Pdt. Dr. Robinson Butarbutar
Tak Berhenti Memberi dari Kemiskinannya

796 dibaca
Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Pendeta yang banyak pengalaman melayani di luar negeri.

Menjadi pendeta tak saja hanya butuh dedikasi, waktu, dan pendidikan mumpuni. Tapi juga berkarakter imam dan bersikap sebagai pelayan yang memberi diri kepadaNya, demikian awal perbincangan dengan Pdt. Dr. Robinson Butarbutar. Lelaki kelahiran, 1 Januari 1961 di Bah Jambi, Kabupaten Simalungun. Putra dari Bapak J. Butarbutar dan Ibu T. boru Pardede. Masa kecil hingga akil balig dilaluinya dengan berbagai keruwetan hidup.

Sekolah dasar hingga SMP dilewatinya di Bah Jambi, sementara Pendidikan Guru Agama di Pematang Siantar. Lalu, menamatkan Sarjana Muda Teologi tahun 1985, dilanjutkan Sarjana Teologi tahun 1987 di STT HKBP Pematang Siantar. Kemudian Master of Arts dalam bidang Penafsiran Alkitab tahun 1990 di London Bible College, Inggris, dan Doktor Teologi tahun 1999 di Trinity Theological College, Singapura, dengan Tyndale House Cambridge, Inggris, sebagai tempat penelitian lanjut.

Kehidupan di masa kecil membebat mentalnya. Setiap hari berjalan kaki berkilo-kilo meter, sesekali naik sepeda ke Nagojor untuk menggarap sawah di satu lahan milik orangtuanya dan di Afdeling lima yang disewa orangtuanya. Di sela-sela membantu orangtua di sawah, ia sedari kecil juga sudah biasa ke gereja untuk mengikuti sekolah minggu.

Selain itu, ia selalu mengikuti pengajaran seolah minggu di HKBP Bah Jambi. “Saya selalu memperhadapkan keyakinan iman saya sebagai anak petani. Saya sering berdoa di sawah, memohon agar Tuhan menjagai padi kami dari serangan hama, dari serangan tikus, dan dari serangan burung. Tak selalu doa saya kelihatan terjawab,” akunya.

Bahkan, pernah ketika melihat suatu pagi, bahwa padi yang siap dipanen, habis dimakan hama wereng. “Habis dibabat tikus, dan ludes dimakan ribuan burung,” ujar suami Srimiaty Rayani Simatupang, M.Hum (Putri dari Bapak W. Simatupang dan Ibu D. boru Panggabean), dan ayah dari Martin, Melanchthon Bonifacio, dan Emely Katharina, mengenang masa kecilnya.

Apakah dia kecewa? Nyatanya ia terus merasakan pemeliharaan Tuhan. Sebagai teolog, makin mempelajari Firman Tuhan ia menyadari kuasa Tuhan itu bisa dirasakan melalui doa. Hal itu makin kuat sesudah ia belajar di STT HKBP. Tak ada yang kebetulan, pembimbing rohaninya Pdt. Dr. David Leslie Baker yang kemudian memintanya membantu mengajar mahasiswa Pendidikan Agama Kristen di STT HKBP di bidang Pengetahuan Isi Alkitab. 

“Otomatis saya mesti belajar sungguh-sungguh. Beliau juga meminta saya memeriksa latihan-latihan bahasa Ibrani mahasiswa tingkat satu dan dua. Ketika saya sudah menjadi mahasiswa senior, membantu dia mengedit hasil-hasil kuliah kami di bidang penafsiran surat Korintus dan Kejadian untuk diolah menjadi bahan Penelaahan Alkitab yang kemudian diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen  Jakarta. Buku ini sering dipakai oleh warga Kristen di jemaat-jemaat di Indonesia sampai saat ini,” ujar penulis buku Paul and Conflict Resolution yang diterbitkan oleh Paternoster Press, Inggris, pada 2007 itu.

