Tokoh Muda Nasionalis dan Religius

1746 dibaca
Heben Heser Ginting, Amd., S.E. Nasionalis dan religius.

Beritanarwastu.com. Figur muda yang satu ini adalah salah satu tokoh muda yang ingin melihat bangsa ini damai, aman, sejahtera dan rakyat senyum karena memiliki pemimpin yang mau berkorban. Dia juga tokoh muda nasionalis dan religius yang pernah tampil sebagai Calon Bupati Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, di Pilkada 2015 lalu. Meskipun di pilkada yang diikuti 7 pasangan calon itu ia belum berhasil menang, namun ia sudah berupaya memberikan pencerahan dan pendidikan politik kepada masyarakat agar tahu hak dan kewajibannya.

                Di Pilkada 2015 di Tanah Karo, Heben Hezer Ginting, Amd., S.E. tampil sebagai calon independen. Melalui perjuangan yang sangat berat, Heben Heser yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah membuktikan bahwa dia figur yang berkarakter dan punya integritas. Ia punya mimpi ingin melihat kampung halamannya sejahtera, aman, damai dan makmur. Pengusaha tambang dan properti yang beribadah di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini menuturkan, ia terpanggil maju untuk menjadi calon bupati di daerahnya, karena ia melihat pemerintah setempat cukup lemah dalam menangani warga korban bencana alam Gunung Sinabung.

                “Saya melihat pemerintah daerah di sana cukup lemah dalam menangani masalah warga korban Sinabung. Banyak bantuan mengalir ke sana, namun masyarakat masih mengalami kesulitan dan penderitaan. Di sinilah pemerintah setempat kurang mampu memanage SDM dan dana yang ada. Bencana Sinabung itu sesungguhnya bencana daerah, namun kemudian disebut-sebut menjadi bencana nasional. Karena pemerintah setempat tak mampu menangani masalah yang ada. Saya juga melihat APBD tidak bisa dengan maksimal dikelola untuk mensejahterakan masyarakat. Dan 30 tahun pemerintah di sana kurang kapabel membangun Tanah Karo,” ujar pimpinan Artane Buana Energi yang lahir di Desa Munthe, Kabupaten Tanah Karo, Sumut, 8 Maret 1970 ini.

Heben Heser Ginting, Amd., S.E. Peduli kampung halaman.

 

                Anggota MPO Pemuda Pancasila dan anggota Dewan Penasihat FKPPI di Kabupaten Tanah Karo ini menerangkan, tanah Karo yang luar biasa subur sebagai berkat Tuhan itu sesungguhnya bisa lebih maju dibangun, asal pemimpin daerahnya memahami “Revolusi Mental” atau istilahnya Revitalisaasi. “Revitalisasi artinya: mengembalikan hal-hal yang vital pada hal-hal yang baik, baik soal budaya, pendidikan maupun ekonomi. Dulu banyak anak-anak SMA asal tanah Karo yang masuk ke USU (Universitas Sumatera Utara), namun belakangan ini bisa dihitung dengan jari jumlah yang masuk USU,” tegas  suami tercinta Nirwana Sebayang, S.Si ini.

                Menurut Heben Heser, 20 tahun yang lalu pendapatan perkapita Kabupaten Tanah Karo itu nomor satu di Sumatera Utara, namun sekarang tidak lagi. “Tanah Karo punya tanah yang subur, hasil buah-buahan dan sayur-sayuran yang luar biasa melimpah. Juga punya pemandangan alam yang indah, seperti di Merek yang berada di dekat Danau Toba. Berastagi pun dulu mendapat pengakuan dari dunia internasional sebagai kota sejuk dan penghasil buah dan sayur, sekarang seperti tak kedengaran lagi,” ujar mantan Ketua Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Politehnik ITB ini.

                Menurutnya, kalau Tanah Karo disentuh dan dimanage dengan serius, maka bisa kembali menjadi kota tujuan wisata dan rakyatnya akan sejahtera. Namun belakangan ini makin hari Tanah Karo semakin tertinggal, apalagi dengan adanya persoalan atau bencana Sinabung. “Saya berpendapat, Tanah karo perlu memiliki pemimpin yang mau berkorban dan mau berjibaku untuk membangun daerahnya, dan itu pasti akan didukung rakyat kalau dia mau tampil untuk kedua kalinya. Kita lihat saja Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) di DKI jakarta, dia didukung rakyat, karena ia berjibaku membangun Jakarta, dan cepat melakukan eksekusi,” paparnya.

                Lantaran dikenal bersikap tegas, apalagi Heben Heser saat berkampanye berani mengkritisi penyakit sosial, seperti perjudian, dan peredaran narkoba di tengah masyarakat Karo, ia sempat disebut-sebut Ahok-nya Tanah Karo. “Saya tahu ada yang tidak suka kepada saya karena saya tegas bicara perjudian agar diberantas aparat, namun kalau bangsa ini ingin hidup sejahtera, maka perjudian harus diberantas. Peredaran narkoba pun harus dilawan, karena itu bisa menimbulkan penyakit HIV/AIDS dan pergaulan bebas,” pungkas mantan Ketua Badan Koordinasi Mahasiswa Karo se-Bandung Raya ini.

