Paduan Suara (PS) Kasih Anugerah, The Glorifiers dan Ex NHKBP Sudirman Medan
Tampil Memukau di Acara “100 Tahun Pasca Nommensen”

795 dibaca
Ketika Paduan Suara (PS) Kasih Anugerah, The Glorifiers dan Ex NHKBP Sudirman Medan Tampil Memukau di Acara “100 Tahun Pasca Nommensen” di Jakarta pada 8 Juni 2017 lalu.

 BERITANARWASTU.COM. Suara merdu menggema memenuhi auditorium Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta, pada Kamis, 8 Juni 2017 lalu. Gebyar cahaya lampu yang berkelap-kelip di sana-sini membuat suasana pada malam itu semakin meriah. Ditambah lagi, bunyi alat musik gondang Batak bertalu-talu melebur dalam satu harmonisasi dengan musik orchestra yang yang mengiringi Paduan Suara (PS) Gabungan (PS Kasih Anugerah, The Glorifiers dan Ex NHKBP Sudirman Medan) dalam malam keakraban dan “100 Tahun Pasca Nommensen” di tanah Batak.

Melalui acara itu, sudah barang tentu memberikan makna tersendiri bagi setiap yang hadir. Selain itu, acara tersebut  megah, menakjubkan dan sangat berkesan. Ingwer Ludwig (I.L.) Nommensen dan tanah Batak bagaikan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Seperti kita ketahui, masuknya Kristen ke tanah Tapanuli (Batak) di Sumatera Utara yang ditorehkan oleh misionaris asal Jerman itu membuat siapa saja langsung teringat akan perjuangannya yang gigih dalam memenangkan banyak jiwa. Bukan tanpa kebetulan kalau misionaris yang lahir di Nodstrand, Jerman, , 6 Februari 1834 itu dapat menginjakkan kakinya di sana.

Sebab, sebelum dirinya memberitakan Injil, ada dua misionaris dari Inggris dan Amerika yang mencoba masuk ke Sumatera Utara. “Ini bukan suatu kebetulan jika kita menjadi orang Kristen. Dan itu berarti tugas Nommensen belum selesai, dan tugas itu ada di pundak kita semua. Berbahagialah orang yang menerima panggilan Tuhan. Karena Tuhan akan menguatkan orang tersebut,” terang Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing ketika memberikan kata sambutannya di hadapan para jemaat Gereja HKBP yang hadir malam itu.

             Dalam perjuangan misionaris yang dikenal gagah, berani dan tak kenal patah arang itu, bukan hanya sebatas dalam mewartakan Injil. Tetapi ia pun memberi kemajuan dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Semangat untuk membangun dan maju melalui dua bidang tersebut menjadi salah satu sumber inspirasi bagi masyarakat Batak pada umumnya. Oleh sebab itu, sebagai bentuk kehormatan akan dedikasi dan loyalitasnya sebagai misionaris, maka rencananya tepat pada peringatan “100 Tahun Pasca Nommensen” yang jatuh pada 23 Mei 2018 diresmikan Sopo Nommensen.

Menurut Pdt. Midian K.H. Sirait, M.Th selaku Praeses DKI Jakarta sekaligus Ketua Umum Panitia, pembangunan Sopo Nommensen digunakan untuk mendukung fasilitas akomodasi/penginapan para tamu gereja dan lembaga internasional dan nasional serta para pendeta dan pelayan Tuhan di HKBP yang terbuka juga untuk publik dan jemaat.

 Rencana pembangunan yang kabarnya membutuhkan biaya sebesar Rp 20 milar  itu, dan mulai dilaksanakan penggalangannya melalui acara tersebut dengan pembagian kelas tiket Platinum (Rp 50 juta), Gold (Rp 25 juta) dan Silver (Rp 15 juta). Acara itu, pun dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional asal Sumatera Utara, seperti Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., DR. Nurdin Tampubolon, DR. Robert Pakpahan, Ephorus HKBP Pdt. Darwin Lumbantobing, Sekjen HKBP Pdt. David F. Sibuea, M.Th dan lain-lain.