 

Mahasiswa Kritis

Dia merasakan, pembinaan rohani yang diterimanya dari Dr. Baker maupun hubungan dekat dengan keluarganya, istimewa dalam hal membentuk sikap iman maupun pengetahuan teologisnya, sangatlah bermanfaat di dalam hidupnya di kemudian hari. Dia sampai pada pemahaman bahwa kejahatan marak karena orang baik tak aktif berperan memperjuangkan yang baik. Dari Dr. Baker dia terus merasakan pembinaan rohani. Hubungannya dengan beliaulah  yang menyebabkan dia selalu membiasakan diri membaca Alkitab dan berdoa secara sungguh-sungguh. Hal itu bukan saja ketika mahasiswa, bahkan, sampai sekarang menjadi habitusnya. “Bahwa hubungan pribadi itu harus terus terjalan pada Sang Sumber Hidup,” katanya.

Tetapi, ketika kejahatan di benaknya terlihat, dia selalu mengkritisinya. Masih bening di ingatannya, saat menjadi anggota Senat Mahasiswa, mengadakan perlawanan terhadap proses pemilihan Rektor STT HKBP yang dilakukan ketika pejabat rektor, Dr. W. Sihite melaksanakan perjalanan dinas di luar negeri. Pada pemilihan itu Dr. S.M. Siahaan terpilih dan disetujui oleh Ephorus HKBP Pdt. GHM Siahaan. Tindakan ini, baginya dan rekan-rekan sesama senat mahasiswa, tak demokratis.

Karena itu, sebagai senat mahasiswa dia mengadakan protes. Akibatnya ia mendapat sanksi. Namun, dari pengalaman itu ia memetik hikmah. Dosennya Pdt. TOB Simaremare, M.Th, dosen bidang praktika, ketika itu menasihatinya dan mengatakan, sikap kritis dapat disampaikan dengan sopan, tanpa harus berteriak-teriak apalagi merusak.

“Nasihat inilah yang terus saya ingat. Termasuk ketika saya menjalankan tugas saya sebagai Ketua Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) pada tahun terakhir, badan tertinggi di aktivitas mahasiswa, yang berfungsi menjembatani suara mahasiswa dengan suara para pengajar,” kenangnya.

 

Jebolan Cambridge

Sejak mahasiswa kemampuan akademiknya di atas rata-rata sudah terlihat. Saat menyelesaikan kuliah, menghadapi meja hijau, mempertanggungjawabkan skripsinya tentang Rencana Allah menurut Roma 9-11. Salah satu pengujinya Pdt. Dr. SAE Nababan merasa terkesan dengan hasil ujian meja hijau dan hasil menyeluruh studinya yang sangat memuaskan. “Beliau bertanya kepada saya, apa rencana saya setelah wisuda. Saya mengatakan, atas saran Dr. D.L. Baker, saya sudah mempersiapkan untuk berangkat ke Inggris untuk mengikuti studi Master of Arts di bidang Hermeneutika.”

Hidup, belajar dan bergaul bersama orang percaya di Cambridge merupakan satu tahapan hidup yang berharga baginya, karena di Cambridge ia mengalami bagaimana orang-orang percaya yang setia mengikut Kristus mencoba dengan sungguh-sungguh melihat relevansi iman orang percaya di dalam masyarakat sekuler yang intelektual.

“Di Cambridge, kota universitas terkenal, berkumpul dan belajar para mahasiswa dan ahli dari berbagai negara untuk mencari jawab terhadap hal-hal yang masih belum mendapat jawaban yang pasti dari sisi ilmu pengetahuan. Tetapi, di Cambridge juga ditemukan orang-orang Kristen yang setia mengikut Kristus dalam masyarakat intelektual,” pungkasnya.

Di Cambridge juga ia mencermati tingkat kemampuan berpikir secara objektif dari generasi muda usia sekolah, yang sudah mampu melihat satu masalah dari berbagai sudut pandang, dan sudah mampu memilih argumentasi mana yang paling kuat dari semuanya dalam mencari jawab terbaik terhadap masalah yang ada.

