Hermawi F. Taslim, S.H.
Tokoh Muda Katolik yang Berjuang Lewat Partai NasDem

1711 dibaca
Hermawi F. Taslim, S.H.

Beritanarwastu.com. Selama ini, Hermawi F. Taslim, S.H. dikenal mantan Ketua DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), dan dulu cukup dekat dengan Gus Dur (alm.), pendiri PKB. Hermawi Taslim pun kerap diundang sebagai pembicara dan moderator di berbagai diskusi dan seminar, baik bersama tokoh-tokoh nasional maupun bersama tokoh-tokoh Kristiani. Di Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) ia sering tampil sebagai narasumber dan moderator. Saat berbicara di sebuah diskusi FDDI, Taslim pernah menyatakan, sekarang tak bisa dipungkiri bahwa di negeri ini ada kaum fundamentalis yang sering merusak milik orang lain dan membuat peraturan-peraturan dengan dasar agama tertentu.

Bahkan, di Solok, Sumatera Barat dan Sumenep, Jawa Timur, katanya, pernah kepala daerahnya membuat peraturan dengan Syariat Islam. Katanya, kita bukan indekos di negeri ini, kita ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. “Bahkan, darah orang Kristen dan Katolik tercurah untuk memerdekakan bangsa ini,” tegasnya. Dengan optimis Taslim menuturkan, warga gereja jangan hanya sibuk bergaul dengan komunitasnya, namun kita harus bergaul dengan saudara-saudara kita kaum Muslim.

“Sebenarnya banyak teman-teman kita dari kaum Muslim yang tidak setuju dengan aksi-aksi kekerasan dan penutupan tempat ibadah yang dilakukan sekelompok massa intoleran itu. Bahkan, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia saat mengadakan muktamarnya, ada komisi khusus yang dibuat untuk membahas perusakan-perusakan tempat ibadah umat Kristen. Ini artinya, kita sebagai sesama anak bangsa saling peduli,” tukasnya.

Di negeri ini, kata Taslim, kita adalah warga negara yang harus mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. “Kita jangan eksklusif dengan hanya menonjolkan identitas Kristen, kita harus mau bergaul dan berbuat yang baik terhadap saudara-saudara kita yang lain,” tuturnya. Katanya lagi, kalau sekarang ada mantan aktivis GMKI dan PMKRI yang berubah jadi pragmatis, terlibat korupsi dan masalah moral, kita jangan hanya  menyalahkan, tapi itu harus menjadi refleksi kita bersama. “Sekarang keadaan makin sulit, jadi perlu peran dari kita semua untuk membangun bangsa dan negara ini,” pungkasnya.

Dalam kondisi bangsa dan negara seperti sekarang, kita jangan hanya meratapi nasib. “Pengkaderan terhadap orang-orang muda, baik di gereja maupun di GMKI dan PMKRI harus diperhatikan. Kalau dibilang, banyak kader Kristen tidak bisa mendapatkan jabatan di departemen-departemen pemerintahan, sebenarnya itu tidak semata-mata karena agama. Kalau kita punya kualitas, saya yakin kader Kristen akan tetap bisa memegang jabatan-jabatan strategis di Indonesia ini,” tukas mantan Ketua PMKRI Cabang Medan ini.

Di sisi lain, Taslim menyatakan prihatin dengan kader-kader Kristen yang terjerumus pada penjualan-penjualan aset Kristiani yang tergolong bersejarah, sehingga keadaan ini membuat integritas para kader Kristen terpuruk. “Seperti gedung di Salemba 10 yang dekat PGI, kita tentu prihatin karena gedung bersejarah itu dijual. Padahal gedung tersebut termasuk bersejarah. Makanya, pernah saya telepon Goklas Nababan (Ketua Umum PP GMKI saat itu) bahwa Forkoma PMKRI pun bisa membantu dari sisi hukum secara gratis,” ucap lulusan Fakultas Hukum USU, Medan, yang lahir di Sumatera Barat, 6 Oktober 1961 ini.

Tokoh nasional dan politisi senior PDIP, Sabam Sirait pernah mengatakan, orang Kristen adalah bagian dari bangsa ini, jadi kita harus ikut berbuat untuk kesejahteraan dan kemakmuran negeri ini. “Saya senang, ada orang seperti Hermawi Taslim yang dekat dengan Gus Dur, sehingga keberadaan kita dekat dengan semua pihak, termasuk dengan Islam bermanfaat. Dulu ada almarhum Victor Matondang (tokoh PARKINDO) yang cukup berani, dan disegani oleh NU dan Muhammadiyah. Kalau ada acara-acara NU dan Muhammadiyah ia sering diundang berbicara,” papar Sabam Sirait.

                Di PKB yang didirikan Gus Dur, Hermawi F. Taslim, dulu dipercaya sebagai Ketua Bidang Hukum dan Tata Negara DPP PKB. Sebelumnya tak pernah terlintas di benak lelaki yang punya tiga anak ini untuk menjadi pengurus PKB. Taslim yang juga advokat (pengacara) dan bekas Staf Ahli di MPR-RI, kini aktif sebagai Managing Partner Taslim and Associates Law and Mediation Office.

Kiprah Taslim di dunia politik berawal dari keaktifannya di organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Pada akhir 2011 lalu, Taslim bersama sejumlah advokat yang tergabung di dalam Forum Advokat Pengawal Konstitusi (FAKSI) mengadakan aksi damai ke Gedung DPR-RI Senayan untuk memberikan teguran keras kepada elite politik dan penguasa agar menjalankan tugasnya dengan penuh integritas dan tidak melanggar konstitusi negara. Menurut FAKSI, aksi mereka untuk menegur elite bangsa ini, semata-mata dimaksudkan untuk mengingatkan para pemimpin bangsa ini agar tidak lalai dalam menjalankan tugasnya dalam melindungi dan mensejahterakan rakyat Indonesia.  

Mantan Staf Ahli di Komisi Kerasulan Awam Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan bekas aktivis Kelompok Cipayung ini, kini maju sebagai Caleg DPR-RI dari Partai NasDem (Nasional Demokrat) daerah pemilihan (Dapil) Banten 3 (Tangerang Raya) nomor urut 4. Menurut Taslim, ia masuk ke Partai NasDem setelah melalui pergumulan yang cukup lama. Sebelumnya sejumlah parpol nasionalis sudah meminangnya untuk menjadi pengurus dan caleg. Sekarang ia masuk ke Partai NasDem yang dibidanai tokoh nasional Surya Paloh itu, setelah ia melihat visi perubahan dan figur-figur nasionalis yang ada di Partai NasDem sesuai dengan gagasan dan pemikiran yang selama ini kerap dilontarkannya, baik dalam berbagai tulisannya, maupun dalam berbagai diskusi.

 

Berita Terkait