Sejumlah penyanyi Batak ikut pula meramaikan acara itu, seperti Lea Simanjuntak, Tetty Manurung, Mika Marpaung, Rita Butarbutar, Hetty Sitorus dan yang lainnya. Mengenai pembangunan gedung Sopo Nommensen tersebut,  anggota jemaat Gereja HKBP yang juga pendiri PS Glorifiers, St. Drs. Hardi M.L. Tobing berpendapat, hal itu dirasa seperti mengingatkan tanah kelahiran bagi orang-orang Batak yang ada di Jakarta, sekaligus mengingat jasa dari Nommensen agar kita mau juga memperhatikan.  

Sebab, kata Hardy Tobing, pemerintah juga sangat concern terhadap pembangunan di Sumatera Utara. “Dan Presiden RI Joko Widodo sekarang saja sudah memikirkan untuk pembangunan Tapanuli. Lalu kenapa kita tidak memikirkannya.  Karena banyak pula tokoh-tokoh di negara ini yang berasal dari Tapanuli,” ujar St. Hardy M.L. Tobing yang juga sintua di Gereja HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 

St. Hardy M.L. Tobing (paling kanan) saat menyaksikan Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Tobing memukul gong. 

 Di acara puncak perayaan “100 Tahun Pasca Nommensen” dan yang paling ditunggu-tunggu oleh para tamu undangan adalah penampilan dari Paduan Suara Gabungan, PS Kasih Anugerah, The Glorfiers dan Ex NHKBP Sudirman Medan. Mereka tampil dengan melantunkan lagu-lagu karya Pdt. Pensilwally  yang memang tak asing lagi di telinga jemaat HKBP. Bagi para anggota paduan suara gabungan itu, tentu ada perbedaan yang mencolok saat membawakan lagu-lagu tersebut, di mana pada perayaan 125 tahun HKBP, PS Kasih Anugerah pimpinan Saut Aritonang itu sudah pernah tampil di Hotel Mandarin, Jakarta, yang diiringi oleh alat musik gondang, tapi tanpa orchestra yang dikomandoi oleh konduktor, Arta Tambunan.

 Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi paduan suara gabungan. Untuk memberikan hasil yang terbaik dalam acara itu, selain latihan yang intensif, dibutuhkan pula sinergi dari para anggota suara lainnya. Dalam persiapannya ada saja kendala yang dihadapi, misalnya, tidak semua anggota bisa berpartisipasi, seperti anggota NHKBP Sudirman Medan dan The Glorifiers. Dan hanya beberapa orang saja yang bisa terlibat di acara itu. Meski mereka tidak lengkap tapi performa yang disajikan paduan suara gabungan ini, betul-betul seperti menghipnotis para undangan yang hadir pada malam itu.

“Sangat luar biasa acara ini. Apalagi pencahayaannya dengan teknologi yang bagus, ditambah musik gondang dan orchestra yang dipadukan menjadi sangat menarik dan luar biasa,” tukas St. Hardy Tobing kepada Majalah NARWASTU di sela-sela acara tersebut. Perayaan “100 Tahun Pasca Nommensen” itu memang menggoreskan sebuah makna. Setiap mereka yang hadir tidak hanya diajak untuk mengenal dan mengenang sosok Sang Missionaris yang sangat melegenda dengan visi dan misinya,  yang bisa dirasakan sampai hari ini itu.

Tetapi, ada satu arti yang lain, yakni bahwa sebuah karya seni bukan hanya bersifat universal, tapi memadukan karya dan karsa. Dan hal itu memberikan inspirasi terutama bagi generasi muda di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.  “Mudah-mudahan dengan adanya konser ini akan memberikan semangat bagi angkatan muda agar bisa berkreasi, tidak hanya di dalam negeri tapi juga bisa go international,” ujar Hardy Tobing yang merupakan suami Ida Simbolon ini semangat. BTY

Berita Terkait