“Tentu ini terjadi karena sistem pendidikan yang dipakai bukanlah sistem banking, di mana peserta didik menelan begitu saja apa pun yang disampaikan oleh nara sumber, para guru, melainkan sistem hadap masalah, sistem demokratis, sistem partisipatif, sistem interaktif, di mana pengetahuan dari peserta didik dihargai dengan serius oleh pendidik. Sistem kekerasan tak lagi dipakai oleh pendidik terhadap peserta didik. Saya sangat terkejut melihat keadaan itu, dan memimpikan bahwa kelak di Indonesia, sistem yang sama harus segera diperkenalkan dan ditumbuhkembangkan,” ujarnya. 

Alih-alih di Cambridge juga ia menemukan kesukaan rakyat naik sepeda dari rumah ke tempat kerja atau ke kota, ke kampus dan ke tempat lainnya, bukan karena usaha menghemat uang parkir, melainkan untuk membantu usaha menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Keramahtamahan orang percaya di sana juga sangat menggerakkan hati. Pernah Sekjen HKBP, Pdt. OPT Simorangkir datang berkunjung ke Cambridge untuk menguatkannya. Dia diterima sebagai tamu bekas Kepala Sekolah, dan tinggal di rumahnya selama satu minggu. Demikian berusahanya sang tuan rumah membantunya berbahasa Inggris sehingga sebelum pulang beliau menyebutkan begini, “Hari pertama dan kedua saya tak mengerti, apa yang teman itu katakan kepada saya. Tetapi, setelah seminggu saya sudah dapat memahami dengan baik. Kalau saya tinggal bersama dia selama dua tiga minggu, saya akan menguasai bahasa Inggris dengan baik.”

Selesai kuliah di Inggris pada Oktober 1990, ia ditempatkan di HKBP Lumbanbaringin, Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumut, dan pada Januari 1992 ia menerima penugasan baru dari pimpinan HKBP, yaitu jadi staf kantor pusat untuk bidang oikoumene. Penugasannya yang baru untuk memberi kesempatan kepada Kepala Biro Oikumene waktu itu, yaitu Pdt. Plaston Simanjuntak, M.Min untuk studi lanjut program Doktor of Ministry di Amerika. “Sewaktu tugas di Pearaja, Tarutung, saya tinggal di rumah sewa, mula-mula di Jalan Sisingamangaraja, kemudian di Sialu Ompu, dan terakhir di Pardangguran,” katanya.

 

Memberi dari Kemiskinan

Ketika bertugas di Biro Oikoumene HKBP, tanda-tanda konflik besar di antara HKBP dengan pejabat pemerintah terjadi, berawal dari adanya ketidakharmonisan hubungan di antara Ephorus Pdt. SAE Nababan dengan Sekjen Pdt. Simorangkir.  Konflik itu kemudian dicoba diatasi di dalam Sinode Godang HKBP pada Desember 1992 di Sipoholon, tetapi tak berhasil.

“Saya sendiri, yang belum lama bertugas di Pearaja, harus mengambil keputusan saya sendiri. Sebelum mengambil keputusan, saya tentu berdoa selama beberapa jam di kantor saya. Ada beberapa pertimbangan waktu itu, pertama, meminta cuti, dan mempertimbangkan masuk kembali setelah konflik selesai. Pilihan ini memang paling aman. Tetapi pilihan ini berarti bahwa saya lari dari masalah, tak menghadapi masalah dengan segala risiko. Saya sudah bersekolah untuk HKBP. Dengan cuti, berarti saya berhenti memenuhi visi HKBP yang sebelumnya memberangkatkan saya sekolah,” cetusnya. 

Akhirnya, pemerintah ikut masuk pada pusaran konflik internal di tubuh HKBP. Beberapa orang yang setia menolak campur tangan pemerintah pun ditangkapi dan dianiaya. Termasuk ia juga ditangkap dan ditahan, bahkan, mendapat berbagai tamparan dan tendangan yang tak pantas dilakukan terhadap pendeta. Setelah dibebaskan ia ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan teman-teman pendeta bersama Pdt. SAE Nababan. Kemudian ia menerima pentahbisan kependetaan 9 Mei 1993 di HKBP Tangerang Kota. Tiga tahun kemudian ia diberangkatkan mengikuti program studi S3 di Singapura, diselesaikannya kurang dari tiga tahun.

