Yayasan Suluh Insan Lestari Peduli Pelayanan Tuna Rungu

1250 dibaca
Pdm. Edik Widodo.

   Beritanarwastu.com. Direktur Yayasan Suluh Insan Lestari, Veni Setiawati M.M. yang ditemui NARWASTU pada Kamis, 19 Januari 2017 di Wisma PGI Menteng, Jakarta Pusat, menerangkan yayasan yang dipimpinnya bergerak untuk mengembangkan komunitas bahasa dan budaya guna melayani para tuna rungu. Karena orang tuli atau tuna rungu tidak mendapatkan akses Alkitab. Kalaupun mereka beribadah ke gereja para tuna rungu ini tidak bisa mendengar apa yang disampaikan pendeta.

Dan menurut Veni, ada beberapa gereja di Jakarta yang melayani kebaktian tuna rungu. Pendetanya juga tuna rungu, dan jemaatnya pun tuna rungu. Salah satu gereja yang melayani tuna rungu, yaitu Gereja GBI (Gereja Bethel Indonesia) Sungai Yordan di daerah Roxi Mas, Jakarta. Menurut Veni, GBI Sungai Yordan mengawali pelayanan ini untuk menerjemahkan Alkitab dengan bahasa isyarat. Dan pelayanan ini baru berjalan dua tahun. Menurutnya, melayani tuna rungu ini harus pelan-pelan. Di pertemuan yang diadakan Yayasan Suluh Insan Lestari baru-baru ini, ada beberapa komunitas Kristen dan Katolik tuna rungu di Indonesia. “Ada dari Sumatera dan Jawa. Mereka dikumpulkan lewat persekutuan ini melalui komunitas mereka,” katanya.

 

  

 

Yayasan Suluh Insan Lestari kini beralamat di Jakarta, dan menyediakan fasilitas untuk tuna rungu guna menceritakan kisah di Alkitab dengan bahasa isyarat. Sekarang ada 15 orang tuna rungu dilayani, dan menurut Veni, tidak semua cerita di Alkitab ada di bahasa daerah, apalagi dalam bahasa isyarat. Contohnya, di ayat: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu. Itu bagaimana terjemahannya. Ada kata yang belum ada di dalam bahasa isyarat dan harus diciptakan dulu. “Nah, di sini kesulitannya. Sekarang sudah ada 15 cerita Alkitab dalam bahasa isyarat, dan acara ini diadakan untuk mengundang para tuna rungu untuk melihat apa mereka mengerti cerita di Alkitab. Para tuna rungu ini harus mengulang cerita di Alkitab, serta melakukan penginjilan melalui cerita ini,” tukasnya.

Harapan Veni dengan diadakan Seminar CD Cerita Wow (Word of Wisdom) yang diadakan tiga hari di Jakarta ini, supaya pelayanan ini diketahui oleh para tuna rungu di setiap daerah. Karena pelayanan ini belum banyak diketahui orang. Dan juga supaya ada gereja yang mendukung pelayanan ini, sehingga mau melayani tuna rungu. Karena tidak semua gereja di daerah melayani tuna rungu. Biasanya kalau di daerah, pelayanan tuna rungu hanya berbentuk persekutuan. Jadi, imbuhnya, pelayanan di Yayasan Suluh Insan Lestari, untuk menyediakan alat untuk para tuna rungu supaya mereka dapat akses ke Firman Tuhan. 
  
            Sementara Pdm. Edik Widodo dari GBI Sungai Yordan dan penterjemah bahasa isyarat, menerangkan, para tuna rungu ini sudah sejak 1999 bergabung di GBI Sungai Yordan dan menjadi bagian dari gereja ini. GBI Sungai Yordan pun menyediakan fasilitas untuk mereka. Juga diadakan ibadah setiap Minggu yang dimulai pukul 09.30 sampai 11.30 WIB.

 Para tuna rungu yang dilayani di GBI Sungai Yordan, ujar Edik, ada sekitar 15 sampai 30 orang. Dan suka dukanya dalam pelayanan ini, menurut Edik, yaitu para tuna rungu kalau salah berkomunikasi dan kalau ada masalah lama untuk menyelesaikannya. Karena bagi tuna rungu ini, mereka mendengar dengan mata. Kalau mereka sudah tak menyukai seseorang, mereka tidak mau melihat orang itu. Nah, bagaimana mau menyelesaikan masalahnya.

Masalah serius bagi para tuna rungu adalah masalah komunikasi. Dan masalah yang timbul kebanyakan karena salah paham. Mereka umumnya mudah tersinggung. Kadang salah berbicara sehingga salah paham, dan salah menanggapi, apalagi yang tidak mengerti bahasa isyarat. Memang komunikasi harus total dengan isyarat juga.

Menurut Edik, di pelayanan ini yang menarik, para tuna rungu sebenarnya sama dengan orang normal,  bedanya mereka ada hambatan komunikasi. Dan menurut Edik, harus ada sesuatu yang dibuat untuk negeri ini, salah satunya mencerdaskan para tuna rungu lewat bahasa isyarat. “Puji Tuhan, kalau saya dipercaya menjadi penerjemah tuna rungu. Dan ada informasi-informasi yang mereka suka dan butuhkan, karena tuna rungu ini rata-rata berpendidikan terbatas. Ada lulusan SD, SMP dan jarang lulusan SMA,” tandasnya. Syarat untuk bergabung di sini mudah, silakan bergabung di kebaktian tuna rungu pada hari Minggu, yang dimulai pukul 09.30 WIB di Gereja GBI Sungai Yordan, Roxy Mas, Jakarta. JK

Berita Terkait