Ketua Umum BPH Sinode GBI, Pdt. DR. Japarlin Marbun
Terima Penghargaan Sebagai “Tokoh Kristiani 2015 Pilihan NARWASTU”

1067 dibaca
Pdt. DR. Japarlin Marbun saat memberi sambutan di acara NARWASTU. Gembala dengan program MANTAP.

Salah satu tokoh yang mendapat penghargaan atau award dari Majalah NARWASTU sebagai “Tokoh Kristiani 2015” dari 21 tokoh terpilih pada Jumat, 15 Januari 2016 lalu di Gedung LPMI, Jakarta Pusat, adalah Pdt. DR. Japarlin Marbun. Pdt. Japarlin sebagai orang nomor satu di GBI (Gereja Bethel Indonesia) selama ini dikenal dengan program “MANTAP” (MANdiri, Tertib, Ayomi dan Profesional). 

Saat memberikan sambutannya di acara NARWASTU yang dihadiri ratusan pemuka Kristiani itu, Pdt. Japarlin mengatakan, ia bersyukur karena mendapat perhatian atau apresiasi dari Majalah NARWASTU. Pdt. Japarlin juga mendorong kaum muda Kristen agar bisa tampil sebagai pemimpin di tengah bangsa dan negara ini. Karenanya, ia meminta agar para tokoh Kristen juga bisa menyiapkan pemimpin dari kalangan generasi muda.

“Karena pemimpin itu, ternyata tidak lahir dengan sendirinya, tapi harus dipersiapkan, dan ada mentor untuk itu,” kata Pdt. Japarlin Marbun. Menurutnya, selama ini tidak ada dirigen orang Kristen untuk mempersatukan tokoh-tokoh Kristen, sehingga ke depan masalah itu perlu dipikirkan. Di pihak lain, Pdt. Japarlin menegaskan, bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin muda, sehingga orang Kristen atau gereja harus mempersiapkannya.

Dalam sambutan singkatnya, usai menerima penganugerahan di acara NARWASTU yang dihadiri banyak pemuka Kristen di LPMI itu, Pdt. Japarlin juga menambahkan, perlu dibentuk lembaga kaderisasi untuk kaum muda gereja guna mencetak para calon pemimpin. Ia menyayangkan jika ada gereja yang berpandangan bahwa kaderisasi calon pemimpin bukan bagian dari panggilannya.

Jika tidak, kata Pdt. Japarlin Marbun, pihak gereja akan tertinggal di berbagai lini berbangsa dan bernegara. Kemudian Pdt. Japarlin membandingkan kondisi kini dengan masa sebelum kemerdekaan yang banyak memunculkan tokoh-tokoh Kristiani. Menurutnya, kita harus kerjakan bidang pelayanan atau pekerjaan kita dengan maksimal. Sebab jabatan dan posisi itu berasal dari Tuhan. “Sehingga Tuhan yang akan promosikan kita lebih tinggi lagi. Tuhan akan percayakan perkara-perkara yang lebih besar kepada kita jika kita setia pada perkara-perkara kecil," pungkasnya.

               Sementara Bendahara Umum BPH Sinode GBI, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th yang yang termasuk salah satu tokoh dalam “21 Tokoh Kristiani 2012 Pilihan NARWASTU” pernah menuturkan, figur Pdt. Japarlin Marbun adalah seorang gembala yang berpikir makro, mampu mengakomodir kepentingan banyak pihak dan punya cita-cita melakukan perubahan yang lebih baik di organisasi gereja. Gembala itu, katanya, adalah figur yang berhati bapa.

              “Sifat kebapaan itu sangat penting bagi seorang pemimpin gerejawi, agar setiap Hamba Tuhan yang melayani di GBI merasa terayomi. Kalau kepemimpinan yang otoriter sangat tidak cocok di GBI. Kita tidak bisa memimpin GBI seperti memimpin gereja lokal. GBI punya ciri khas dalam model pelayanannya sendiri,” ujar Pdt. Suyapto yang juga pendiri Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ).