Mengingat selama studi doktor tiga tahun ia tak pernah mengadakan libur, “Setelah wisuda saya diminta Ephorus Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (Ephorus HKBP 1998-2004) untuk memimpin Biro Oikoumene HKBP, yang dikenal sebagai Ephorus yang mengusahakan perdamaian dan menyembuhkan luka-luka batin di HKBP. Beliau meminta saya langsung menunaikan tugas sebagai Kepala Biro Oikoumene HKBP, menggantikan Pdt. BTP Purba, mantan Praeses yang beralih  tugas menjadi Direktur Sekolah Guru Huria HKBP di Seminarium Sipohon,” imbuhnya.

“Tugas utama saya adalah membangun kembali hubungan HKBP dengan mitra-mitra oikoumenisnya di dalam dan di luar negeri, teristimewa karena selama krisis HKBP (1993-1998) dan sesudahnya (1998-1999) hubungan itu tak berlangsung baik. Banyak persekutuan gerakan oikoumene yang memihak kepada kelompok yang ditekan pemerintah. Ada satu dua yang masih berhubungan dengan pihak yang didukung pemerintah. Tetapi, pada umumnya peran HKBP di dalam gerakan itu tak semaksimal seperti sebelum konflik dimulai. Saya diminta mengerjakan hal itu selama satu tahun, karena setelah itu Ephorus berjanji akan mengizinkan saya mengajar di STT HKBP, sebagaimana saya minta ketika melapor setelah selesai studi,” paparnya.

Selama satu tahun dia bekerja siang malam untuk membangun hubungan itu, yang keberhasilannya ditandai dengan kesediaan beberapa pimpinan gerakan oikoumene internasional mengunjungi HKBP secara khusus, yaitu Sekjen Dewan Gereja se-Dunia, Pdt. Dr. Konrad Raiser, Sekjen Dewan Gereja Lutheran se-Dunia (LWF), Pdt. Dr. Ishmael Noko, dan Ketua Gereja-gereja Protestan di Jerman, Praeses Manfred Koch bersama beberapa Bishop lainnya seperti Bishop Koppe.

Pembangunan kembali hubungan itu penting karena, HKBP merupakan gereja Protestan terbesar di Asia Tenggara, yang kontribusinya di dalam gerakan oikoumene sangat diharapkan. Keberhasilan itu tercapai karena dia bekerja pagi-pagi buta dengan menggunakan komunikasi internet, yang pada waktu itu hanya bisa lancar ketika tak ada orang lain yang memakai jalur telepon di Tarutung dan khususnya di Pearaja.

Sebagai pendeta berjubel pengetahuannya tentang Alkitab terkhusus Perjanjian Baru, Pdt. Robinson kemudian didaulat menjadi dosen Perjanjian Baru. Mengajar Perjanjian Baru di Universitas Silliman, Dumaguete, Philipina (2000-2002). Pada waktu itu, Ephorus Hutauruk menerima permintaan dari United Evangelical Mission (UEM) agar mengirimnya menjadi tenaga pengajar di bidang Perjanjian Baru di Silliman University, Dumaguete, Negros Oriental Philippines, yang bersama gereja Protestan terbesar di Philipina (UCCP) meminta bantuan UEM untuk mengirimkan  tenaga itu, karena dosen Perjanjian Baru di sana ditugaskan untuk menjalani studi doktor.

Permintaan UEM ini disambut baik oleh Ephorus Hutauruk yang kemudian memintanya untuk mengajar di Philipina. “Ephorus Hutauruk mengatakan begini kepada saya. Saya tahu kerinduanmu untuk mengajar di STT HKBP. Saya juga tahu bahwa kepersonaliaan kita masih miskin. Tetapi, dari kemiskinan personel kita di bidang pengajaran Perjanjian Baru, kita harus mulai memberanikan diri membantu misi UEM yang meminta tenaga kita untuk bekerja di Philipina. Kita harus berani meniru jemaat-jemaat di Makedonia di dalam Perjanjian Baru, yang memberi dari kemiskinannya,” kenangnya.

