Tes Kejiwaan Perlu Buat Politisi agar Tak Mudah Stres

468 dibaca


Beritanarwastu.com. Berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2007 lalu, prevalensi gangguan jiwa ringan (stres dan depresi) tertinggi ada di wilayah Jawa Barat, yakni 20 persen dari populasi. Lalu prevalensi gangguan jiwa berat paling banyak ada di DKI Jakarta, sebesar 2 persen dari populasi, sedangkan rata-rata di seluruh Indonesia hanya 0.46 persen.

“Jadi, jangan setiap calon legislatif (Caleg) yang gagal dianggap berpotensi menderita gangguan jiwa. Kita ambil contoh saja, dari 11.215 caleg DPR hanya 560 yang bakal menjabat. Ini berarti ada 10.655 yang gagal dan hanya 0,4 persen atau hanya 49 orang yang berpotensi mengalami gangguan jiwa berat, itupun belum tentu terjadi,” ucap Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Depkes RI, Aminuddin, tentang fenomena adanya caleg yang sampai masuk rumah sakit jiwa, karena gagal di Pemilu Legislatif 2009 silam.

Aminuddin berpendapat, tidak ada rumah sakit yang menyiapkan ruangan khusus untuk pasien berlatar belakang caleg. Semua pasien gangguan jiwa akan dilayani dan tidak dibeda-bedakan. Sehubungan dengan itu, politisi (yang akan bertarung untuk pilkada) atau caleg seharusnya mengikuti tes kesehatan jiwa lebih dulu untuk mengetahui kondisi kejiwaannya.

Para caleg tersebut harusnya mengurus surat keterangan sehat jiwa untuk memenuhi persyaratan. Pada surat keterangan sehat jiwa, si pemohon tidak dites secara menyeluruh. “Jadi tidak bisa diketahui apakah caleg itu punya bakat gangguan jiwa atau tidak,” ujar psikiater senior Prof. Dadang Hawari dalam diskusi tentang “Fenomena Caleg dan Stigma Gangguan Jiwa” di Jakarta dalam sebuah kesempatan.

Dadang berpendapat, tes kesehatan jiwa yang jamak dilakukan dan sudah diakui dunia internasional adalah tes Minessota Multyphasic Personality Inventory (MMPI). Misalnya, seorang caleg, jika melalui tes ini diketahui bahwa dia tidak tahan terhadap stres, “Maka sebaiknya tidak usah mencalonkan diri.”

Menurut Dadang, seorang caleg yang tidak terpilih, bisa saja menjadi stres hingga depresi. Kekecewaan yang tinggi, karena kenyataannya tidak sesuai dengan yang diharapkan memang bisa menyebabkan orang stres. Terdapat beberapa tingkatan dalam stres, mulai dari ringan sampai berat. Dampak yang terjadi pada penderitanya juga beragam tergantung tingkat stres dan depresinya, di antaranya gangguan fisik, seperti sakit-sakitan, tidak bergairah, hingga berimajinasi dan melakukan hal-hal di luar dugaan.

Tes MMPI terdiri atas 560 pertanyaan dengan pilihan jawaban: ya dan tidak. Seseorang yang sering berbohong akan ketahuan melalui tes ini. Dadang mengatakan, gangguan jiwa berat atau Skizofrenia yang penderitanya sering disebut orang gila terjadi karena syaraf ke otak terganggu atau neurotransmitter.

Gangguan jiwa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dan tidak terjadi serta merta. Salah satu faktor tersebut adalah, bakat atau keturunan. Penyembuhan gangguan jiwa, menurut Dadang, bisa dilakukan dengan metode BPSS, yakni biologi (obat-obatan), psikologi (konsultasi), sosial (keluarga dan lingkungan), serta spiritual (keagamaan). US

  

Berita Terkait