (KWI), Dr. A.B. Susanto (Direktur Jakarta Consulting Group), Sofyan Wanandi (Ketua Tim Ahli Wakil Presiden RI) dan Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemred Majalah NARWASTU). Dalam acara itu, Jonro I. Munthe diundang pula untuk memberikan sambutan dan membedah buku itu. Dalam sambutannya, Jonro Munthe menuturkan, Pak Yohanes Handoyo adalah figur  yang langka. Dia seorang anak bangsa yang selalu gelisah dengan keadaan gereja, masyarakat dan bangsa ini, sehingga ia menulis, mengadakan seminar dan diskusi.
“Masalah sosial politik, kemasyarakatan, pemerintahan dan perburuhan selalu dikritisinya, sehingga membuat kita semakin dicerahkan untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi. Sudah sejak tahun 2013 yang lalu Pak Handoyo menulis di Majalah NARWASTU. Dan tulisannya soal Ahok (Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) pernah juga kami muat di NARWASTU berjudul, ‘Duh, Ahok Kembali Membuat Berita.’ Karena Ahok saat itu keluar dari Partai Gerindra dan itu ditulis Pak Handoyo,” kata Jonro Munthe.
Lantaran dikenal seorang yang cerdas, berani, nasionalis dan peduli pada persoalan bangsanya, kata Jonro, pada akhir 2013 lalu ia terpilih masuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU.” Menurut Jonro, selama ini pun ia mencermati jejak Yohanes Handoyo yang sempat membuatnya tertegun. “Saat berlangsung Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang begitu sengit dengan pertarungan Prabowo dan Jokowi, saya lihat Pak Handoyo bisa berada di tengah,” ujarnya. 
“Saat diadakan acara diskusi soal Pilpres 2014, meskipun saat itu cukup tegang, namun Pak Handoyo bisa tetap bersahabat baik dengan pendukung Prabowo dan Jokowi. Ini luar biasa,” kata Jonro yang juga lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta. Jonro juga menyampaikan, kalau Pak Yohanes Handoyo bisa eksis dan sukses, seperti sekarang, itu tak bisa dilupakan bahwa ada keluarga yang selalu mendukungnya. “Ada ungkapan orang bijak mengatakan, Kesuksesan seorang pria pasti ada seorang wanita atau istri hebat di belakangnya. Demikian juga kesuksesan Pak Handoyo, ada istri Pak Handoyo yang mendukung dari belakang,” ujar Jonro.
Yohanes Handoyo tampak serius menyimak sambutan Jonro. Selanjutnya, saat menyampaikan sambutan, Yohanes Handoyo mengatakan, ia memang selalu disemangati pihak Majalah NARWASTU agar terus menulis mengenai persoalan bangsa dan masyarakat. “Dan sekarang saya diminta NARWASTU untuk menulis soal fenomena Ahok yang akan maju di Pilkada DKI Jakarta 2017. Saya memang seorang Katolik dan seorang Indonesia. Dengan talenta yang saya miliki, saya ingin berbuat sesuatu untuk bangsa ini, dan ingin memberi pencerahan terhadap bangsa ini. Kita harus terus menyuarakan keadilan dan kebenaran dengan landasan iman Katolik,” ujar Sekretaris Umum Perhimpunan PERDUKI ini.
Acara ulang tahun yang diawali dengan ibadah syukur secara Katolik ini, juga dihadiri banyak tokoh, seperti anggota DPR-RI dari Partai Hanura, Rufinus Hutauruk, pengusaha, anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai NasDem, Inggard Josua, Staf Ahli Presiden RI Jokowi, sejumlah pastur, mantan aktivis PMKRI, Pemuda Katolik, politisi dan puluhan wartawan. Diadakan juga pelantikan pengurus Vox Point Institute yang dipimpin Yohanes Handoyo. Di jajaran penasihat Vox Point Institute ada sejumlah tokoh nasional, seperti Letjen TNI (Purn.) Cornel Simbolon (mantan Wakil KSAD) dan Mayjen TNI (Purn.) Tono Suratman (Ketua Umum KONI Pusat). Dan pengurusnya antara lain, Rufinus Hutauruk, Inggard Josua dan sejumlah tokoh Katolik. Hadir pula dalam acara itu Romo Benny Soesetyo menyampaikan sambutan.