Sejak itu, dia berjanji dalam dirinya tidak akan menolak SK pimpinan. “Saya akan mengikuti keputusan pimpinan HKBP di dalam hal tempat tugas pelayanan saya. Karena itu, saya melaksanakan setiap keputusan pimpinan saya. Dan saya menyetujui berangkat ke Philipina, tetapi dengan pemahaman bahwa saya hanya mengajar di sana selama satu periode, tiga tahun, dan setelahnya kembali ke HKBP untuk mengajar di STT-HKBP,” paparnya.

Akhirnya, ia kemudian ke Philipina. “Saya berhubungan secara intensif dengan Joerg Spitzer, Kepala Biro Personalia UEM di Wuppertal dan dengan Bishop Erme Camba, Dekan Fakultas Teologi di Dumaguete Philipina, untuk membicarakan pengaturan ketibaan, perubahan di kampus, dan uraian tugas mengajar dan persiapan-persiapan pengajaran itu sendiri. Saya tak punya banyak waktu untuk berbuat hal lain kecuali mempersiapkan materi-materi kuliah saya. Kami tinggal di bekas rumah Dekan yang jaraknya hanya dua ratus meter dari kampus Divinity School.”

„Namun kemudian, sebelum tugas di Philippina berakhir, Ephorus Hutauruk menugaskan saya  bekerja di Wuppertal, Jerman (2002-2003). Hidup dan bekerja selama satu tahun di Wuppertal berlalu dengan cepat sekali, karena dia sejak awal sampai akhir masa tugas semangat, sibuk. Saya bekerja mulai pukul tujuh pagi, karena teman saya di kantor, Pdt. Peter Demberger juga bekerja seawal itu. Dia sudah kembali ke rumah pukul dua sore, dan kadang kala bekerja dari rumahnya. Kerjasama kami cukup baik, dan beliau merasa bersyukur karena berkat kehadiran saya tak ada sesuatu pekerjaan pun yang tertinggal untuk gereja-gereja Asia. Beliau melihat ketelitian saya bekerja, dan kerajinan saya meneliti kasus-kasus di Archiv UEM sebelum melakukan tindakan,” katanya.

 

Memimpin UEM Asia

Pdt. Robinson menyadari bahwa keberhasilan pelayanannya bukan karena kepintaran dan kekuatannya. Sebab ia sadar, jika menjiwai panggilan sebagai pelayan, niscaya diberiNya kekuatan. Dia telah juga punya reputasi memimpin kantor UEM Regional Asia (2003-2008) yang sebelumnya dipimpin Pdt. Ruth Quiocho, temannya dari Philipina. Sebelumnya kantor itu di Philipina. Tetapi kemudian oleh keputusan Council UEM kantor itu dipindahkan ke Medan, Indonesia, karena lebih banyak anggota UEM di Indonesia.

“Hal yang paling utama saya kerjakan ketika memulai tugas di Medan adalah memindahkan kantor ke kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Sumut yang saat itu dipimpin Pdt. Dr. Langsung Sitorus,” katanya.  Regional Asia UEM dilayani oleh tiga staf eksekutif, yaitu dari Philipina, Jerman dan Robinson. Saya memimpin tim ini dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, mengintegrasikan program-program bersama UEM di regional Asia, yang berbentuk kunjungan, seminar, konsultasi, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan untuk hal-hal yang oleh Sidang Raya UEM sebagai kebutuhan prioritas bagi gereja-gereja anggotanya.

Program-program di Asia beraneka, seperti keadilan gender, hak-hak anak, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, evangelisasi, kepemimpinan khususnya di kalangan pemuda, HIV dan AIDS dan pendidikan edukasi pastoral. Tugasnya waktu itu adalah mengorganisir rapat-rapat UEM di Asia, termasuk sidang regional Asia, rapat Council Asia dan Sidang Raya UEM, serta membantu mengorganisir program-program internasional UEM (Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Evangelisasi dan HIV/AIDS) yang diadakan di Asia. Dia juga mewakili staf UEM di Asia menghadiri rapat-rapat internasional UEM di luar Asia, yaitu di Eropa dan Afrika.

