Drs. Nikson Nababan
Tampilkan Wajah Taput yang Modern

649 dibaca
Drs. Nikson Nababan

Beritanarwastu.com Di samping intelektual, Drs. Nikson Nababan adalah seorang pemimpin. Sehingga ia pantas memimpin Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) sebagai bupati. Dan itu patut kita syukuri. Bicara soal figur, di samping putra asli daerah Taput, ia masih muda, berwawasan luas, dan kemampuannya berorganisasi tak diragukan. Putra ke-6 dari 7 bersaudara yang asli dari Siborongborong ini juga adik kandung dari politisi dan anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, Sukur Nababan.

Demikian diungkapkan seorang wiraswasta yang tinggal di Jakarta yang gemar menekuni dunia hukum, Manonggor Nababan kepada NARWASTU baru-baru ini saat ia berbicara soal figur Bupati Taput, Nikson Nababan, yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU.” Menurutnya, Nikson adalah tokoh muda dan aktifis gereja yang terpanggil hatinya untuk membangun Taput yang merupakan daerah religius atau penuh nuansa rohani. Katanya, kita tentu berharap agar ia bisa membangun berbagai infrastruktur dan pemerintahan di Taput.

Dalam pandangan Manonggor, Nikson yang adalah aktivis di keluarga besar Punguan Nababan, dan pernah dipercaya sebagai Ketua Pemuda Nababan se-Jabotabek adalah seorang yang rajin ke gereja, santun, sayang pada anak-anak dan taat pada orang tua. “Soal kemampuan materi ia tak kekurangan lagi,” cetusnya. Manonggor selama ini memang mengenal dengan cukup baik figur tokoh muda dan nasionalis Nikson Nababan. “Kami seluruh marga Nababan, Boru dan Bere se-Jabodetabek dan dunia mendukungnya untuk membangun dan mengubah wajah Taput yang dulu disebut ‘peta kemiskinan’ menjadi daerah agraria dan kota berpendidikan modern,” kata suami tercinta Rosida Harianja ini.

              Jadi, imbuh Manonggor, nurani Nikson terpanggil untuk membangun Taput agar warganya dari sisi mentalitas semakin berkualitas, dan di sinilah penting adanya pendidikan mentalitas, apalagi Taput itu disebut daerah agamais Kristiani. Dan manusia hidup di era modern ini harus ditopang oleh teknologi yang dalam hal ini bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan. Dulunya orang Batak itu dijuluki pintar, tentu dengan pintar bisa didapat kemerataan hidup, dengan cara penggunaan tanah sebagai sumber daerah agrarian.   

 “Sehingga dia (Nikson) sangat berkeinginan turun langsung ke Taput sebagai kampung  kelahirannya agar Taput dapat kembali ‘dijual’ ke kota kota besar lainnya atau dunia luar dengan mutu handal. Hal itu sudah terbukti dengan ia mengundang ataupun menjelajahi beberapa negara yang dianggap makmur dari segi pertanian maupun dari segi teknologi pertanian untuk dikembangkan di Taput, seperti dari Australia, Singapura, dan Korea Selatan. Bahkan sudah mencoba menelusuri Jepang, bagaimana cara mereka meningkatkan kualitas industri. Itulah yang kita banggakan dari pola pikir seorang Nikson Nababan,” pungkasnya.

                Hal itu, kata Manonggor, dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Taput agar tetap diam membangun diri sendiri, dan tidak perlu pergi ke luar untuk mencari nafkah. Tentunya dengan kualitas SDM yang dimiliki di Taput sudah mampu mengelola pertanian-pertanian yang begitu luas, yang notabene untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah membebaskan biaya pendidikan agar tidak menjadi penghalang  untuk menimba ilmu. “Kita mengetahui  bahwa untuk pintar itu bukanlah sekadar  punya otak, tapi harus ditopang dengan sarana dan prasarana yang dalam hal ini,  tidaklah murah. Tentu untuk mencapai pendidikan itu mahal. Inilah yang dilihat dari Bupati Taput dengan cara menghapuskan segala biaya pendidikan. Bahkan di dalam kampanyenya pun disampaikan akan menghapuskan biaya-biaya agar masyarakat bisa mendapat fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Untuk membangun mutu pendidikan di tingkat SD sampai SMA di Taput agar semakin berkualitas,  Nikson sudah memohon kepada Pemerintah agar ikut membantu mendirikan sebuah universitas negeri. Dan itu diharapkan menjadi ikon pendidikan di Taput. Di samping itu, masyarakat Taput diharapkan tak akan eksodus ke daerah lain untuk mengejar pendidikan. Di sisi lain, diharapkan agar masyarakat dari daerah lain datang ke Taput untuk menimba ilmu,” ujarnya.

 “Kalau berdiri sebuah universitas negeri di Taput, tentu masyarakat Taput dan sekitarnya akan ikut  terdidik secara tidak langsung melalui pelayanan masyarakat setempat maupun cara berekonomi. Itu salah satu pemasukan yang tak perlu menggunakan modal, bagaimana caranya untuk meningkatkan hasil pertanian itu menjadi bahan industri. Itulah yang selalu dikaji dengan mencari investor-investor agar tak keluar hasil yang dari Taput untuk menopang otonomi daerah. Kami berharap agar di dalam kepemimpinannya ia selalu tegar dengan programnya,” terangnya.

   Sebagai putra daerah, kata Manonggor, mereka berdoa supaya Nikson selalu sehat, waspada dan menghindari diri dari KKN. “Juga agar Nikson lebih sering turun ke bawah supaya bisa melihat situasi di Taput. Saya berharap agar beliau pun jangan mau menerima laporan yang hanya menyenangkan hatinya.  Tapi ia mesti turun ke lapangan melihat pembangunan, dalam hal ini infrastruktur jalan. Tentunya kalau beliau sudah membuka jalan sebanyak-banyaknya, maka akses masyarakat untuk menjual hasil pertaniannya tak terbebani lagi. Akses ke sekolah maupun ke mana saja tak lagi terhambat, karena akses jalannya sudah terpenuhi,” tukasnya.

Masyarakat Taput, katanya, kiranya mendukung Nikson. Kalaupun mengkritik tapi upayakan pula memberikan solusi.  “Seorang bupati tidaklah milik sekelompok orang, tapi bupati milik masyarakat. Bupati seperti Pak Nikson adalah seorang yang murah hati, tak gampang marah, dan selalu menjawab dengan lugas, santai dan senyum,” terangnya. “Kami sangat setuju dengan NARWASTU yang memilih Pak Nikson Nababan sebagai Tokoh Kristiani 2014. Dilihat dari karakternya, ia pantas jadi tokoh Kristiani,” pungkas Manonggor dengan bijaksana. FD

Berita Terkait