Drs. S. Leo Batubara
Tokoh Pers yang Peduli Persoalan Masyarakat

447 dibaca
Drs. S. Leo Batubara

Beritanarwastu.com. Mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini, baru-baru ini mengatakan, forum diskusi seperti FDDI (Forum Diskusi Daniel Indonesia) yang diasuh oleh Penasihat/Pimpinan Majalah NARWASTU serta sejumlah tokoh Kristiani itu sangat penting perannya kalau terus diberdayakan untuk membina kaum muda Kristiani agar belajar dari para orangtua atau senior. FDDI banyak mendiskusikan persoalan sosial, politik, hukum, kemasyarakatan dan gereja, sehingga forum seperti itu amat dibutuhkan, apalagi melibatkan anak-anak muda. Tokoh pers nasional, Drs. Sabam Leo Batubara itu menyampaikan itu, karena ia dulu merupakan peserta aktif di FDDI.

Menurut Leo, keberadaan FDDI menjadi penting dan menarik, karena semua peserta diskusi yang berasal dari berbagai latar belakang profesi bisa menyampaikan pendapat yang konstruktif dengan argumentasi yang logis. Menurut wartawan senior yang giat menulis masalah sosial politik, pers dan kemasyarakatan di media massa nasional itu, ia tak bisa melupakan kehadiran Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok pada awal 2011 lalu di acara FDDI sebagai narasumber. Tak lama setelah itu, Ahok naik jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, dan kini sudah jadi Gubernur DKI Jakarta yang jadi sorotan media nasional, karena ketegasannya.

“Kalau kita berdiskusi di FDDI, kebenaran itu tidak dimonopoli, karena peserta diskusi diberi kesempatan untuk berbicara sesuai dengan topik. Dan itu cukup bagus dan menambah wawasan peserta. Dan jarang seperti itu berdiskusi. Karena itu, saya terkesan dengan diskusi seperti ini, jadi perlu diteruskan lagi FDDI itu. Dan sudah lama saya tidak tahu lagi soal keberadaan FDDI ini. Kita juga perlu kembali bertukar informasi lewat wadah seperti FDDI ini,” ujar mantan pimpinan harian Suara Karya yang kini aktif pula di bidang pengkajian Dewan Pers.

Sekadar tahu, Sabam Leo Batubara, yang akrab disapa Pak Leo, selama ini dikenal figur yang tegas dan gamblang dalam menyampaikan pendapat. Di FDDI putra Batak ini sudah beberapa kali diundang sebagai nara sumber untuk berbicara tentang kondisi Indonesia terkini dari sisi pers. Pendapatnya sering dijadikan rujukan oleh sejumlah kalangan, termasuk wartawan, lantaran ia memang dulu punya latar belakang intelijen, yang tahu banyak tentang kondisi dan persoalan negeri ini.

Dalam sebuah diskusi FDDI tentang warga gereja dalam menyikapi kondisi Indonesia terkini di Gedung Wisma Arion, Rawamangun, Jakarta Timur, Sabam Leo Batubara menyampaikan, bahwa ia tidak khawatir dengan ideologi bangsa ini yang sudah berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI akan diubah oleh sekelompok anak negeri ini. Soalnya, kata Leo, NU dan Muhammadiyah sudah menyatakan bahwa ideologi negara ini sudah final. Juga pelaku-pelaku terorisme ditangkapi. “Jadi saya masih bisa tidur nyenyak atas keadaan bangsa ini,” pungkas Leo.

Mengenai maraknya penutupan sejumlah gedung gereja di sejumlah daerah di Indonesia, imbuh Leo, jangan-jangan ini dibiarkan Tuhan Yesus agar kita bersatu dan jangan hanya enak-enak saja. Justru, menurut Leo, tantangan terbesar umat Kristiani di Indonesia sekarang adalah menyikapi degradasi moral di sejumlah basis Kristen, seperti Tapanuli, Tana Toraja, NTT (Nusa Tenggara Timur) dan Papua. “Orang-orang Kristen selama ini sangat memahami hidup rukun dan gotong royong, namun saat ada pilkada ribut dan berkelahi. Calon di pilkada yang koruptor, karena semarga dengan mereka, didukung. Jadi benar-benar menambah masalah,” paparnya.

Tak hanya itu, Leo mengatakan, ia prihatin karena ada juga orang-orang Kristen yang terjerumus pada masalah korupsi, pengedar barang haram (ganja atau narkoba) dan penjaja seks (gigolo) di Bali. Hanya saja, Leo menegaskan, meskipun kita sekarang mengalami kesulitan di tengah bangsa ini, kita harus tetap melakukan yang terbaik. Menurutnya, di mana ada kesulitan, tantangan atau penderitaan, di situlah kita sebagai umat Kristiani harus menabur kebaikan dan kasih.      

              Selain itu, oleh PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia) pada akhir 2011 lalu ia pernah diundang sebagai nara sumber bersama Brigjen TNI Harsanto Adi S., M.M. (saat itu: Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI), Dr. Victor Silaen (almarhum) (Pemimpin Redaksi tabloid Reformata) dan moderator Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU) di Gedung LPMI, Jakarta, dan saat itu berbicara mengenai pers dalam perannya ikut serta membangun bangsa dan masyarakat. Ketika itu, Leo Batubara menegaskan, pers sangat penting perannya di dalam mendidik masyarakat, serta mengontrol kekuasaan agar tidak korup dan menyelewengkan kekuasaannya.

Leo Batubara berpendapat, di era reformasi ini media Kristen harus terus berupaya menjadi terang, karena wartawan adalah pejuang. “Tugas media Kristen adalah memberi pencerahan dan mengamalkan sila-sila Pancasila. Wartawan Kristen pun harus taat kode etik, karena sekarang banyak wartawan yang tidak tahu akan kode etik profesinya,” ujarnya. Leo menyampaikan, meskipun elite di negeri ini belum sepenuhnya menghargai kebebasan pers, tapi wartawan harus terus berjuang dengan menampilkan berita yang berkualitas.

               Di mana ada kesulitan, kata Leo, di situ wartawan Kristen harus hadir menabur kasih sayang. Katanya lagi, sebagai tokoh pers Indonesia Muchtar Lubis mengatakan, masalah korupsi, kekerasan, feodalisme dan kemunafikan harus bisa dibongkar oleh pers. “Media akan hidup kalau ia dipercaya rakyat dan berkualitas. Media tak tergantung kepada dana konglomerat. Sehingga media harus unggul, menarik dan berkualitas,” ucap Leo Batubara dengan dialeg Bataknya yang khas. Dia pun mengkritik banyaknya kini wartawan abal-abal yang tidak tahu kode etik wartawan yang kerjanya hanya memeras atau menakuti-nakuti pengusaha, pejabat pemerintah dan politisi bermasalah.

Berita Terkait