Pdt. Dr. Djoys Karundeng-Rantung
Ucapan Syukur dan Sosialisasi Pendidikan Perdamaian

683 dibaca
Pdt. Dr. Djoys Karundeng-Rantung bersama keluarga tercinta.

        Bulan Mei 2016, menjadi bulan yang memiliki banyak makna bagi keluarga Pdt. Dr. Djoys Karundeng-Rantung. Sebab di bulan ini ada banyak berkat yang ia bersama keluarga terima. Dan wujud syukurnya dituangkan dalam bentuk perayaan sederhana di kediamannya di Jakarta yang dihadiri para saudara dan koleganya.

Rasa syukur dirasakan, karena di bulan Mei 2016 itu, Pdt Dr. Djoys Rantung bisa menyelesaikan program doktoral, di mana ujian disertasinya bisa berjalan dengan baik dan memperoleh nilai sangat memuaskan. Demikian juga di bulan ini merupakan perayaan hari ulang tahun pernikahan ke-19 bersama Kenny Ever Karundeng. Berbarengan dengan itu, sang putri tercinta Nathasya Grace Karundeng baru saja menyelesaikan pendidikan sidi di Gereja GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) Trinitas dan berhasil menamatkan pendidikan menengah atas untuk selanjutnya meneruskan kuliah di Negeri Sakura (Jepang).

Ungkapan syukur yang demikian dalam begitu membuncah dalam sanubari Pdt Djoys. Tak heran, binar-binar sukacita tergurat di raut wajah mereka sekeluarga. “Semua ini hanya karena kasih anugerah Tuhan,” ujar Pdt Djoys singkat ketika ditemui di kediamannya yang asri di bilangan Cibubur, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

 

Pendidikan perdamaian

Setelah menempuh pendidikan doktoral sekian lama, akhirnya Pdt Djoys mampu menuntaskannya dengan disertasi yang bertajuk Resolusi Konflik Dalam Organisasi Suatu Tinjauan Pendidikan Perdamaian Terhadap Kasus Konflik UKIT.

Sangat menarik menelisik judul disertasi wanita cantik kelahiran Manado, 18 Januari 1967 yang saat ini melayani di GPIB Trinitas Kota Wisata dan sebagai Pendeta GMIM di wilayah Gereja Protestan di Indonesia (GPI) ini. Tak heran, banyak pihak meminta dirinya sebagai pembicara dalam seminar atau diskusi, utamanya soal pendidikan perdamaian. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, di lembaga gerejawi sekalipun, konflik kerap terjadi. Bahkan, konflik yang muncul terkadang berujung pada pemisahan sekelompok orang untuk selanjutnya mendirikan sinode atau lembaga baru.

Hal ini jugalah yang ternyata melahirkan keprihatinan mendalam bagi Pdt Dr. Djoys Karundeng. Oleh karena itu, salah satu solusi yang ia tawarkan adalah pendidikan perdamaian, bukan saja sebagai solusi mengentaskan konflik yang terjadi, tapi juga merupakan upaya preventif yang bisa dikembangkan gereja dan lembaga Kristiani dalam upaya meminimalisir kemungkinan terbukanya ruang konflik.

 

Hadapi MEA

Tidak itu saja, era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) juga membutuhkan pendidikan perdamaian. Sebab, di tengah persaingan yang terbuka, utamanya soal ekonomi, bisa berpotensi konflik karena gesekan yang terjadi tentu semakin tajam. “Itu harus disikapi dengan pengembangan pendidikan perdamaian di semua lini kehidupan,” tambah ibunda dari Nathasya Grace Etsuko Karundeng dan Davis Kennedy Karundeng ini.

Karena itu, bagi Pdt. Dr. Djoys Rantung, sosialisasi pendidikan perdamaian menjadi sebuah upaya preventif yang sudah harus mulai dilakukan. Dan, itu sejatinya dimulai di level pribadi dan keluarga.  “Dengan memiliki rasa damai pribadi, maka itu bisa ditularkan kepada keluarga, lingkungan, dan alam sekitar. Konsep damai adalah berdamai dengan Tuhan, diri pribadi, dan ciptaan Tuhan lainnya,” terang Pdt Djoys.  Memiliki damai secara pribadi akan mendorong terciptanya kedamaian dalam lingkup yang lebih luas. Pdt. Djoys berpesan, milikilah damai di hati sehingga damai jugalah hidup ini. RN

Berita Terkait