Di buku setebal 110 halaman dengan kertas luks ini, Benny Susetyo menuliskan, “Iman tanpa keadilan hanyalah omong kosong, tidak ada artinya. Iman tanpa sebuah tindakan berarti mati. Beriman tanpa memperjuangkan keadilan dan kebenaran adalah iman yang keropos. Inilah tuntutan yang tidak bisa ditawar. Seorang beriman yang diam dengan segala praktik, penindasan, pengisapan, penyelewengan adalah dosa besar. Iman yang hanya menjalankan ritual tidak membebaskan manusia dari prasangka curiga, buruk. Dia hanya menjadi benalu. Beriman, orang harus keluar dari diri sendiri dengan berani menjadi saksi.” 
“Ini dikatakan oleh Uskup Romero, ‘Berpolitik berarti melayani masyarakat bukan main kuasa. Maka orang Kristen yang berpolitik harus bermoral, tidak perlu bohong, tidak melakukan korupsi dan kekerasan, atau mencari sasaran dengan mengorbankan kepentingan umum dan kesejahteraan umum, hak dan kebahagian orang lain apalagi orang kecil.’ Pak Handoyo mencoba mengaktualisasikan dalam tulisan di bukunya bagaimana beriman secara otentik diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam pelayanan publik. Semoga buku ini menjadi inspirasi untuk mendalami iman dan berkarya bagi bangsa ini. Iman berbicara tentang ketidakadilan, kekerasan, pengisapan…Semoga buku ini, memberikan inspirasi gerakan bagi bangsa ini dan pelayanan publik,” tulis Sekretaris Dewan Nasional SETARA Institute ini.
Chairman The Jakarta Consulting Group & National Institute of Ageing, Dr. A.B. Susanto dalam sambutannya menulis “Merupakan suatu keniscayaan bahwa hasil tulisan seorang Bapak Handoyo BS adalah merupakan kristalisasi pengalaman dan permenunganya, sebagai seorang yang telah lama berkiprah di dalam ketenagakerjaan, buku ini memberikan ‘insight’ bagi para pembaca untuk melihat lebih dalam isu-isu penting yang kerap dihadapi oleh penulis selama ini. Buku ini mempunyai cakupan spektrum yang luas, yang menunjukkan bidang perminatan penulis yang terentang lebar dari perburuhan, hukum hingga publik.”
“Saya menyambut baik terbitnya buku tulisan Bapak Handoyo BS ini yang akan melengkapi khasanah pemikiran para cendekiawan yang ada dewasa ini. Tentu pembaca diingatkan untuk selalu mengkaitkanya dengan konteks waktu dan ‘pesan’ pada waktu tulisan ini membuat agar dapat menarik manfaat yang sebesar-besarnya. ‘Buku adalah jendela dunia’ ini sering kita sampaikan pada para pembelajar agar lebih mau mendalami pengetahuan dan pengalaman yang dibagi oleh penulis. Sedangkan bagi penulisnya sendiri buku dapat diibaratkan sebagai sebuah cermin yang merefleksikan berbagai pengalaman penting yang dilalui dan berkesan di dalam hidupnya. Di dalam hal ini “cermin kehidupan” seorang Handoyo BS tentulah akan menarik untuk kita intip,” tulis A.B. Susanto. 
Sedangkan Sofian Wanandi, yang selama ini dikenal pengusaha nasional yang vokal dan cerdas, dalam sambutannya yang dibuat berdasarkan wawancara mengatakan, “Saya mengenal Pak Handoyo dekat sekali pada saat saya memimpin di APINDO tahun 2007, saya tahu betul yang pada saat itu ia masih bekerja di daerah yang selalu bergolak buruhnya, yaitu di daerah Bekasi-Karawang. Ia selalu berada di depan, selalu aktif dan ingin terlibat yang mana tentu ada risikonya yaitu “berkelahi” dengan buruh, pada saat itu demo-demo buruh sangat marak.” 
