Pdt. DR. Nus Reimas.
Tuhan Memberikan yang Terbaik Sekalipun Kita Berdosa

717 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas.

Beritanarwastu.com. Ada sikap individualistis, materialis dan konsumerisme di dalam kehidupan banyak orang saat ini. Di era industrialisasi modern ini, seseorang sering diukur dari berapa banyak harta atau kekayaan yang dimilikinya. Seseorang tidak dinilai lagi karena perilaku atau moralnya. Di Eropa sekarang banyak gereja yang kosong setiap Minggu, karena banyak orang memikirkan dirinya sendiri, bukan lagi memikirkan persekutuan dengan sesama orang beriman. Semua itu diakibatkan, karena kasih sudah semakin menipis dari hati banyak orang.

Demikian diungkapkan Pdt. DR. Nus Reimas saat menyampaikan Firman Tuhan di Gereja Isa Almasih (GIA) Taman Harapan Baru, Kota Bekasi, Jawa Barat, baru-baru ini dengan tema “Mengasihi dan Memberi.” “Sekarang banyak terjadi ketidakadilan. Orang tidak lagi mementingkan kasih. Ada orang yang merampok, ada orang yang membunuh dan ada orang yang saling membenci, itu karena makin tawarnya kasih. Ada orang yang setiap hari Minggu mengatakan, haleluyah di gereja, namun kita lihat dia ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) karena korupsi,” tegas Ketua Dewan Pembina LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia) ini.

Di pihak lain, ada konflik antara KPK versus Polri, dan ada upaya saling menjegal dan menjatuhkan. Itu juga karena kehilangan kasih dan damai dari hatinya. “Allah menciptakan kita segambar dengan diriNya, sehingga yang ada di dalam diri kita adalah Roh Allah. Allah itu kasih, sehingga umat ciptaanNya pun harus saling mengasihi. Saat manusia jatuh ke dalam dosa, Allah yang penuh kasih itu yang datang kepada Adam dan Hawa. Sampai pada puncaknya Allah memberikan yang terbaik, yaitu PutraNya yang Tunggal kepada manusia yang berdosa, itu karena kasihNya. Kasih itu memberi, bukan menerima,” ujar Pdt. Nus Reimas.

Kasih itu, katanya, tidak akan berkesudahan dan akan tetap kekal. Ilmu pengetahuan atau segala kecanggihan di dunia ini bisa lenyap, namun kasih Allah akan terus dinyatakan kepada manusia yang dikasihiNya. Dari iman, pengharapan dan kasih, kasih itu yang terbesar. “Ketika kita bangun pagi, lalu menghirup udara segar, itu berasal dari Allah dan diberikan kepada kita dengan cuma-cuma. Apa kita pernah membayar udara yang kita hirup setiap hari itu? Jadi kasih Allah itu sangat besar kepada kita,” terang pemuka lintas agama ini.

Kasih menjadi tawar atau dingin, karena kejahatan manusia. “Kasih di akhir zaman ini semakin menipis, karena kurang dekat kepada Sang Sumber Kasih Tuhan Yesus. Ada orang yang menyebarkan narkoba, orang nekat korupsi, ISIS nekat membunuh orang-orang tak berdosa dengan senapan mesin, ada ibu yang nekat membunuh anaknya, serta ada orangtua yang berselingkuh, itu karena kasih semakin tawar. Sebabnya, kita harus mengedepankan kasih di dalam kehidupan kita, agar kita mampu terus menghadirkan kasih Allah kepada sesama,” cetusnya.

“Pada Januari 2015 lalu, saya sudah 42 tahun melayani di LPMI karena anugerah Tuhan. Saya terus berjalan melayani, padahal saya tidak digaji, namun luar biasa penyertaan Tuhan di dalam kehidupan kami. Ketika kita memikirkan banyak orang, maka Allah yang akan memikirkan kebutuhan dan persoalan hidup kita. Dia memberikan jauh dari apa yang kita pikirkan. Allah adalah Allah yang selalu memberi. KasihNya sempurna. Kita sangat dikasihi Allah sekalipun kita berdosa, itulah yang disebut anugerah,” terangnya.

Allah itu, katanya, seperti bapak yang pernah kehilangan anaknya yang hilang. Meskipun anaknya nakal, namun ia kembali menerima kehadiran anaknya saat kembali. “Maria yang melahirkan Yesus adalah orang yang sangat mengasihi Tuhan, karena dia luar biasa, mau memberikan kandungannya untuk Tuhan. Dari kandungannyalah lahir Yesus Sang Juruselamat. Simon orang Kirene, juga orang yang sangat mengasihi Yesus. Ia memberikan kuburan buat Yesus pada saat yang tepat. Ester juga mempertaruhkan nyawanya, karena ia mengasihi Tuhan,” terang tokoh lintas agama dan Pembina/Penasihat majalah NARWASTU ini. TK

Berita Terkait