Teror Bom di Gereja Katolik di Medan:
Waspada dan Doakan Negeri ini agar Dilindungi Tuhan

654 dibaca


beritanarwastu.com. Sumatera Utara (Sumut) dalam sebulan terakhir ini selalu menjadi berita di berbagai media nasional dan media sosial (medsos). Sebelumnya telah terjadi aksi demonstrasi oleh sebuah ormas yang melarang daging babi panggang BPK agar tidak dijajakan di warung-warung makan di Kabupaten Deli Serdang, lalu terjadi pula pembakaran 8 vihara dan kelenteng di Tanjung Balai oleh sekelompok massa.

Kemudian pada Minggu pagi, 28 Agustus 2016 kemarin, kembali publik dikejutkan dengan teror bom di sebuah gereja Katolik saat berlangsung kebaktian. Saat itu, seorang pemuda berusia 18 tahun, Ivan Armadi Hasugian, memasuki Gereja Santo Yosef, Jalan Dr. Mansur, Medan, dengan membawa sebuah tas ransel. Ternyata ransel itu berisi bom dan benda-benda tajam. Saat itu sedang berlangsung kebaktian (misa) yang dipimpin pastur Pandiangan.

Lantaran Ivan Hasugian terlihat agresif untuk menyerang pastur, akhirnya pastur berlari menghindarinya. Melihat kejadian itu, anggota jemaat pun spontan mengejar Ivan, lalu mengamankannya dengan melaporkan ke petugas kepolisian setempat. Bom sempat meledak mengenai tubuh Ivan, namun anggota jemaat tak ada yang menjadi korban serpihan bom tersebut.  Hanya Ivan yang terkena ledakan bom tersebut. Diprediksi, Ivan tadinya akan melakukan aksi bunuh diri, seperti yang pernah terjadi di Jalan Sarinah Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016 lalu.

Banyak anggota jemaat dan Hamba Tuhan yang mengimani bahwa pasukan malaikat Tuhan memagari jemaat dan pastur yang memimpin ibadah di Gereja Santo Yosef. Sehingga bom yang membahayakan keselamatan jiwa jemaat tidak sampai meledak. Aksi teror bom yang dilakukan Ivan ini masih diselidiki aparat Polda Sumatera Utara. Dan aparat pun sudah dengan sigap berjaga-jaga di sejumlah gereja di Tanah Air agar tetap aman dan tidak menjadi korban teroris berikutnya.

Dengan munculnya aksi teror bom di Medan ini, kita kembali diingatkan dengan teror bom di malam Natal pada 24 Desember 2000 silam. Saat itu lebih dari 30-an gereja mendapat teror bom di Tanah Air. Dan saat itu, Pemerintah Pusat yang dipimpin Presiden Gus Dur (alm.) dengan tegas memerintahkan aparat agar menindak setiap pelaku teror. Dan sekarang kembali pemerintah diminta agar berjaga-jaga di setiap tempat ibadah (gedung gereja) agar jangan sampai menjadi sasaran teroris.

Di pihak lain, para pimpinan gereja banyak yang meminta anggota jemaat agar selalu waspada dan makin tekun berdoa untuk negeri tercinta ini agar jangan menjadi sasaran teroris. Dan ada imbauan kepada para pimpinan gereja dan anggota jemaat agar sungguh-sungguh memperhatikan setiap orang yang mencurigakan yang datang ke tempat ibadah. Apalagi kalau bawa ransel, agar orang tersebut diperiksa tasnya. Kalau ada yang mencurigakan supaya segera dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

Sekadar tahu, pada tahun 2000 silam, saat terjadi teror bom Natal di sebuah gereja GKPS di Pematang Siantar, Sumut, bom yang dibawa pelaku tidak sempat meledak. Soalnya, ada jemaat yang segera menemukan dan mengamankan bom itu. Andai saja bom tersebut meledak, bisa jadi ratusan jemaat akan menjadi korban. Lalu pada tahun 2001 di GPIB Petra, Tanjung Priuk, Jakarta, pernah pula teroris masuk ke gedung gereja saat ibadah, namun pelakunya ditangkap jemaat, lalu diserahkan ke polisi, dan tak ada korban jiwa. Dari kedua aksi teror bom itu kita imani bahwa tangan Tuhan bekerja untuk melindungi umatNya. TS

Berita Terkait