                Menurut Heben Heser, kalau masyarakat ingin memilih pemimpin yang baik, maka jangan pragmatisme di dalam memilih pemimpin, tapi mesti rasional. “Saat saya tampil di Pilkada 2015 Tanah Karo saya tidak mau memberikan uang atau apapun yang sifatnya sesaat. Namun saya memberikan komitmen saya, bahwa jika kelak terpilih maka saya akan memakai APBD yang jumlahnya besar itu untuk kesejahteraan masyarakat. Ketika saya tampil jadi calon bupati rakyat yang mendukung saya itu memang hanya 6.000 orang, dan pemenang mendapat suara 40.000 orang. Namun saya bangga, karena pemilih saya bukan orang yang diberi sesuatu supaya memilih saya,” tegasnya.

                Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Sipil Politehnik ITB ini menambahkan, dari pengalaman di pilkada itu ia mendapat banyak pelajaran berharga, terutama dalam menghadapi kerasnya pertarungan politik. “Sebagai pengikut Kristus saya mengimani bahwa lewat pilkada itu saya dilatih, dan saya banyak belajar untuk mempersiapkan diri agar bisa bermanfaat bagi banyak orang. Saya bersyukur, karena ada banyak relawan yang membantu saya. Dan saya juga merasakan ada tempaan Tuhan di situ agar saya lebih sabar dan rendah hati. Dari pilkada itu juga saya dapat petik pelajaran bahwa kalau sebuah daerah ingin maju, maka pemimpinnya jangan sampai dibebani utang. Jangan sampai ada kekuatan tertentu yang bisa menyetirnya atau itu menjadi bebannya ketika dia sudah menjabat. Ada calon kepala daerah saat dia menang hanya habis dana Rp 700 juta, dan saat dia berhasil menang tak ada beban kepada orang-orang tertentu,” terangnya.

Heben Heser Ginting, Amd., S.E. bersama keluarga tercinta.

 

                Saat ditanyakan Majalah NARWASTU, apa masih ingin terjun ke dunia politik, misalnya tampil sebagai caleg? Heben Heser menjawab, aktif di dunia politik kita mesti siap secara mental dan finansial. “Kalau saya lebih cenderung memilih tampil di calon kepala daerah daripada calon legislatif (caleg). Karena kalau jadi caleg saat dia tampil sebagai anggota dewan, maka ia tak bisa tampil maksimal atau idealis, karena sifatnya kolegial. Makanya ada banyak anggota dewan yang idealis dijauhi teman-teman separtainya,” ujarnya.

                Namun, kalau kita tampil sebagai kepala daerah, katanya, bisa lebih maksimal membuat kebijakan yang sifatnya pro pada kepentingan rakyat. “Seperti Ahok, dulu latar belakangnya pengusaha, dan saya pun berlatar belakang bisnis, kalau hanya dana yang dimiliki pengusaha dipakai untuk mensejahterakan rakyat, maka sangat terbatas dan tak mungkin. Namun kalau dana APBD itu yang dipakai untuk mensejahterakan rakyat, itu luar biasa besar manfaatnya,” papar Ketua Warga Munthe asal kampung Munthe (Tanah Karo) di DKI Jakarta dan sekitarnya ini.

                Menurut Heben Heser, dalam hidup ini kita sebagai orang Kristen tak bisa hanya memikirkan keluarga sendiri, tapi kita harus berupaya menjadi berkat atau memikirkan sesama. “Seperti Ahok di DKI Jakarta, dia memikirkan rakyat, sehingga banyak yang mendukung dia, sekalipun tantangan yang dihadapinya juga luar biasa berat. Dan bangsa ini membutuhkan Ahok-Ahok,” papar Ketua Yayasan Rajutan Kasih Abadi yang aktif memberi bantuan bagi korban bencana alam Gunung Sinabung dan aktif dalam sosial kemasyarakatan ini.

                Ayah tiga anak, Samuel Henjapase Ginting, Teona Larisa Ginting dan Albert Keane Ginting ini menerangkan, dalam hidup ini obsesinya hanya satu, yakni agar hidupnya bisa bermakna bagi sesama. “Dalam hidup ini kita tak bisa egois atau hanya memikirkan diri sendiri,” pungkas Ketua Panitia Natal 2014 Jemaat GBKP Jakarta Pusat yang sudah membangun sebuah balai pertemuan di kampung halamannya, yang bisa menampung 2.000 orang itu.

                Dalam perjalanan hidupnya, Heben Heser yang semasa kanak-kanak pernah menjadi gembala kambing di kampung halamannya, sudah dididik orangtuanya dengan nilai-nilai Kristen, kejujuran, disiplin, nilai-nilai juang dan agar peduli kepada sesama. Saat ia mahasiswa di Bandung ia pernah menjadi sopir angkot untuk menambahi uang kuliahnya. Banyak pengalaman hidup yang dialaminya, dan itu katanya, semakin membuatnya arif dalam menyikapi tantangan kehidupan ini.

                Heben Heser yang mengimani bahwa Tuhan tak sekalipun meninggalkan umatNya, dan punya lagu rohani favorit Ku Kan Terbang Tinggi ini, menerangkan, dalam hidup ini pasti tantangan hidup itu akan selalu hadir di dalam perjalanan kita. “Ketika tantangan atau kesulitan itu hadir, maka hadapilah, dan berserahlah lewat doa, maka Tuhan akan memberikan jalan keluar. Banyak mukjizat saya rasakan di dalam hidup ini. Kadang secara logika kita berpikir, masalah itu tak akan bisa lagi selesai, namun mukjizat Tuhan terjadi, karena Dia peduli kepada kita,” papar pria yang pernah ditipu kolega bisnisnya dengan jumlah dana besar, namun ia tetap mensyukuri segala keabaikan Tuhan di dalam hidupnya. KT

Berita Terkait