                Menurut Pdt. Suyapto lagi, ketika Pdt. Japarlin Marbun tampil sebagai calon Ketua Umum PGLII di Munas PGLII pada awal 2015 lalu, itu karena ada banyak yang mendukungnya untuk maju sebagai pemimpin. “Ketika belum terpilih, itu adalah bagian dari dinamika berorganisasi. Dan Pdt. Japarlin Marbun bukan seorang pemimpin yang ambisius, namun dia berpikir luas dan makro. Dan banyak hal yang bisa dilakukannya dalam membangun organisasi gereja agar semakin maju dan modern,” kata Pdt. Suyapto, mantan Bendahara Umum DPP Parkindo (Partisipasi Kristen Kristen Indonesia) di era Sabam Sirait, dan bekas Bendahara Umum PGI (2000-2005) itu. 

                Sedangkan kepada NARWASTU, Pdt. Japarlin Marbun sebelum terpilih menjadi Ketua Umum Sinode GBI menerangkan, kalau Tuhan mengizinkan dia memimpin Sinode GBI dan didukung para Hamba Tuhan di GBI, maka ia akan membangun program “MANTAP.” MANTAP, yakni MANdiri atau otonom. Agar bisa mandiri, imbuhnya, maka gembala-gembala lokal yang ada di GBI perlu dikembangkan dalam hal sumber daya manusia agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada anggota jemaat. “T: Tertib. Jadi ke depan kita perlu membangun sistem yang baik agar segala sesuatunya tertib. A: Ayomi. Artinya, semua pejabat di GBI agar diayomi, dan jangan ada yang merasa ‘roh yatim piatu’ agar ia bisa melayani,” papar mantan salah satu Ketua Sinode GBI ini.

Pdt. Japarlin Marbun yang mantan Sekretaris Umum PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) dan kini Wakil Ketua Umum BAMAG (Badan Musyawarah Antargereja) Nasional menambahkan, “P: Profesional. Jadi perlu ada pola rekruitmen dan pelayanan yang baik dan profesional agar bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan terampil dan baik. Dalam hal kemandirian, bantuan-bantuan ke daerah dikonsolidasikan agar gereja-gereja kecil berdaya. Kalau Tuhan kehendaki saya akan melakukan program MANTAP itu,” kata Ketua Umum Persekutuan Sekolah Alkitab dan Teologia Pentakosta Indonesia, Gembala Sidang di tiga jemaat GBI di DKI Jakarta dan Bekasi dan salah satu deklarator FUKRI (Forum Umat Kristiani Indonesia) ini.

Tak lama setelah terpilih menjadi Ketua Umum Sinode GBI pada Oktober 2014 lalu, saat mengadakan jumpa pers dengan sejumlah jurnalis, Pdt. Japarlin mengakui bahwa peran media itu sangat penting di dalam kehidupan pelayanan dan gereja. Itu sebabnya, Pdt. Japarlin mengapresiasi peran jurnalis Kristen, yang menurutnya, punya peran signifikan di dalam memajukan kehidupan bergereja, bermasyarakat dan berbangsa. Ia pun dikenal dekat dengan jurnalis Kristen.

 

Tahun Baru 2016 adalah Tahun Penuaian

              Dalam menyambut Tahun Baru 2016 ini, seperti dipublikasikan www.berita bethel.com, Pdt. Japarlin Marbun dengan mengutip Yohanes 4:35, "Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" mengatakan, kita meyakini bahwa tahun 2016 adalah Tahun Penuaian, di mana Tuhan akan memakai kita membawa banyak jiwa kepada Tuhan, keyakinan itu sesuai dengan ayat di atas.

             Secara kontekstual, Yohanes 4:35 adalah pernyataan Yesus sewaktu melihat rombongan orang Samaria mendatangi mereka setelah mendengar kesaksian perempuan Samaria, orang-orang kampungnya bergairah untuk mendengarkan berita Injil.

