Tak Dendam Meskipun Ingin "Dihabisi" Bersama Empat Tokoh Nasional

49 dibaca
Yunarto Widjaya memegang Majalah NARWASTU.

             Beritanarwastu.com Akhir-akhir ini, pemberitaan seputar kerusuhan 21-22 Mei 2019 begitu ramai di media massa dan TV di negeri ini. Bahkan di media sosial (Medsos) pun kasus yang memprihatinkan, karena terjadi aksi anarkis dari sekelompok massa yang tidak puas dengan pengumuman KPU atas pemenang Pilpres 2019 itu begitu ramai dibahas warganet. Selain ada diberitakan tentang sejumlah jenderal purnawirawan yang terlibat dalam kasus kerusuhan itu, bahkan diindikasikan melakukan makar, ada pula diberitakan empat tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei yang akan "dihabisi" penembak jitu bayaran oleh dalang kerusuhan 21-22 Mei itu.

              Selain empat tokoh nasional, yaitu Jenderal TNI (Purn.) Wiranto (Menkopolhukam), Jenderal TNI (Purn.) Luhut Panjaitan (Menko Kemaritiman), Jenderal Pol. Budi Gunawan (Kepala BIN) dan Komjen Pol. (purn.) Gorris Mere (Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan), Yunarto Widjaya (Direktur Eksekutif Charta Politika) disebut-sebut pula ingin dihabisi pembunuh bayaran itu dengan senjata api. Namun Tuhan Maha Kasih, niat jahat untuk menghabisi kelimanya berhasil digagalkan dan diungkapkan aparat keamanan.

              Yunarto Widjaya yang selama ini dikenal pengamat politik yang kritis dan vokal, seperti ditulis di Twitter-nya mengatakan, ia tak menyimpam dendam pada orang yang ingin membunuhnya. Justru lewat masalah ini ia semakin belajar untuk mengasihi sesama. Ia pun mengajak publik agar tak berhenti mencintai Indonesia. Yunarto Widjaya yang kelahiran 1981 itu adalah lulusan S1 dari Universitas Parahyangan, Bandung, dan ilmu manajemen diikutinya di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Toto, begitu ia akrab disapa dikenal cerdas membuat analisa politik di negeri ini. Ia pernah juga aktif di Pemuda Katolik. LK

Berita Terkait