“Ia ingin memperlihatkan jalan pikiran, masalah dan memberikan informasi yang tepat kepada saya sehingga kita mengetahui bagaimana menghadapi serikat buruh supaya APINDO bisa lebih dikenal orang dan lebih sukses. Ia juga mempunyai aktifitas di kekatolikan, dan selalu mengajak saya untuk bisa bicara lebih banyak di kalangan kelompok Katolik untuk memberi pengetahuan mengenai persoalan-persoalan. Selain itu, saya melihat bahwa Handoyo orangnya gampang bergaul dengan commit dengan apa yang ditugaskan kepadanya.” 
“Dia adalah bagian dari APINDO walaupun bukan Ketua Umum ataupun Ketua/Pimpinan, tetapi dia yang paling aktif saat itu. Kalau saya minta tolong pada dia, dia  akan selalu siap menolong saya. Dia ingin terlibat lebih besar dan saya ingin memasukkan dia ke APINDO Pusat tetapi dia menolak, karena ada rencana-rencana ke depannya dia pasti lebih tahu. Walaupun begitu dia selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan APINDO dan memberikan info-info yang up to date kepada saya.”
“Sebagai teman bekerja dan teman dalam berorganisasi, dia tidak pernah lepas tamggung jawabnya, sesekali dia sudah mengatakan komitmennya. Pesan saya untuk Handoyo adalah untuk tetap aktif seperti sekarang ini, karena kita masih tetap dibutuhkan, baik itu di dalam kemasyarakatan, secara nasional, maupun dalam kekatolikan. Dan dalam umur yang sekarang ini, tentu kita lebih wise dan bijaksana, juga keluarga nomor 1. Selamat ulang tahun ke-60, ini bukan akhir dari karier tetapi awal dari karier yang lain, antara lain untuk membina generasi muda untuk menjadi lebih baik,” ujar Sofian Wanandi, “Tokoh Panutan dari Y. Handoyo Budhisedjati” yang juga Ketua Tim Ahli Wapres RI dan Ketua Dewan Pertimbangan DPN APINDO itu.
Yohanes Handoyo Budhisedjati, menamatkan kuliahnya di Fakultas Hukum UGM, dan lulusan dari SMA Loyola, Semarang. Dia mulai meniti karier di perusahaan minyak ternama di Sumatera, Indonesia (CPI). Masa di perusahaan inilah ia mulai dilatih dan digembleng sebagai orang SDM oleh para seniornya, serta mendapat kesempatan on the job training di USA pada 1987. Berbekal sebagai lulusan Certified Conpensation Professional yang pertama di Indonesia diperolehnya dalam waktu yang sangat singkat dari American Compensation Association, Scottsdale, USA. 
Lalu Yohanes Handoyo melanjutkan kariernya di group perusahaan terkemuka di Indonesia, seperti Intisalim Corpora, Salim Group (1990-1991), Napan Group (1991-1999), Mayora Group (1999-2001), Mulia Group (2001-2013) dan kini sebagai direksi di First Borneo Group. Posisi HRD/Human Capital Director diraihnya pada  1996 setelah melalui proses sebagai Staff Analyst HR, Sr. Staff Analyst HR, Supervisor, HRD Manager, Deputy GM HRD, Asst. VP HRD dan VP HRD selama 15 tahun. Dalam kurun waktu itu, berbagai rangkapan juga dipercayakan oleh perusahaan, misalnya, sebagai Operation Manager, Excom Corporate Affairs, dll. 
Berbagai aktivitas di sejumlah organisasi pun melengkapi kesibukannya, yakni di Perhimpunan PERDUKI sejak 1998 dan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sejak 2004. Ia juga merupakan salah satu pendiri paguyuban SUDARA (Sumber Daya Rasuli) pada 1994. Dan saat ini ia mendapatkan kepercayaan lagi memimpin Vox Point Institute, lembaga yang bergerak dalam kegiatan pengkajian politik kemasyarakatan.
Sekadar tahu, pada akhir 2013 lalu, Yohanes Handoyo Budhisedjati yang sehari-harinya adalah seorang pengusaha/profesional, terpilih pula sebagai salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU” bersama Mayjen TNI (Purn.) Darpito Pudyastungkoro (mantan Pangdam Jaya), Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto (mantan Direktur Bidang Kerjasama Luar Negeri BAKIN/Kini: BIN), dan Laksda TNI (Purn.) Christina Rantetana (mantan Deputi VI Menkopolhukam RI). 
KT


Berita Terkait