Seandainya Yesus berdiri di tengah-tengah kita pada saat ini, Ia akan mengatakan, "Lihatlah kota ini, perhatikanlah keadaan kampus-kampus, dan kamu akan menemukan sekian banyak anak muda yang siap untuk menerima Injil, seperti ladang jagung yang sudah matang siap untuk dituai." Tahun penuaian berarti kita akan disibukkan oleh banyak pekerjaan pemenangan jiwa. Sungguh menggairahkan bila kita terlibat dalam pekerjaan Allah dengan menyadari  melalui tanda-tanda zaman, bahwa inilah musim yang tepat untuk melakukan pekerjaan itu, karena dengan demikian kita pasti berhasil.

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersukacita. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menaburkan benih yang berharga, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya" (Mazmur 126:5-6). Spurgeon menafsirkan ayat ini dengan indah. Petani meninggalkan kenyamanannya dan pergi menabur dengan cucuran air mata dan tangisan. Ia mungkin menangis karena kegagalan pada masa lalu, atau tanahnya terlalu tandus, atau musim sangat tidak bersahabat, atau benihnya hanya sedikit, dan musuhnya begitu banyak, siap menjarahi hasil jerih lelahnya.

Ia menaburkan setiap benih dengan disertai tetesan air mata. Benih itu begitu berharga karena hanya sedikit, dan itulah yang menjadi pengharapannya untuk tahun yang akan datang. Ia melepaskan setiap benih dengan berdoa. Ia tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, ia memikirkan benih itu. "Berhasilkah? Adakah aku akan menerima upah jerih lelahku?" Ya, sebagai petani yang baik, pasti engkau akan mengumpulkan berkas-berkas panenanmu. Karena Tuhan mengatakan pasti, perhatikanlah itu baik-baik, supaya engkau tidak khawatir.

Kita melihat, Allah menjanjikan tuaian itu. Kita pasti menuai, bukan mungkin atau mudah-mudahan, karena langit dan bumi akan lenyap, namun satu iota pun dari janji-Nya tidak akan gagal. Allah pasti menggenapinya! Bagi orang Ibrani dan bagi semua orang yang hidup bertani musim menuai adalah musim yang paling penting.

Di Israel, awal musim menuai berbeda-beda sesuai dengan keadaan alam daerah itu. Pada musim ini, orang-orang mengadakan perayaan dan bersukacita. Kita mau melihat hal ini terjadi di tengah-tengah kita dalam bulan-bulan yang akan datang. Untuk itu kita akan turun ke ladang, menyabit gandum-gandum itu, dan membawa pulang berkas-berkas tuaian kita. Kita mau bekerja untuk menyongsong tuaian itu. "Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya" (Roma 4:4; lihat juga Mazmur 127:3). Ini musim yang paling penting bagi kita.

Biji-biji gandum menjadi kering pada musim menuai, dan karena itu terancam bahaya dimakan api (lihat Keluaran 22:6). Dalam perang, musuh akan memanfaatkan kesempatan ini dengan membakari ladang-ladang, dan dengan demikian melumpuhkan rakyat yang diperanginya (lihat: Hakim-hakim 6:1-6; 15:4-5). Itulah sebabnya, kalau Tuhan mengatakan, sekaranglah waktu menuai, perlu bagi kita untuk bekerja sekarang juga, sebelum musim itu lewat. Kalau biji yang sudah masak tidak dipetik, ia akan jatuh dan hilang, dimakan oleh burung-burung.

Kalau jiwa-jiwa sudah menyadari dosanya dan memiliki kecenderungan hati yang baik, namun kita tidak melayaninya sekarang, awal yang penuh harapan itu akan berakhir sia-sia, dan mereka akan menjadi mangsa musuh. Sebaliknya, akan mudah kalau kita bekerja sekarang juga, karena bila hati orang sudah siap, pekerjaan itu akan selesai dengan segera (2 Tawarikh 29:36).

Tuhan mengurapi waktu ini. Kita jangan lalai, sehingga orang mengatakan, "Sudah lewat musim menuai!" (Yeremia 8:20), yang menandai, bahwa waktu profetis ini telah berlalu dengan sia-sia. Tidak! Kita mau mengalami "sukacita di waktu panen" (Yesaya 9:3), sukacita yang besar dan penuh kelepasan. KT 

Berita Terkait