Dia melakukan tugas ini dengan baik. Melalui pelaksanaan tugas ini, ia mengenal sekujur gereja-gereja, anggota UEM di Asia. “Saya juga berhasil menjalin hubungan yang dekat dengan gereja-gereja anggota UEM yang berkantor pusat di Sumatera Utara yang memiliki pergumulan sendiri. Secara khusus, gereja-gereja ini berhasil mengembangkan sendiri program-program menyangkut hak-hak perempuan, hak-hak anak, penanganan HIV-AIDS dan KPKC,” tukasnya.

Dia contohkan, HKBP telah memiliki komite HIV/AIDS yang bekerja efektif. Gereja-gereja berkantor pusat di Pematang Siantar berhasil mendirikan Pondok Kasih, di mana penanganan HIV dan AIDS dilakukan dengan baik. GKPS mendirikan Crisis Centre untuk korban kekerasan di kalangan perempuan. GBKP terus dengan giat mengadakan, hal sama dengan memiliki rumah perlindungan. Satu tahun sebelum tugasnya berakhir di Asia.

Dia kemudian dipromosikan oleh Council UEM yang baru, yaitu memimpin Departemen Internasional untuk Pelatihan dan Pemberdayaan para pemimpin gereja-gereja anggota UEM, para pemuda dan perempuan melalui pelatihan dan beasiswa maupun pertukaran pemuda. Itu sebabnya, ia harus pindah ke Jerman pada awal Januari 2009 ke Wuppertal Jerman. Dari sana ia mengorganisir pelatihan lebih dari seribu orang pemimpin gereja-gereja di Asia, Afrika dan Eropa. Tugas itu memberi kesempatan padanya untuk mengunjungi gereja-gereja di Rwanda, Kongo, Bostwana, Namibia, Tansania dan Kamerun selama kurun waktu hampir lima tahun (2009-2013). Dia kembali ke Indonesia akhir Agustus 2013.

 

Membawa Visi HKBP

Sejak September 2013, ia dipercayakan mengajar Studi Perjanjian Baru di STT HKBP Pematang Siantar oleh Ephorus HKBP Pdt. WTP Simarmata, M.A. Pada Rapat Pendeta HKBP di FKIP Pematang Siantar ia diusulkan menjadi salah seorang calon Ketua Rapat Pendeta. Namun ia mengundurkan diri. Pengetahuannya yang luas di bidang teologi mendorong Ephorus HKBP mempercayakan tugas tambahan kepadanya, yaitu memimpin Komisi Teologi HKBP sejak Februari 2014. Teman-temannya para Doktor Teologi banyak juga melihat komitmennya membangun teologi reformis. Mereka memberi kepercayaan padanya memimpin Forum Teolog Batak sejak Februari 2015.  Forum ini beranggotakan para teolog bergelar Doktor Teologi.

Sejak awal 2014, ia kembali didorong oleh para pendeta muda dan senior untuk mempertimbangkan kesediaan mencalonkan diri menjadi calon Ephorus HKBP. Dia tidak langsung menerima dorongan itu, melainkan membawanya di dalam doa selama 10 bulan pada tahun 2015 untuk bertanya pada Tuhan. Akhirnya, pada Februari 2016, didorong oleh panggilan Tuhan dan kecintaannya pada HKBP, ia pun mendeklarasikan diri bersedia mempersembahkan diri untuk dipilih di Sinode Agung HKBP sebagai Ephorus pada Sinode Agung ke-63 HKBP di Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumut, pada 12-18 September 2016. Dia bertekad merealisasikan visi HKBP menjadi berkat bagi dunia. Bersamanya Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap M.Th, mencalonkan diri sebagai Sekjen HKBP.

Selain itu, muncul nama Pdt. Roida Situmorang D.Min disiapkan menjadi Kepala Departemen Koinonia, kemudian Pdt. Marolop Sinaga, M.Th tetap menjadi Kepala Departemen Marturia. Sementara, Pdt. Dr. Hulman Sinaga sebagai calon Kepala Departemen Diakonia. “Tim ini jika terpilih akan membawa visi HKBP yang sudah ada, ‘Menjadi Berkat Bagi Dunia.’ Sudah cukup bagi kita selama ini memikirkan diri sendiri,” pungkasnya. HL

Berita Terkait